Selasa, 10 Juli 2012

Ku Relakan Bahagia ku Demi Sahabat Ku Pagi itu, aku terbangun dengan mata yang sembab dan membengkak. Semalam aku menangis di kamar sampai ketiduran. Entah berapa lama aku berderai air mata. Yah, aku baru saja mengalami kejadian yang membuat aku begit u sakit. Seorang cowok yang tanpa sengaja masuk dalam kehidupanku kini malah menghancurkan semuanya...... Aku mengenal Dimas dari Santi,teman dekatku. Kebetulan tiap malem Dimas latihan silat di samping ponpes tempat ku mengaji kala malam hari. Awalnya aku biasa aja dengan kehadirannya. Ga ngefek sama sekali. Tapi hari-hari berikutnya Dimas memulai kedekatan kami dengan sekedar menitip salam padaku. Ga ada yang spesial memang. Tapi hari-hari ku kini mulai terasa indah dengan keberadaanya. Hanya saja kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Disaat aku mulai menyukainya, tak ku sangka Dimas malah nembak Santi. Aku bener-bener ga tau harus berbuat apa. Tentu saja aku tak bisa menyalahkannya karna ini memang hak mereka. Aku mencoba  ikhlas dengan hubungan mereka. Aku berusaha tegar dan mendukung hubungan mereka meski sebenarnya hati ku begitu sakit. Itu semua aku lakukan karna aku masih menghargai Santi sebagai shbat ku. Aku memilih mengalah daripada harus kehilangan sahabat ku hanya karna seorang cowok. Meski hati kecil ku masih tetap mengharapkan Dimas. Meski pacaran ama Santi,tapi nyatanya tetep aja Dimas ga pernah absent menghubungi ku. Entah sms atau pun telpon. Aku bingung harus bersikap gimana. Karna rasa ikhlas ku lah yang kini menuntunku untuk tetap berhubungan dengan dimas. Jujur saat itu aku benar-benar  telah merelakan Dimas. Jadi apa salahnya jika aku menerima telpon dan smsnya. Sayangnya pikiranku masih terlalu cetek untuk menyikapi hal itu.  Tentu saja kedekatanku dengan Dimas yang telah ku anggap “teman” itu membuat Santi cemburu. Ia mengira Dimas selingkuh. Dan aku lah selingkuhannya! Kini antara Aku dan Santi serasa ada pemisah yang membuat kami tak lagi bisa seakrab dulu. Ada rasa canggung saat kami ngobrol,seperti orang yang baru kenal. Hampir  2 tahun lamanya aku tak pernah bertemu lagi dengan Dimas sejak saat itu. Ia tak pernah lagi menghubungiku,atapun Santi. Dimas seperti menghilang di telan bumi. Akupun perlahan bisa menghapusnya dari ingatan ku dan Santi juga telah kembali seperti sedia kala,meski sekarang ia agak tertutup soal cowok. Kini hari-hari ku semakin berwarna setelah berhasil lolos seleksi dan masuk di SMK favorit di kota ku. Yah,menjadi anak baru tentunya bukan hal yang gampang. Karna aku termasuk anak yang sulit beradaptasi. Aku terlalu cuek dengan apa yang ada di sekitar ku. Namun kini aku telah memiliki beberapa teman akrab. Tapi hanya satu yang kurasa telah benar-benar akrab. Namanya Putri. Dia temen sebangku ku. Anak nya cukup asyik, meski terkadang ada saat-saat dimana  aku merasa muak padannya. Ada bberapa sifatnya yang tak ku suka. Dia terlalu pede dan kalo ngomong ato ngpapa’’in asal jeplak aja!uukh..yang paling bikin aku sebel saat bersamanya, ngeliat cowok ganteng dikit aja langsung dah tuh kaya ikan kena pancingan. Klepek-klepek ga jelas! Mending kalo di niatinama satu cowok. Nah ini.. tiap ada cowok selaluu aja tingkahnya gtu. Bikin aku tambah mual. Tapi mo diapain juga dia tetep temen terbaik ku(untuk saat ini). Entah mimpi apa yang ku dapat semalem, pagi itu aku shock setengah mati denger cerita putri soal cowok barunya. Cowok itu... Dimas!! Dimas yang ku kenal bberpa tahun lalu. Yang telah hilang dari kehidupanku setelah menorehkan luka di hati ku. Aku tak habis pikir! Aku memang telah mengenalkan putri pada temen ku yang posisinya juga sbg temen deketnya Dimas.  Tapi aku ga pernah mikir semua ini bakal salah alamat.  Justru Dimas lah yang kini berpacaran dengan putri. Oh god!! Semoga waktu sedang bercanda..! aku ga mau kejadian itu terulang kembali. Aku takkan sanggup jika harus mengulangnya. Berpura-pura tegar seperti dulu. Aku muak!! Tapi kenyataanya kini,mereka memang pacaran. Tak ada yang bisa ku lakukan selain merelakan mereka. Sama seperti yang ku lakukan dulu. DEMI SAHABAT,!!  T,T BY.M GALIH SATOTO
Semua Belum Berakhir Untuk semua laki-laki yang telah menyandang gelar Ayah, “Kaulah Pahlawan bagi kami, anak-anakmu. Dan kami menyayangimu.” ***** Hari itu adalah jadwal kepulangan bagi kami, santri yang berdomisili di Asrama. Semua menyambut dengan tingginya antusiasme. Tak terkecuali aku, pagi ini aku harus merapikan barang-barang yang akan aku bawa pulang. Pukul 9 pagi, kelas telah selesai dan mengijinkan bagi santri untuk pulang. “Tak seperti biasanya, kami diijinkan pulang sebelum dzuhur”, pikirku dalam hati. Namun, aku lebih memilih berdiam sementara sambil menunggu Ayahku datang menjemputku. Pikiranku terpelanting menuju sebuah objek yang kini tinggal jauh di sana. Ya, akhir-akhir ini aku sering terpikir akan objek itu. Dan berharap, saat kepulangan ini, aku dapat hadir di tempatnya. Beliaulah Kakekku. Satu-satunya Kakek yang aku temui hingga aku hampir berada di usia 17 tahun. Beliaulah yang mewariskan dan menguatkan aku untuk belajar di sebuah Lembaga Islam, Pondok Pesantren. Akulah satu-satunya cucu yang mengais ilmu di tempat semacam ini. Sekitar pukul 11, Ayahku telah datang untuk menjemputku pulang. Namun, aku ingin berjalan-jalan sebentar sebelum pulang untuk sedikit melepas penat. Ayahku pun setuju. “Pak, HP-ku mana?, tanyaku. Ayahku merogoh sak jaketnya dan memberikan benda mungil itu padaku. “Ini.”, jawabnya. Aku menyaut dan membukanya. Satu pesan diterima dan satu panggilan tak terjawab. Rupanya ada telepon dari Tanteku. Aku sedikit bertanya-tanya, “Numben Tante telepon?”. Lalu kubuka pesan, ternyata dari Ibu. De, mbah sedo tadi jam 11. Cepet pulang. Aku heran dan kaget bukan main. Bahkan sedikit merasa bagai orang ling-lung. Bingung. Tanpa pikir panjang, aku segera memberitahukan kepada Ayah. “Pak, Ibu SMS. Katanya, Mbah sedo jam 11 tadi.”, ucapku dengan masih memasang wajah kebingungan. “Innalillahi wa inna ilayhi roji’un. Padahal tadi Bapak tinggak nggak apa-apa loh!”, jawab Ayah. Aku makin bingung, “Memangnya Mbah siapa sih?”, tanyaku. “Mbah… ya, Mbahmu lah, De.”, jawab Ayah dengan nada yang sedikit tinggi. Matakupun terbelalak, kaget. Mungkin harapanku benar-benar akan terlaksana. Harapanku menemui beliau ditempatnya untuk terakhir kalinya. Bukan unuk melihat senyumnya atau mendengar wejangannya. Akhirnya, aku dan Ayahku pulang. Tak kurasa, airmata menitik membasahi pipi. Aku tiba di rumahku. Sedikit melepas lelah, makan siang dan menunaikan sholat Dzuhur. Semua memang tak pernah aku bayangkan, kehilangan seorang Kakek walaupun aku bukanlah cucu terdekat dengan beliau. Namun, kesedihan telah mengakar dalam hati meski aku belum melihat sosoknya untuk terakhir kali. Hingga, lamunan ini kembali menyerang jalan pikiranku. Tak ayal, buatku tak selera malahap makanan di hadapan mataku. Kenangan masa lalu yang kuingat adalah ketika aku dan Kakakku masih kecil. Kami bertamu ke rumah Kakek bersama Ayah dan Ibu. Ketika sampai di depan rumah, ternyata Kakek juga sedang ada tamu. Mungkin rekannya sewaktu masih dinas dulu. Dengan senyum, Kakek menyambut kami dan langsung menciumku dan Kakakku. Bahkan, mengenalkan pada tamunya yang duduk di kursi sampingnya. “Iki putuku. Sing siji Cina, sing sijine Jepang. Haha…”, ucapnya sambil tertawa renyah. Aku hanya mesam-mesem. Maklum, masih kecil belum tahu apa yang dimaksud Kakek. Ya, yang aku tahu kami berdua memang berkulit putih. Tak heran, Kakek menyebutnya dengan kata Cina dan Jepang. Dan………… pikiranku kembali pada saat ini. Siluet kenangan itu hilang bersama kembalinya sadarku. Kepiluan saat ditinggal orang terkasih memang tak bisa kupungkiri lagi. Tak berapa lama, aku berangkat menuju rumah duka. Ibu dan Kakakku beserta semua saudaraku telah lebih dulu ada di sana. Suasana duka telah kurasakan. Namun, aku tak melihatnya pada raut wajah Ayahku. Beliau tampak begitu tenang dan, mungkin, telah pasrah akan segalanya. Bahkan, pancaran sinar dari matanya masih bisa aku saksikan. Tiba aku di rumah duka. Aku coba tegarkan langkah melewati kerumunan orang yang melayat. Aku meninggalkan Ayahku yang sedang menyalami bapak-bapak yang hadir di situ. Aku langsung memasuki rumah dan aku dapati Ibuku, Tante, Om, Pakde, Bude serta saudara-saudara sepupuku. Mereka tak ada satupun yang tidak menangis. Aku tengok ke kananku. Kakek yang telah berbalut kafan putih dan siap untuk disholati. Aku terus berjalan membaur bersama handai taulan. Ada yang sempat bertanya, “Mba Ade pulang kapan?”, “Pulangnya dijemput Bapak ya?”, Bapak dimana?”. Beragam pertanyaan itu aku jawab dengan jawaban yang semestinya. Lalu, aku langsung menuju tempat dimana Ibuku berdiri, menyalaminya, dan memeluknya. Rasa haru meyusup perlahan, hingga akupun kembali menangis. Aku melihat Kakakku tengah berdiri bersama seorang gadis, saudara sepupuku. Aku menghampiri keduanya. “Pulang kapan, De?”, tanya Kakakku. Aku menengok dan menjawab, “Barusan, habis dzuhur.”. Kakakku hanya mengangguk. “Eh, siapa sing menangi ninggale Mbah?”, tanyaku. “Icha nih!”, jawab kakakku. “Sempat mijetin malah.”, lanjutnya. “Wahh!”, ucapku takjub. Tiba-tiba, aku melihat wanita bercadar masuk dari pintu depan. Menyalamiku dan memelukku sambil menangis. Ya, dia saudara sepupuku juga. Kebetulan dia baru pulang mengajar, maka dia baru bisa hadir. “Aku nggak dikabari.”, ucapnya sambil terus menangis. Aku miris. Tapi, aku bersyukur masih bisa hadir di tempat ini. Karena, ada Om dan sepupuku yang tidak bisa hadir karena sedang berada di luar kota. Pasti mereka sedih sekali. Sekitar pukul setengah 4 sore, jenazah siap dimakamkan setelah disholati. Namun, sebelum berangkat ada sedikit acara atau sebut saja upacara pemberangkatan jenazah. Tak berapa lama, acara tersebut selesai dan siap mengantarkan jenazah ke TPU. Banyak mobil yang mengiringi mobil jenazah Kakek sampai ke pemakaman. Kemudian……………………. Lamunanku terpecah. Aku harus kembali menjemput sadarku. Aku menengok ke samping. Diyah, temanku di pesantren, kini duduk bersamaku. Tampaknya ia tahu aku sedang melamun tadi. “Kenapa. De?”, tanyanya padaku. Aku hanya menggeleng lemah dan kembali menatap buku bacaan yang sedang aku pegang. “Aku cuma inget Mbahku aja. Beliau yang kasih motivasi biar aku betah di sini.”, ucapku sambil terus menerawang jauh ke depan. Seolah aku melihat sebuah objek di sana. Diyah hanya tersenyum. “Mba Aniiiiiiiiiiiiii…………………………”, teriak seorang dengan suara cemprengnya dan berlari menuju ke arah kami. “Iiiiihhhhhhh……”, aku bersungut-sungut. Aku paling tidak suka dipanggil Ani. Memang namaku Ade Irma Suryani. Tapi aku tidak suka bahkan tidak segan-segan aku mendamprat anak yang memanggilku dengan nama Ani. Terlalu feminin. Aku yang sejak kecil memang terlihat tomboy, belum bisa sepenuhnya berubah sikap layaknya perempuan sejati. Tapi tenang, aku normal. Buka pecinta sesama jenis. Ogah lahh yawww…… Anak itu mendekatiku. Dengan setengah terengah, dia mencoba mengatakan sesuatu padaku. Terlalu lama. “Apa sih? Lari-lari nggak jelas!”, ucapku dengan sedikit cemberut. “Nggak apa-apa, Mba. Tadi aku nyariin Mba, malah Mba di sini. Hehe..”, jawabnya sembari duduk di sampingku. “Eh, kamu ngapain manggil aku ‘Mba Ani’? Aku sebel banget kalau dipanggil kayak gitu! Huhh…”, ucapku sambil buang muka. Tiwi, anak yang tadi memanggilku, cemberut. Seperti merasa bersalah. “Afwan ya, Mba. Aku spontan aja tadi. Mba itu emang pantesnya dipanggil Ani. Kalau dipanggil Ade kayak gimana gitu.”, jawabnya dengan penuh keseriusan sambil melambai-lambaikan tangannya layaknya rapper. “Yayaya. Terserah kamu lah.. Cape’ deh!”, ucapku sembari berlalu dari tempat itu. Diyah dan Tiwi bertatapan. Mereka hanya mengedikan bahu kemudian berjalan mengikutiku. ***** Aku berjalan menunduk. Kejadian beberapa bulan lalu membuatku sedikit down, dan tak jarang teman-teman menjumpaiku dalam keadan melayang ke dunia khayal. Yah, rasa sesal itu selalu ada. Belum ditambah dengan sedikit rasa minderku karena sebuah benda yang harus selalu aku pasang di depan mataku. Kacamata. Dengan minus yang kini makin menebal, aku merasa tak bisa hidup tanpa benda itu. Yah, dan memang akulah kini. Berbeda dengan keadaanku enam tahun yang lalu. Sebentar lagi aku akan menempuh Ulangan Umum Kenaikan Kelas XII. Aku akan berada di kelas XII beberapa bulan lagi. Aku harus serius. Tak boleh down dengan hal yang kini sering membuatku berkhayal. “Aku kan harus kuat. Aku kan anak pahlawan nasional (dilihat dari nama aja udah ketahuan. Hehe…). Aku harus tunjukkin yang terbaik. Buat Bapak, buat Ibu. SEMANGAT!!!!”, ucapku dalam hati sambil mengepalkan tangan. “Adeee…”, seseorang memanggilku. Aku menoleh, melihatnya berjalan sedikit tergesa-gesa ke arahku. “Sa atakalam ilayki.”, ucapnya. Aku sedikit bingung. “Na’am.”, jawabku sembari mengikuti langkah Ayu, temanku yang tadi menghampiriku. Kami terhenti di sebuah ruang yang tak jauh dari asrama. Remang-remang, karena tak ada lampu di sini. “Ada sesuatu yang mau aku omongin ke kamu. ‘Afwan, tadi aku dapat kabar dari Ustadz, beliau bilang kalau…….”, Ayu berhenti bicara. Aku makin penasaran. “Ayah kamu sakit. Masuk rumah sakit tadi pagi. Keadaannya masih biasa. Aku saranin kamu supaya pulang besok pagi. Tapi, lebih baik kamu hubungi rumah, Kakak atau Ibumu, mungkin.”, ucapnya lagi. Aku tersentak. Merasa sendi-sendiku lepas dari engselnya. Lemas. “Ya, besok aku mau pulang. Malam ini aku mau hubungi Ibuku dulu.”, jawabku sambil berlalu dari tempat itu. Ketakutanku menguasai. Dan aku tak akan bisa tidur malam ini. ***** Rumah Sakit Umum, pukul 13.00 WIB. “Assalamu’alaykum.”, aku memasuki pintu kamar Wijayakusuma 4. Sesosok pria terbaring di atas kasur. “Pulang kapan, De??”, tanya seseorang. “Barusan. Langsung ke sini. Bapak sakit apa, Bu?”, tanyaku kemudian kudekati ranjang Ayahku. Ku amati sosok yang kini sedang terlelap di depanku. “Kata Dokter cuma kecapekan. Insya Allah besok udah bisa pulang.”, jawab Ibu sambil tersenyum. Aku sedikit merasakan kelegaan di hati. Berarti paling tidak aku bisa kembali ke tanah rantauanku besok pagi. “Alhamdulillah. Berarti besok aku bisa balik ke asrama.”, ucapku dengan datar. Lagi, Ibuku hanya tersenyum. Senyum yang buatku sedikit bertanya-tanya. Malam ini aku menginap di Rumah Sakit bersama Kakak dan Ibuku. Kini, aku dapat melihat Ayahku tertawa. Bahkan, sedikit bercerita sesuatu padaku. Aku hanya miris. Merasakan keharuan atas apa yang kini terjadi pada Ayahku. Dan saat aku berada dalam henignya malam, tak kurasakan bahwa pipi ini basah bersama basahnya mukena yang kukenakan. Aku bersimpuh di hadap-Nya. Memuji asma-Nya dan meminta agar Ayahku selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin. Pagi tiba. Tak terasa semalam aku tertidur di atas sajadahku dan masih berbalut mukena. Kulirik jam tanganku. Pukul 4 pagi. Aku bergegas mandi dan sholat Shubuh. Tak lupa aku mendoakan untuk kesehatan keluargaku. Beberapa waktu kemudian, aku bersiap berangkat, kembali ke asrama. Aku akan diantar oleh Om Hanif, adik ipar Ayahku. Beliau telah siap. Aku berangkat setelah berpamitan pada Ayah dan Ibuku. Aku berjalan di belakang Om Hanif menuju tempat parkir. Kami memasuki mobil. Tak berapa lama, mobil telah meninggalkan pelataran parkir Rumah Sakit. “Berarti kemarin kamu ijin, De??”, tanya Om Hanif yang tetap fokus pada kemudinya. “Ya.”, jawabku singkat. Aku merasa aneh pagi ini. “Kamu yang serius belajar di sana. Nggak usah mikir macem-macem. Pikiranmu itu di sana. Yang di rumah, insya Allah nggak apa-apa. Kamu kan pinter, De, jangan sampai ngecewain Bapak Ibu. Buat mereka bangga. Bentar lagi kenaikan kelas kan?? Yang rajin belajar yaa…”, ucap Om Hanif panjang lebar. Ya, aku tak akan mau buat orang tuaku kecewa. Dan aku juga tak mau buat Om Hanif kecewa. Beliaulah yang menanggung semua kebutuhanku selama di Pesantren, mulai biaya sekolah, biaya hidup, dan lain sebagainya. Beliaulah ‘Pahlawan Keduaku’ setelah Ayah. Tak terasa, Toyota Vios milik Om Hanif memasuki pelataran Pondok Pesantren. Aku turun dan langsung berpamitan pada Om Hanif. “Om langsung pulang ya. Harus cepet-cepet, ada perlu. Assalamu’alaykum.”, ucap Om Hanif sambil menutup kaca jendela mobil, dan segera memutar arah mobilnya. Aku melihat mobil itu menghilang di tikungan, kemudian aku berjalan menuju asrama putri. Ada seseorang yang tampaknya memperhatikanku. Seorang laki-laki, seangkatan denganku. Tapi aku tak peduli dengan tatapannya. Aku berlalu tanpa melihat ke arahnya. Ia mendengus pelan. Bawalah pergi cintaku Ajak kemana engkau mau Jadikan temanmu… temanmu paling kau cinta Di sini ku pun begitu Mencintaimu di hidupku Di dalam hatiku…sampai waktu yang pertemukan kita nanti….. Lagu Bawalah Cintaku milik Afgan Syahreza, aku lantunkan. Serasa ada yang merasuk dalam hati. Entah. Hal itu terkadang aku rasakan. Wajar, usiaku hampir 17 tahun. Seseorang telah mengusik keheningan dan memecah lamunanku. Tapi, lupakan. Fokus pada studiku. Aku bersiap berangkat ke sekolah yang letaknya tak jauh dari asrama. Aku berjalan menikmati indahnya suasana di sekitarku. Aku merasakan kelegaanku. “Ade Irma. Ade Irma, ke sini sebentar. Saya ada perlu sama kamu.”, ucap Ustadz Didi, pengampu pelajaran Matematika di Madrasah Aliyah. “Ya.”, jawabku sambil berlari kecil memasuki kantor. Aku mendekati Ustadz Didi, dan menunjuk sebuah kursi agar aku duduk di situ. “Kamu darimana? Eh, maksud saya, kamu kemarin di asrama atau pulang?”, tanya beliau dengan tatapan selidik yang konyol. Aku ingin tertawa melihatnya. Haha… “Kemarin saya pulang. Nengok Bapak di Rumah Sakit.”, jawabku sambil tersenyum. Beliau terdiam sejenak, “Ja.. Jangan bohong kamu!”,ucapnya dengan gagap nada tinggi. Aku makin bingung. “Insya Allah, saya jawab dengan sejujurnya, Ustadz.”, jawabku tenang. Ustadz Didi mengeryitkan dahinya, tampak bingung. Kini beliau menggaruk kepalanya yang, aku yakin, tidak gatal sama sekali. “Saya jadi bingung. Tadi ada anak yang melaporkan sesuatu pada saya tentang kamu, tapi kamu tadi malam tidak di asrama. Aduh…”, ucapnya sambil geleng-geleng. Hah?? Melaporkanku?? Aku diam, ”Melaporkan apa, Ustadz??”, tanyaku penasaran dengan suasana hati makin tidak karuan. Ustadz Didi ikut terdiam dan tiba-tiba bel berbunyi tanda jam masuk dan mulai pelajaran. “Yah, sudah masuk. Saya nggak bisa jelaskan sekarang. Nanti saya bahas lagi, insya Allah. Sekarang kita masuk kelas dulu. Dan tolong bawakan LKS yang di atas meja sana.”, ucapnya sambil menenteng buku-bukunya dan menunjuk meja di sudut ruangan sana. “Baik, Ustadz.”, jawabku dan segera berjalan mengambil LKS di atas meja sana. Aku penasaran. Aku berjalan menuju kelas. Aku makin penasaran, heran dan aneh. Semua mata tertuju padaku. Semua terlihat mencibirku. “Sok alim. Tapi nyatanya… Nggak banget deh!”, ucap seorang perempuan, adik kelasku di kelas XI. Aku menatapnya dengan perasaan aneh, bingung dan sebagainya. Ada apa sebenarnya?? Apa kabar terakhir tentangku di sini?? Aku lalui pelajaran pertama dan kedua dengan buyarnya konsentrasiku. Benar-benar hilang fokusku. Apalagi setelah mendengar cerita dari Ustadz Didi barusan. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana. Seseorang telah mengatakan kabar palsu tentangku. Aku dituduh pergi dengan seorang lelaki tadi malam. Astaghfirullahal ‘adhiim. Aku hanya miris. Tangisku tak bisa kubendung. “Udah lah, De. Aku tahu kamu nggak kayak gitu.”, ucap Diyah. “Iya, De. Paling cuma kerjaan orang yang nggak suka sama kamu.”, ucap Mba Nia menimpali. “Iya. Kan kemarin aku yang nyuruh kamu pulang.”, ucap Ayu. Aku hanya bisa menangis. “Tega banget itu orang sama aku. Nggak tahu ya, kalau aku anak pahlawan?? Huhu…”, ucapku konyol sambil terus menangis. Serentak teman-temanku tertawa. “Mba Ade loh! Sempet aja ngebanyol.”, kata Tiwi setengah tertawa. “Udah lah, aku mau ke kelas aja.”, ucapku sambil menyeka airmata dan berjalan keluar kelas. “Beneran??? Nggak malu kalau dilihat sama itu…….”, ucap Tiwi meledek. Aku menoleh, memasang wajah bingung. “Sama siapa??”, tanyaku sambil berpikir. ”Sama itu tuh…. Sama yang kemarin dapet juara I. Haha….”, jawab Mba Nia dengan tawanya yang renyah. “Iihh… ngayal banget! Nggak muluk-muluk deh! Nggak berharap juga. Tapi, kalau jodoh, aku nggak nolak. Hehe…”, ucapku terkekeh sambil berlari menjauhi mereka. Teringat padanya. Mungkinkah aku jatuh cinta??? Atau hanya kagum padanya. “Please, De. Sinau sih ngapa!!!,”, ucapku dalam hati. ***** Tiga hari kemudian. “Padahal kemarin itu aku, bukan Ade. Kepentok udah ketahuan, aku kambing hitamin aja dia. Makanya nggak usak sok alim. Rasain sekarang dia dibenci sama semua orang. Hahahaha…”, ucap seorang perempuan diiringi dengan tawa teman-temannya. Merasa sangat puas tampaknya. Tidak sengaja aku mendengarnya dari balik pintu kelas. Aku memasuki ruangan yang mereka tempati. “Oh, jadi kamu toh. Dasar. Maunya apa kamu?? Pake segala laporin hal nggak penting kaya gitu. Kamu kalau iri sama aku nggak usah gitu caranya, Neng. Bagus apa??”, cerocosku tanpa pakai koma, apalagi titik. “Kamu denger ya, De?”, tanyanya kebingungan. Gelagapan. “Kalau aku nggak denger, aku nggak bakal bilang kaya gitu, Winda. Karepmu apa jane?? Aduh, keceplosan pake jawa. Maumu apa sebenernya?? Mau bikin namaku jelek di mata semua orang??? Selamat ya, kamu berhasil. Tapi aku bisa ngelakuin lebih dari itu. Ya nggak, Wi?? Ya nggak, Ay??”, ucapku dengan nada tinggi, tapi tak sampai tujuh oktaf, terlalu tinggi (ntar dikira lagi seriosa). “Betul, betul, betul.”,jawab Tiwi dan Ayu. Winda tampak takut. Aku bisa melihat dari rautnya. “Coba aja kalau bisa.”, tantangnya. “Okeh. Emangnya aku takut sama kamu?? Cihh… orang kaya kamu mah tak tiup aja langsung mabur. Werrr… haha….”, kataku penuh percaya diri, lebih tepatnya angkuh. Winda dan dua temannya berlalu dari tempat itu. “Huuu…. Anak pahlawan dilawan, aku tembak pake senjata klenger loh!,” ucapku setengah teriak agar Winda mendengarnya. Tiwi dan Ayu tertawa dengan kerasnya. “Okeh. Besok kalian temenin aku ke Ustadz Didi. Aku mau jelasin semuanya. Kalian jadi saksi mata buat kasus ini.”, ucapku layaknya detektif. “Siap.”, jawab Tiwi dan Ayu bersamaan. Keesokan paginya. “Jadi begitu ceritanya. Berarti sebenarnya yang tolol dia sendiri ya?? Sama aja kaya lapor tentang apa yang dia lakukan malam itu. Walah, bocah.”, ucap Ustadz Didi setelah mendengar apa yang aku ceritakan. “Haha… katanya udah kepentok ketauhan sama Ustadz Sohib di depan gerbang. Jadinya saya yang jadi korban.”, jawabku dengan sedikit sinis. Mengingat hal itu sangat membuatku geram. Gemas. Rasanya ingin menampar. “Ya, sudah. Kasus ini akan saya ajukan ke tingkat yang lebih tinggi supaya nanti bisa diselidiki lebih lanjut mengenai kebenarannya. Yang benar akan menang, insya Allah.”, ucapnya dengan nada yang bijaksana. “Numben, biasanya agak gagap.”, kataku dalam hati. Aku, Tiwi dan Ayu hanya tertawa kecil, “Baik, Ustadz. Kami permisi dulu. Assalamu’alaykum.”, ucap Tiwi. “Wa’alaykumussalam.”, jawab Ustadz Didi. Kami beranjak dari tempat itu. Aku dan Ayu berjalan ke arah barat, menuju kelas kami, dan Tiwi berjalan ke kelasnya di sebelah timur. Sepanjang jalan aku dan Ayu bercakap-cakap tentang hal yang baru terjadi di kantor. “Kok, numben Ustadz Didi nggak gagap ya?? Biasanya gagape poll! Ntu orang aslinya gagap apa nggak ya? Haha…”, ucapku ngelantur. Ayu hanya senyum, menatap ke depan seolah menerawang sesuatu. Kemudian ia tertunduk bagai orang yang sedang menahan malu. Aku menoleh ke arahnya, bingung. “Kamu denger nggak aku ngomong apa, Ay??”, tanyaku dengan datar. Merasa diabaikan olehnya, aku sedikit muram. “Eh. Hmm.. anu.. denger kok! Tapi kurang jelas. Bisa diulang?”, jawabnya serasa tanpa dosa. Alamak. “Behh. Ogah ngulang! Nggak menayangkan siaran ulang!”, ucapku ketus sambil berjalan mendahuluinya. Kini aku meninggalkannya di belakang. “De… ‘Afwan. Tadi aku bener-bener lagi nggak konsen. Yah, mutung.”, ucap Ayu setengah bereriak. Aku terus berjalan. Tanpa sengaja aku menabrak seseorang bertubuh jangkung. Aku terjatuh dan terpental beberapa sentimeter ke belakang. Aku mengaduh kesakitan. Kemudian aku mendongak, “Kamu?”, ucapku takjub sembari menelan ludah. Oh, tidak! Dia adalah virus yang selama ini mengganggu lamunanku. “Kenapa? Kamu oke-oke aja kan? Nggak ada yang cedera kan?”, tanyanya dengan wajah kekhawatiran. Aku melongo. Terpesona, mungkin. “Hei. Hellow…”, katanya lagi sambil melambaikan tangannya di depan wajahku. “Heh! Aku nggak apa-apa. Makasih udah bikin aku jatuh!”, ucapku ketus sembari bangkit dan berlalu meniggalkannya. “Ketus amat. Hmm… tapi manis juga.”, ucap Diandar, orang yang menabrakku tadi, sambil tersenyum dan berjalan berlawanan arah denganku. “Nightmare! Lupain! Lupain orang nggak penting itu! Lupain lupain!”, omelku yang kini mengundang perhatian teman-teman di kelasku. “Apa sih, De?”, tanya Diyah yang tak lepas memandang LKS dihadapannya. “Habis ditabrak orang nggak penting! Sampai jatuh pula! Iihhh…”, ucapku sambil menenggelamkan wajahku di antara kedua tanganku di atas meja. “Siapa? Diandar?”, tanya Diyah padaku. Aku terperangah, terkejut. “Kok tahu?”, ucapku bingung. Diyah menoleh dan hanya tersenyum. “Tadi malem kamu ngigau panggil-panggil Diandar.”, ucapnya santai. Hah?? Aku tak percaya. “Apa iya? Jangan bohong kamu!”, ucapku dengan ekspresi tidak terima. Diyah mengada-ada pastinya. “Wallahi.”, jawabnya singkat. Aku terdiam. Mendengar kata itu aku tak bisa memungkiri bahkan mengelak. Diyah sudah bersungguh-sungguh atas nama Allah. Aku masih terdiam. “Udah, belajar aja. Nanti ada ulangan Biologi loh!”, ucap Diyah. Kacau! Aku baru ingat kalau nanti ada ulangan. Aku segera mengambil buku dan membukanya. Belajar Biologi. Satu minggu kemudian. Hasil ulangan Biologi diumumkan. Kali ini aku mendapat nilai tertinggi. Aku bahagia. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kelas. Semua mata tertuju pada sosok di luar sana. Ustadz Amir. Beliau masuk dan berbisik pada Ustadzah Ilma, pengampu Biologi di Madrasah Aliyah. “Oh, iya. Silakan.”, ucap Ustadzah seolah memberi persetujuan. “Ade Irma, ikut saya sebentar. Terimakasih, Ustadzah.”, ucap Ustadz Amir sambil berjalan keluar. Aku bangkit dan mengikuti beliau keluar. Terheran-heran. Namun, aku tetap tenang mengikuti langkahnya. Aku sampai di kantor. Aku duduk di kursi coklat kayu di samping meja kecil di kantor itu. “Ada dua hal yang perlu saya sampaikan. Yang pertama, kasus kamu dengan anak bernama Winda itu sudah selesai. Tadi malam dia datang ke rumah Ustadz Didi dan mengakui perbuatannya. Madrasah mengambil keputusan untuk mengembalikannya pada kedua orang tuanya….”, jelas Ustadz Amir. “Ngikk? Drop Out maksudnya? Waduh..”, tanyaku dengan mata terbelalak. “Iya, begitu kurang lebihnya. Dan kedua.. saya nggak mau basa-basi. Tadi kerabat kamu menghubungi kami, kamu disuruh pulang. Ada perlu di sana. Saya sarankan kamu pulang sekarang.”, ucapnya dengan nada ragu. Aku heran. “Kenapa aku suruh pulang lagi?”, tanyaku dalam hati. “Baiklah, Ustadz. Nanti saya ijin ke Wali Kamar.”, jawabku. “Nggak perlu. Kami sudah ijinkan kamu ke Bidang Asrama.”, ucap Ustadz Amir, “Kamu langsung pulang saja.”, lanjutnya. Aku keluar dari kantor setelah berpamitan. Aku merasakan lemas yang luar biasa. Entahlah. Ada yang kurasa aneh dari perkataan Ustadz Amir tadi, seperti menyembunyikan sesuatu. ***** Aku tiba di rumahku. Sangat berbeda begitu aku memasuki jalan setapak menuju rumahku. Sangat ramai. Banyak sepeda motor berlalu lalang, keluar masuk halaman rumahku. Dan yang membuatku terkejut, bendera putih melambai-lambai di dekat pohon jambu di depan rumahku. Aku berlari sekencangnya menembus kerumunan orang-orang. Aku serasa hilang arah. Tiba aku di depan pintu rumah. Kulihat sesosok tubuh berbalut kafan putih kedua kalinya setelah wafatnya Kakekku dua bulan lalu. Kudekati sosok yang terbaring itu. Wajahnya pucat. Hidungnya tersumpal kapas. Aku mulai merasa airmata meleleh di pipiku. “Bapaaaaakkkkk…….”, aku berteriak dan menangis sekerasnya. Duniaku runtuh Jiwaku rapuh Ragaku meringkuk lesu Yaa Rabbiy.. Kaulah Sang Penggenggam Jiwa Lindungilah nyawa yang Kau hembuskan Lindungilah pula tiap nyawa yang Kau ambil kembali… Lindungilah Ayahku… Hatiku bersyair begitu. Memohon dan meminta perlindungan untuk Ayahku. Pandanganku buram. Remang-remang. Gelap. Aku mulai mencoba membuka mataku. Pening yang aku rasakan buatku enggan untuk bangkit. “Pusing, De??”, tanya seseorang di sampingku, Kakakku. Aku hanya mengangguk lemah sambil terus meringis kesakitan. Benar-benar pening. “Kamu istirahat dulu. Mba tinggal bentar ya.”,ucap Kakakku sembari bangkit dan berlalu. “Bapak dimana?”, tanyaku layaknya bocah kecil. “Barusan dibawa ke pemakaman.”, jawab Kakakku singkat dan melanjutkan langkahnya keluar. Aku lemas. Suasana duka masih aku rasakan. Seolah meruntuhkan dinding semangatku yang telah kubuat dari beberapa minggu yang lalu. Maklum, minggu depan akan berlangsung Ulangan Umum Kenaikan Kelas. Terkadang aku mengeluh. Aku kehilangan Ayahku saat aku ingin menunjukkan sesuatu yang hebat pada beliau. Ya, prestasiku saat kenaikan kelas XII, itulah yang ingin aku tunjukkan agar buat beliau bangga. Namun, harapan itu kandas. Aku harus segera kembali ke asrama. Aku tak mungkin berlama-lama di rumah. Dengan sedikit berat hati, aku berangkat. “Hati-hati ya, Nduk. Sinau sing rajin. Ojo mikir macem-macem. Gawe bapak seneng neng kono.”, ucap Ibuku sambil menangis memelukku. “Iya, Bu. Doain nilaiku apik.”, jawabku sembari melepas pelukan Ibuku. “Assalamu’alaykum.”, ucapku lagi sambil berjalan keluar rumah. “Wa’alaykumussalam.”, jawab Ibu dan Kakakku bersamaan. Aku berangkat dengan bis umum. Sepanjang perjalanan, aku lebih banyak diam. Memandang keluar melalui jendela bis. Terbayang siluet memori bersama Ayahku. Banyak sekali kenangan indah bersama beliau. Terlalu jauh aku mengkhayal, hingga tak terasa seseorang sedang mengamatiku. “Permisi.”, ucapnya. Aku sedikit terlonjak kaget. “Kamu? Kok bisa di sini??”, tanyaku padanya. Orang itu lagi! “Ya, niatnya aku mau ke rumah kamu. Mewakili kelas untuk ta’ziyah. Malah kamu udah mau balik ke Pondok. Ya udah, akhirnya aku ngikutin kamu.”, jelasnya sambil tersenyum lebar. Manis. “Oo… tapi kenapa harus kamu?”, tanyaku heran. Dia justru tertawa lebar mendengar pertanyaanku. Orang aneh, pikirku. “Aku kan ketua kelas.”, jawabnya singkat. Dengan sedikit malu, aku mengalihkan pandanganku keluar jendela. Setelah itu, kami terdiam sampai ke tempat tujuan. ***** Sebulan kemudian. Hari ini adalah pembagian hasil Ulangan Umum Kenaikan Kelas. Aku pasrah. “Situ lah, nilaiku mau berapa. Kemarin aku ngerjainnya nggak niat. Nggak semangat. Ketambahan ada virus. Bah, aku ngerasa bego banget gara-gara itu orang!”, omelku didepan cermin, bersiap-siap akan berangkat ke sekolah, mengambil buku Raport. “Emang gara-gara siapa? Hayooo….”, ledek Ana, teman sekamarku. “Oh.. anu.. itu lah. Orang nggak penting.”, jawabku gelagapan. Bahaya kalau dia tahu. Aku berjalan menuju kelas untuk mengambil Raport. Tiba-tiba ada teman-temanku, yang berjalan dari arah kelas, menyalami sambil tersenyum padaku. “Selamat, De. Dapet ranking I nih! Semangat terus ya!”, ucap Ima. Aku bingung. “Apa sih? Emang ranking I ya?”, tanyaku dengan nada blo’on. Semua teman-temanku tertawa lepas melihat kebodohanku. Aku yang tidak percaya, langsung berlari kencang menuju kelas. Tiba di depan kelas, aku berhenti sejenak. Kemudian, aku berjalan perlahan memasuki kelas. “Ade Irma. Silakan, ini buku Raportmu. Selamat, terus tingkatkan prestasimu.”, ucap Ustadzah Zakiyah, wali kelasku. Aku makin tidak percaya. Aku buka lembar-lembar Buku Hijau itu. Tertulis angka ‘I’ di kolom peringkat. “Hah??? Aku… ranking I?? Ya syok! Haha……….”, ucapku sambil tertawa bahagia. “Alhamdulilah… Bapak, aku ranking I. Semoga Bapak seneng tahu prestasiku di sana.”, ucapku dalam hati. Aku berlari keluar kelas, menghampiri teman-temanku sambil melompat-lompat kegirangan. Teman-temanku hanya tertawa melihat tingkahku. “Ani.”, panggil seseorang di belakangku. Aku bersungut-sungut. “Jangan panggil……….. kamu lagi???”, ucapku kaget. Akupun melongo. Terpesona untuk kesekian kalinya. Senyumanmu buat aku deg-degan Tatapanmu buatku jadi deg-degan Diandar. “Selamat ya… Jangan pernah menyerah hanya karena kamu kehilangan orang yang kamu sayangi. Bentar lagi kita kan kelas XII, harus makin rajin. Berjuang sama-sama yaa….”, katanya sambil tersenyum manis. Lagi, aku melayang. Mungkinkah ada rasa??? “Iya. Makasih banyak, Andar.”, ucapku sedikit kikuk. Diandar berlalu, namun menoleh dan tersenyum lagi. “Kalau lulus, ngajar di sini aja. Kamu bakal ketemu sama aku.”, ucapnya lagi kemudian pergi dengan senyum manisnya. Dan harus kusadari. Aku mengaguminya. Dan akupun harus menyadari, kehilangan seseorang yang aku sayangi tak semestinya membuatku terjatuh dan lemah. Walaupun seseorang itu takkan abadi, tapi aku yakin kegigihannya dalam menjalani hidupnya yang harus aku teladani. “Bapak, semangatmu abadi dalam jiwaku. Aku akan buatmu bangga walau kau tak bisa melihatku dalam dunia nyata. Kau dalam keabadian di sisi-Nya.”, bisikku dalam hati. Tuhan tolonglah Sampaikan sejuta sayangku untuknya Ku trus berjanji takkan khianati pintanya Ayah dengarlah Betapa sesungguhnya ku mencintaimu Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu Aku menatap Diandar yang kini berada di ujung jalan sana. Dia menoleh ke arahku, dan melambaikan tangannya padaku. Aku hanya tersenyum. “Ciyeehhhh….. jadi dia orang yang nggak penting itu??”, tanya Ayu dengan nada meledek. “Sekarang dia penting buat aku.”, jawabku, namun hanya dalam hati. Itu sudah, tahun depan aku akan menghadapi sesuatu yang lebih istimewa, Ujian Nasional. Aku harus lebih semangat lagi. “Bapak, doakan aku.”, bisikku lagi. Semua belum berakhir. Masih perlu ada perjuangan untuk meraih yang aku inginkan. ***** BY.KUSMANINGSIH ABDINING GUSTI
Santri Teladan Di ambil dari kisah nyata di pondok pesntren Miftahussalam Banyumas Awal kisah dimalam yang dingin dan gelap sepi, terbangunlah seorang santri dari tidurnya yang lelap, dia terbangun karna rasa sakit perut yang memaksanya untuk bangun dari tidurnya,pantaslah ia merasakan sakit perut di malam hari karna dia terlalu banyak makan pada saat makan malam. Karna hobinya yang suka makan, dan jika mengantri makan ia selalu menjadi orang pertama yang berada di antrian pertama, maka tidak heran kalau badanya gendut buntek dan sering sakit perut. Teman-temanya mempunyai julukan kepada dia, yaitu si buntek yang tempat faforitnya di kamar mandi. Pada tengah malam itu, rasa kantuk masih membebani kedua klopak matnya untuk memejamkan matanya kembali, tapi panggilan alam memaksanya untuk ke kaar mandi dan mengeluarkan beban hajatnya di sana. Setelah ia mengambil posisi di kamar mandi, tanpa sadar ia tertidur, ia tertidur di kamar mandi dengan posisi saat buang hajat. Dan tanpa terasa sayup-sayup lantunan bacaan Al-Qur’an telah di bacakan, tidak lain sumber bacaan Al-Qur’an itu berada di masjid Nurul Islam yang berada di komplek pondok pesantren miftahussalam, ketika bacaan Al-Qur’an di lantunkan adalah sebagai pertanda adzan subuh akan di kumandangkan, dan selain itu, bacaan Al-Qur’an juga sebagai media membangunkan para santri untuk bangun dari tidurnya. Ada salah satu santri lain yang ingin ke kamar mandi karna ia ingn buang air kecil,ia adalah Tanto, karna saking kebeletnya ia masuk ke WC yang pada saat itu ada si buntek di dalam kamar mandi dalam posisi jongkok di atas kloset dan tertidur, lalu si gendut dan tanto sama-sama kaget ,dan dengan reflek si gendut langsung menutup pintu WC tersebut.”Ndut, cepetan ndut,Q kebelet pipis koh,malah bisa-bisane turu nang WC” kata tanto.”Ia kie wis rampung to” kata si gendut. Si gendut kluar dari kamar mandi dan tanto masuk ke WC tersebut,si gendut tidak sadar kalau ternyata ia tertidur di WC sampai adzan subuh mau berkumandang. Menyadari adzan subuh sebentar lagi berkumandang, ia bersiap-siap untauk berangkat ke masjid, dan menuanaikan shalat subuh dengan berjama’ah. Setelah shalat subuh selesai,kebetulan stelah subuh adalah ta’lim dari ustadz,ketika ta’lim sedang berlangsung, si gendut kemudian membisiki tanto yang kebetulan berada di sebelahnya, “to, koe aja ngomong sapa-sapa nek aku keturon nang WC ya?!”,bisik si gendut kepada tanto,lalu tanto berkata “wis tenang bae,aku ra bakal ngomong-ngomong,sing penting mengko istirahat sekolah aku tukokna dagene mbah gambul Rp 1000,- bae lah,hehe”, ia lah beres sing penting koe aja ngomong sapa-sapa ya?!” jawab si gendut. Setelah ta’lim selesai, rasa kantukpun belum hilang untuk membebani klopak matanya hingga akhirnya ia tertidur di masjid. Sekian lama ia tertidur, tiba-tiba lampu masjid di matikan dan ia langsung terbangun karena lampunya dimatikan,lalu tanpa basa-basi ia birtriak “ sapa kie sing mateni lampu,nantang gelut apa!!”, ia berasal dari jawa asli,sehingga kata yang biasa terucappun bahasa jawa. Setelah ia bertriak seperti itu, kemudian ada yang menjawab “ya ayuh gelut”, lalu ia mencari sumber suara tersebut , dan ternyata yang menjawab adalah pimpinan pondok, setelah ia sadar kalau yang mematikan lampu dan menjawab triakanya tadi adalah pimpinan pondok,ia langsung clengeran, dan langsung meminta maaf kepada pimpinan pondok. Teman-teman yang melihatpun tertawa terbahak-bahak melihat kejadian tersebut. Seiring waktu berjalan, para santri para sntri bersiap untuk berangkat ke sekolah, dan belajar mengajarpun berjalan sebagai mana mestinya. Ketika di kelas,si gendut adalah anak yang sangat rajin, tetapi sayang,ia rajin tidur di kelas, bukan rajin belajar di kelasnya.setelah bel waktu istirahat di bunyikan, semua santri ber istirahat dari kegiatan belajar mengajarnya sejenak, banyak di kalangan santri menggunakan waktu istirahat untuk menunaikan shalat duha,dan ada juga yang memanfaatkan untuk bermain futsal meskipun panas,dan ada juga yang menggunakan untuk mengerjakan PR yang belum dikerjakan, tapi sigendut mempunyai janji kepada tanto untuk mentlaktir dage goreng bikinan mbah gambul yang ada di kantin sebagai imbalan tutup mulut, lalu ia kekantin bersama tanto,selain membelikan dage kepada tanto, ia juga membeli beberapa makanan yang berada di kantin untuk dimakan sendiri, setelah ia kenyang, ia kembali ke sekolah. Bel pertanda KBM akan di mulai kembali pun sudah di bunyikan, semua santri segera memasuki kelas masing-masing, saat KBM sedang berlangsung, si gendut merasakan ketidak nyamanan pada perutnya, tapi ia mencoba untuk menahanya, karna ketika itu sedang berlangsung ulangan, sedangkan pada saat itu ustadznya adalah ustadz yang galak, maka dari itu ia tidak berani meminta izin untuk pergi ke WC,sehingga akhirnya ia mengerjakan soal-soal ulangan itu dengan cepat karna sakit perut yang tidak bisa di tahanya, setelah selsai mengerjakan meskipun ia mengerjakan dengan sedikit ngawur, ia kemudian mengumpulkan lembar jawabnya ke ustadz yang berada di depan, karna saking tidak tahanya pada saat sedang mengumpulkan lembar jawab dan posisi sedang berhadapan dengan ustadz yang berada di depan,angin pun terbuang,dan suara itupun berbunyi “duuuuuutt”, suara itu memecah keheningan suasana ulangan, si gendut buang angin di depan ustadznya yang galak, semua santri yang berada di kelas tertawa terbahak-bahak, kemudian ustadz yang berada di hadapanya melihat dia dengan muka yang menyeramkan, kringatpun ber cucuran di dahinya karna selain menahan perut yang mules,ia juga takut di marahi sama ustadz yang ada di depanya, “ ‘afwan tadz,saya pengin ke blakang” kata si gendut dengan suara pelan, “ukhruj !!”(kluar) kata ustadz. Ia pun langsung kluar dari kelas dan bersyukur tidak dimarahi oleh ustadz yang galak tadi. The End Nama : Johan Arifin Nampang: Joe TTL: Purbalingga 5 Agustus 1994 Alamat: des. Bedagas,kec.pengadegan,kab.Purbalingga Email: joe_rock@yahoo.com Johanarifin80@yahoo.com No tlp: 085327924442 Hobi: PLAYon, Nglawer
PADAMU KU TITIP CINTA Metafora duka Seperti lembar-lembar sejarah Aku temukan lagi sendu itu dimata mu Dan pada jejak yang menapak Kembali aku bisu ; adakah senja yang tak berakhir..? Matahari yang kalah oleh waktu Malam yang menyerah pada tetes embun pagi Serupa kesedihan kita pula, terhapus Dan digores lagi Maka jika aku kalah nanti.. Tolong beri tahu ( pada air mata dan duka itu ) Bahwa cinta… masih purba dan satu… **************** “ Vi nggak mau ikut pleno. Males…..! Vi mau mengundurkan diri saja,” ujarku serius. Tas eksport millennium di pundakku ku lemparkan ke atas sofa di ruang tamu. “ Lho…. Kenapa, Vi..? pulang – pulang bukanya ngucapin salam, malah ngedumel. Ada masalah di kampus?” Rina, teman kost ku, menegur dengan tidak kalah serius. Aku menoleh dengan wajah yang kusut. “ kok cemberut?” Aku duduk di bangku rotan di sebelah ku. “ Habisnya kesel, sampai saya lupa ngucapin salam,” ucapku pelan sambil mempermainkan jemariku dengan resah. Rina tersenyum bijak sambil mengangguk. “ Okey…! Now, can you tell me your problem, please?” The problem is…. Taufik.” Jawabku Kulihat Rina. “ Ada apa dengan Taufik?” “Mmm….masalah, tentu saja.” “ Iya…maksud saya, masalahnya bagaimana, sampai- sampai kamu heboh gitu?” “ Yang heboh, tuh, temen-temen di kampusku, gara-gara aku menjadi sekretarisnya Taufik. Ada yang malah su’uzhan. Mikirnya yang nggak-nggak. Katanya aku sering berduaan dengan Taufik di ruang BEM. Taufiknya juga nggak mau ngejelasin. Udah gitu doi enjoy aja minta tolong ini itu ke aku. Ketikin ini lah, itu lah…! Kan aku yang malu Rin…” paparku berapi-api. Mataku terasa panas. Aku hampir saja menangis karenanya. “ Lho…kamu nggak melakukan apa-apa selain tugas mu sebagai sekretaris kan?” “ Ya iya dong, Mbak..” “ So, what’s the problem, honey? Nggak usah dipikirin, deh.” “ Segitu aja pesennya?” Rina tersenyum lagi. “ Kalau kamu mau, ada baiknya kamu jelaskan pada teman-teman kamu tentang posisi dan tugas kamu sebagai sekretaris.” “ Aku sudah katakana itu berkali-kali,Rin. Tapi, tetap saja nada-nada sumbang berkeliaran. Sebel! Gimana mau reda, sedangkan dari pihak Taufik kayaknya malah suka kalau ada…..” “ Nah, ini dia, nih…yang su’uzhan….” “Biarin! Pokoknya Vi nggak mau ikut pleno. Mendingan juga tidur.” “Ya lah…jadi putri penidur.” “Habis…aku mesti bagaimana Rin?” 2 “Jangan-jangan kamu Cuma ge-er,” ujar Rina. Kali ini dengan melirik sedemikian rupa dalam maksud menggoda. Hmm,ge-er? Benar juga. Bisa jadi aku Cuma kege-eran. “Cobalah bersikap biasa dan apa adanya, agar perasaan-perasaan semacam itu hilang dengan sendirinya. Dan untuk menjaga peluang dan celah-celah masuknya syaithan, berusahalah untuk berbagi amanah dengan yang lain.” Aku terdiam. “Kalau kepepet, gimana? Dan lagi, kayaknya lebih banyak kepepetnya,deh,” sahutku. “seandainya terjebak, segeralah keluar dari situasi itu.” Aku manggut-manggut.”Kok diam saja?” Rina menegur ku. Aku belum sempat menjawab ketika tiba-tiba Fitri,teman kost yang lain,memanggil dari ruang makan. “Avi…!telepon buat kamu.” “Dari siapa?!”tanyaku sambil siap-siap beranjak untuk menerima telepon tersebut. “biasa…! Taufik!” “Tuh kan, Rin…”Ujarku lemas. “Cepetan!”teriak Fitri lagi.”Telepon umum, tuh…!” “Bilang saja aku belum pulang!” aku terduduk kembali. “Lho,Vi?”Tanya Rina” apakah untuk hal semacam ini kamu perlu berbohong?” “Lekas sana, terima telponnya,”lanjutnya lagi. Fitri kembali berteriak,”hei…kasian,tuh,koinya Cuma tinggal satu akhirnya dengan langkah malas aku menghampiri meja telepon dan meraih gagang horn. “Hallo, assalamu’alaikum!” “Wa’alaikumus salam…kok lama sekali? Saya Cuma mau minta besok kamu datang lebih awal. Masih banyak berkas dan catatan yang harus disiapkan untu pleno besok.Dan juga masih ada satu surat yang harus dikirim sore ini.Jadi,saya tunggu di sekertariat sekitar jam 16.00.bisa,kan?” Aku terdiam.bagaimana aku harus menolak? “Hallo…kamu masih di situ,kan?” “Eh,iya.mmmm…insya allah…!sahutku dengan nada malas. “kok sepertinya kamu sedang malas?kenapa?sakit?” Aduh,Taufik.kamu ngga usah perhatian begitu,donk…,ucapku dalam hati,takut nanti rasa ge-erku semakin membengkak. “Nggak.Cuma kecapekan aja.semalam saya begadang untuk kuis akutansi biaya tadi pagi.Kebetulan saya baru aja pulang,jadi belum sempat istirahat.” “Oh,maaf kalau begitu.tapi tolong diusahakan,ya…? I need your help, please…,” ujarnya dari seberang sana. Nadanya memelas sekali. “he-eh, deh…”ucapku akhirnya menyanggupi permintaanya. “Okey jazakillah, ya, ukhti… Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumus salaam wa rahmatullah…” klik! Kuletakan gagang horn, dan beranjak memungut tasku yang tadi kulemparkan ke atas sofa. Dengan langkah gontai aku melangkah kea rah kamarku yang berada di sebelah ruang tamu. Malam itu kuhabiskan dengan menimbang-nimbang pesan Rina. Sahabatku itu sangat bijaksana. Pandangan-pandanganya kurasa penuh kedewasaan. Ia hanya berpesan singkat padaku,”aku yakin kamu mengerti adab-adab dalam pergaulan.” Aku mengangguk yakin. Kalimatnya pelan,namun penuh penekanan. Kalimat itu juga mampu membangkitkan sugesti pribadiku. Hal ini membuat aku bersemangat untuk membuktikan bahwa kepercayaannya terhadapku tak akan aku sia-siakan. ************* Aku asyik memainkan jari-jariku di atas tuts kibor. Masih beberapa lembar lagi. Kulirik angka yang tertera di pojok kanan bawah layar monitor. Pukul 17.20 pm. Mudah-mudahan sang ketua berhalangan.Amiin… Aku berhenti sebentar sambil meneguk aqua dingin yang kuambil dari dispenser. Namun tiba-tiba aku menangkap bayangan orang lain terpantul di layar monitor. Ah, ternyata Taufik datang juga. Kini mengerjakan tugas dengan leluasa, hilang sudah. “Assalamu’alaikum,” sapanya ketika sampai di depan pintu secretariat. Kemudian ia membuka sepatunya dan melangkah masuk ke dalam ruangan. Aku menahan nafas sebentar lalu menjawab salamnya. Kemudian pandanganku kembali ke layar monitor, melanjutkan pekerjaan ku yang terhenti sejenak. “Maaf, aku telat,” lanjutnya yang ku biarkan tanpa tanggapan.”Sendirian?” Aku mengangguk . “Masih berapa lembar lagi?” lanjutnya. “Lima, termasuk AD/ART,” jawabku sesingkat mungkin. “Bagus. Kalau surat untuk Pudek II ?” “Sudah. Saya taruh di meja.” Ia beranjak menuju meja kerjanya dan memungut selembar surat yang tadi aku buat. Suasana hening sejenak. Keheningan menyergap kami berdua dalam ruangan dingin ini. Namun tiba-tiba….. DUARR!!! Suara petir yang menggelegar mengagetkan ku. Ku lihat Taufik juga sempat terlonjak dengan suara menggelegar tadi. Astaghfirulloh…,” ucap kami nyaris bersamaan. Perasaan ku semakin tidak tentram dan ku rasakan tangan ku mulai terasa dingin. Cuaca di luar sana terlihat tak bersahabat. Alloh, bantu hamba menenangkan perasaan ini…., do’aku dalam hati. Aku berusaha menenagkan pikiran dan perasaan ku yang tidak menentu. Aku benar-benar tidak bisa menikmati suasana ini. Ku perhatikan bayangan Taufik lewat monitor. Ia tampak tenang-tenang saja membaca buku nya. Agaknya ia tidak sadar kalau aku sedang mengamati dirinya. DUARR!!!! Kali ini suara petir lebih keras. Kembali aku istighfar. Petir kali ini lebih ku rasakan sebagai teguran Alloh terhadap rona-rona di hati ku. “Apa yang telah ku lakukan, ya Alloh? Ampuni hamba….,” ucap ku pelan. Aku menghela nafas panjang. Dan seketika itu juga…. Splash….! Lampu padam. Ruangan yang tadi di terangi oleh neon sebesar sepuluh watt kini menjadi gelap. Hanya remang-remang cahaya sore yang gelap menembus melalui kaca jendela di belakang meja Taufik. “ innalillah… kenapa aku bisa ceroboh begini, sih?” “Ada apa Vi?” Taufik mendekati ku yang sedang kebingungan. “Yaa… bayangkan saja, sudah empat belas halaman, tapi aku lupa ngesave. Ngg… maaf, Fik,” ucapku takut-takut. “Lalu?” bukan itu ucapan yang aku inginkan, gerutuku dalam hati. Sejenak aku melupakan perasaan galauku yang tadi sempat mengganggu, berganti dengan perasaan gugup. Tiba-tiba Mang Jana muncul di depan pintu dengan membawa senter. “Maaf , Neng. Sekeringnya sengaja Mamang matikan, takut kesambar petir,” katanya ringan tanpa dosa. “Aduh, Mamang… kalau mau ngapa-ngapain bilang dulu, kek. Vi kan lagi ngetik, Mang…. Hilang semua,deh, kerjaan Vi. “ Aku ber sungut-sungut kesal. Aku tahu pasti, pipiku agak cembung saat ini, pertanda aku sedang menahan kesal. “Maaf, Neng..maaf… Mamang nyalakan lagi, yah?” ia membujukku dengan logat sundanya yang kental dan kemudian berlalu dari hadapan ku. Aku terdiam sambil terus memandangi layar monitor yang kini berwarna hitam. “Ya sudah, biar nanti ku bantu,” ucap sang ketua menghibur ku. Aku tetap diam. Suasana kembali hening, sementara hujan di luar semakin deras. Sesekali terlihat kilat menyambar, membentuk ranting pohon yang menyala terang. “Vi… apa kamu pernah punya masalah berat?” Tanya Taufik tiba-tiba memecah kesunyian di antara kami. Hening kembali. “Kenapa?” sahutku akhirnya. Rasanya…saya ingin sekali pergi jauh untuk menghindari masalah ini. Saya lelah dituntut untuk berbuat sesuatu di luar kemauan saya. Saya selalu dipaksa menuruti kehendak orang tua dan keluarga. Mentang-mentang saya anak tertua, saya di paksa untuk menikah dengan gadis pilihan orang tua saya, padahal orang itu tidak sesuai dengan yang saya harapka. Tidak berjilbab pula.” “Aku masih asyik menyimak tanpa member komentar. Sedangkan saya…., saya masih ingin melanjutkan study Vi. “Kamu ingin komentar saya Fik? Pergi saja ke Ambon,” ucapku se kenanya. Aku tidak ingin percakapan ini berlangsung lebih lama. Bisa-bisa malah menimbulkan perasaan yang aneh-aneh, mengingat Taufik termasuk orang yang pendiam dan tertutup. Ia terdiam. Ku lihat ia mengerutkan keningnya sambil memainkan lembaran-lembaran buku di tanganya. Kali ini aku tudak memandang melalui layar monitor. Ya, aku duduk menghadap ke arahnya, membuktikan bahwa aku telah menjadi pendengar atas keluhannya. Dan tiba-tiba, byar! Lampu kembali menyala. Ruangan kembali terang benderang. Sesaat aku sadar, kemudian dengan sigap membalikkan tubuh ku kembali menghadap monitor. Horee… nyala! Sorakku. “Vi, biar saja nanti saya yang mengerjakan. Lagi pula sudah maghrib. Kalau mau di ulang lagi,bisa sampai jam berapa? Nggak baik akhwat pulang terlalu malam. Duh, lagi-lagi penuh perhatian. “Tapi di luar masih hujan….” Kamu bawa payung? “Aku menggeleng.”pakai payungku saja. Kebetulan saya bawa. Nih,” Ia menyodorkan payung biru bermotif kembang-kembang kuning. “Saya duluan, nggak apa-apa?” ia mengangguk yakin. “Maaf, kalau saya merepotkan. Seharusnya ini kan sudah menjadi tugas saya.” Saya juga terlalu ceroboh, kenapa lupa ngesave.” Ya sudah, hati-hati, ya….!” Itu ucapan terakhir yang ku dengar sore itu. Setelah mengucapkan salam, aku bergegas menembus hujan yang tetap mengguyur bumi. Maafkan aku,Taufik. ************* Otakku kembali berfikir tentang keadaan Taufik saat ini. Sudah satu bulan setelah pleno, ia tidak lagi muncul di kampus. Tugas-tugasnya sebagai ketua BEM menumpuk di pundakku kini. Belum lagi ulah para penggemarnya yang selalu bertanya banyak hal. Memangnya aku inangnya Taufik? “ Aviii….! Telepon buat kamu lagi. Ini sudah yang kesebelas. Mau di terima lagi nggak?” teriakan Fitri mengagetkan lamunan ku. “Nggak.” “Tapi ini dari cowok.” “Pokoknya nggak! Titik!” Sekilas ku dengar Fitri berbicara. “Avi, ini tentang Taufik. Katanya ada kabar baru!” Aku kaget luar biasa. Aku seperti melayang, dan jantungku berdebar kencang. Taufik ? “Diterima nggak?” “Iya, sini. Biar aku terima.” Aku bergegas bangkit dan beranjak menuju meja telepon. “ Hallo, Assalamu’alaikum…!” “Wa’alaikumussalam. Ini Avi? Ini aku Amin. Aku hanya ingin mengabarkan bahwa Taufik……,” suara di sana terdengar melemah. “Ada apa dengan Taufik? Dimana dia?” “Alhamdulillah…. Taufik kini masuk dalam jajaran syuhada di medan jihad Ambon.” “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…” perkataan Amin membuat seluruh tubuh ku lemas. Tak ku sangka Taufik mengikuti saran ku yang asal-asalan itu, padahal aku hanya sekedar ingin menghindar percakapan yang bisa melenakan hati. “Hallo, Avi… kamu masih di situ?” Hanya isak tertahan yang keluar dari mulut ku. Tangan ku gemetar, badanku terasa kaku mendengar berita yang satu ini. Bumi yang ku pijak serasa berhenti berputa, tak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar. “Avi!Avi!” Amin masih memanggil ku dari seberang. “Alloh…, Taufik….,” ucapku lemas. Horn yang ada di tangan ku terlepas begitu saja. Aku tergugu. ************** Suara tetesan hujan masih turun satu-satu di atas atap. Sesekali ku dengar desahan angin menghempas daun-daun di luar jendela di iringi dengan suara ranting basah. Jangkrik yang biasanya ramai bernyanyi kini membisu, sebisu hati ku yang sepi. Hampa. Seakan mengerti akan hati ku yang basah. Pandangan ku tak lepas dari langit-langit kamar, kemudian beralih kepada payung biru ber motif bunga- bunga kuning yang ku gantung di dinding. Payung peninggalan Taufik yang terakhir. Aku belum sempat mengembalikannya sejak sore itu. “Ach….,” desahku pendek. Batinku yang masih terguncang,masih juga belum mampu menerima berita yang ku dengar siang tadi. Sekilas teringat kembali bayangan kejadian sore terakhir bersamanya. Kamu ingin komentar ku Fik? Pergi saja ke Ambon. Kata-kata terakhir itu masih terngiang jelas di telingaku. Aku megucapkannya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku… Maafkan aku,Taufik… maafkan aku. Kriiing!!! Jam weker di atas meja Olympic mengagetkanku. Jam 02.00 dini hari. Kutekan tombol di belakangnya agar tidak terus berbunyi. Aku menarik napas panjang. Mataku belum mau terpejam, hati ku masih juga di hantui penyesalan yang mendalam. Seandainya kata-kata itu tak ku ucapkan… “Astaghfirulloh….! Ampuni aku, ya Alloh.” Aku ber istighfar, menenangkan hati ku yang terus galau. Suara detik weker se irama dengan detak jantungku yang berdebar tak karuan. Aku mencoba bangkit dari dipanku yang sudah agak tua. Kepalaku terasa pening. Mataku sembab karena tak kuasa menahan tangis sepanjang sore tadi. Tak ku hiraukan panggilan Rina yang berkali-kali mencoba menghiburku dari luar. Pintu kamar ku ku kunci dari dalam, biar tak ada seorang pun yang mengganggu kesedihan ku ini. Aku sendiri heran, mengapa aku merasa begitu terpukuldan membiarkan hatiku terlena oleh kesedihan ini. Apakah aku….. tidak! Jangan sampai virus itu menyebar di hati ku. “Astaghfirulloh….!” Kembali aku ber istighfar untuk, kemudian ku angkat tubuh ku beranjak menuju kamarmandi di belakang rumah. Aku harus menghibur diri ku sendiri dengan ‘curhat’ kepada Yang Maha Kasih. Udara terasa semakin dingin. ************* Ku usap wajah ku se usai mengucap kan salam. Mataku basah. Aku termenung, sesaat kemudian ku angkat kedua tangan di balik mukena putih ku. “Ya Alloh…apa yang telah terjadi dengan hamba? Wajarkah jika hamba mengagumi ciptaan –Mu yang agung? Salahkah bila hamba mengharap sesuatu yang belum sepantasnya hamba dapatkan?” aku memulai pengaduan ku. “Alloh…! Hamba hanyalah segelintir makhluk dari sekian banyak makhluk yang telah Engkau ciptakan dengan sepurna. Hamba hanyalah seorang hamba yang punya cita, harapan dan cinta. Cita… untuk mendapatkan maghfirah Mu agar dapat mencapai surga-Mu. Harapan… untuk bisa meninggikan kalimat-Mu. Dan cinta…” Aku terdiam agak lama. Malu rasanya mengucapkan kata yang satu ini. “Cinta… hamba tahu, hanya ada satu cinta, yaitu cinta-Mu yang agung.” Kurasakan kain putih di tangan ku semakin basah. “Tapi… mengapa mesti ada cinta lain yang ters bermain di dalam hati ku, ya Alloh? Salahkah hamba bila mengharapkan apa yang menjadi harapan hidup hamba demi masa depan hamba? Harapan yang di dasarkan atas cinta-Mu, ya Alloh? Harapan yang menjadi sunnah-Mu dan sunnah Rosul-Mu?” Tubuhku semaki terguncang, tak kuasa menahan tangis. Samar-samar kudengar di luar sana hujan sudah mulai mereda. Hanya desir angin menghempas daun jendela yang mendengar keluh-kesahku mala mini. “Ya Alloh… hamba telah khilaf. Ampuni hamba-Mu yang telah lancang mengotori cinta-Mu yang Maha Suci. Jangan biarkan cinta it uterus menyebar di dalam hati dan pikiran ku, karena… hanya ada satu cinta. Cinta kepada –Mu…” Aku membenamkan wajah ku ke dalam telapak tangan yang gemetar. Ku biarkan kalimat demikalimat mengalir dari dasar hati ku yang paling dalam. Di sini, mala mini, aku ingin menangis sepuasnya. “Hapuskanlah cinta itu ya Alloh… karena hamba tak mampu menghapuskannya tanpa bantuan-Mu. Namun, jangan Kau hapuskan cinta hamba kepada-Mu. Hamba ingin senantiasa berada dalam pelukan kasih –Mu. Aghitsny …. Ya Alloh..” Aku masih terus menangis untuk beberapa saat yang lama. Hatiku merayu rindu Kasih ku pada-Mu syahdu Munajat hamba pada-Mu Mengharap kasih sayang-Mu… Ah… ************* Hujan tadi malam membuat udara pagi ini dingin. Ku kenakan sweater merah kebesatran ku yang berukuran tripel L agar terasa hangat, kemudian melangkah keluar dan menapak di atas jalan ber kerikil. Ku hirup udara pagi ini, dan mengeluarkannya pelan-pelan. Ragu aku melangkahkan kaki melewati gerbang kampus yang ber cat krem muda. Kurasakan beberapa pasang mata menatap tajam kea rah ku. Aku menoleh benar dugaan ku. Uti dan teman-temanya tengah memandang sinis kea rah ku. Aku bergegas berlalu dari hadapanya sebelum terjadi perdebata panjang. Mataku mencari-cari sosok Amin. Aku melangkah cepat di atas koridor kemudian membelok di tikungan depan menuju secretariat BEM yang sudah seminggu ini tak penah ku kunjungi. Yah, tentulah tugas-tugas sudah menumpuk. Banyak program yang harus di lakukan pada bulan ini. Semoga Amin ada di sana. Ku letakkan tas di atas meja sesampainya di ruangan yang ku tuju dan menghampiri lemari pusaja, tempat aku menyimpan arsip-arsip. Jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul 08.20. Di ruangan ini tidak ada siapa-siapa. Sepi! Lima menit lagi Elfi datang. Biasanya aku memang memintanya untuk menemaniku di saat hatiku sedang bĂȘte. Butuh tausiyah. Aku sendiri menyesal, kenapa sore itu, saat terakhir bersama Taufik, aku tidak meminta Elfi untuk menemaniku. Pintu lemari arsip kubuka dan aku mulai untuk membenahi isinya yang sudah berdebu. Satu demi satu buku-buku kupisahkan dengan lembaran-lembaran lain. Setelah itu aku aku mulai menyusunnya kembali. Begitu pula dengan surat-surat masuk lainnya. Namun tiba-tiba mataku tertuju pada selembar amplop putih bertuliskan untuk Avi’. Surat dari siapa? Kuteliti lagi surat tersebut.warnanya putih dan sudah agak kusam karena debu.sejenak aku menghentikan kegiatanku dan beranjak menuju meja. Perlahan dan hati-hati kubuka sampul amplop yang tidak melekat dengan rapat itu. Sekilas kulihat sebuah nama di belakang kertas surat tersebut.Taufik. Dari Taufik? Aku seakan tak percaya. Belum lagi selesai kubuka surat tersebut, elfi sudah muncul di depan pintu. “Assalami’alaikum. Dari tadi Vi?” Tanya Elfi. “Walaikummus salam. Ah, enggak. Baru, kok,” Jawabku gugup sambil buru-buru menutup kembali surat di tanganku. Surat itu ku masukkan kedala saku tas depaanku. “surat dari siapa, Vi?” “Ah, engga. Bukan apa-apa. Bantu aku merapikan ruangan ini, ya?” “Oke, bos!” Tak sabar aku melangkah pulang ke kostku yang terletak agak jauh dari kampus. Tah kuhiraukan angin yang bertiup, mengantarkan debu dan asap knalpot menghampiri wajahku yang berlumur keringat. Benarkah surat itu dari Taufik? Kapan ia menulisnnya? Kira-kira apa, ya, isinya? Apa yang ia ingin katakanan kepadaku lewat surat itu? Kepalaku dipenuhi tanda Tanya. Sepertinya di hadapankuterpampang huruf besar-besar berurutn, yakni T-A-U-F-I-K, seperti yang tertera pada kertas itu. Rasa penasaranku mengalahkan rasa lapar yang sedari tadi menggiggit-gigit lambung. Aku jadi lupa untuk mampir di warung Mbok Miem. Kuraih tas yang tergeletak di sampingku dan merogoh surat yang kuselipkan di saku depanya. Tanganku mulai terasa dingin. Jantungku kembali berdegub kencang. Perlahan tapi pasti, kubuka kembali amplop yang tadi telah terbuka setengahnya. Kukeluarkan lembaran yang terlipat rpi. Teruntuk sahabatku:Uhkti Avi Firzayani. Sejak kapan menganggapku sahabatnya. Assalamu’alaikum wr. Wb. Sebelum saya mohon maaf jika sekiranya surat ini mengganggu kegiatanmu. Sebenarnya sore itu aku ingin menceritaka semuanya kepadamu. Tentang masalahku, tentang gosip yang beredar mengenai kita, tentang jabatanku sebagai ketua, juga tentang kepergianku ke ambon. Jadi ternyata benar ia pergi ke Ambon? Tapisepertinya, keadaanya saat itu tidak memungkinkan. Aku maklum, mungkin kamu berusaha untuk menghindariku karena ingin menepis omongan teman-teman tentang keadaanyang rentan’ketua dan sekertaris’aku berusaha untuk memahami hal itu. Tapi entah kenapa sejak kapan, ada sesuatu yang terasa indah bermain-main di hatiku. Aku sendiri terlambat menyadirinya. Mohon dimaafkan jika kata-kata ini tak seharusnya kuutarkan. Sekalilagi aku mohon maaf. Allahu Rabbi, kenapa virus itu juga menular kepadanya? Kurasakan kepalaku mulai berdenyut.beban batin ini terasa semakin berat. Ukhti, saat rasa itu hadir, terus terang aku menjadi bingung untuk bersikap. Saya tak tahu harus bagaimana. Dan pada saat itu saya bersyukur sekali dengan keputusan Ustadz yang bermaksud mengirim saya. Mungkin ini sudah menjadi keputusan yang Allah berikan kepada saya, karena saya merasa saya telah mengotori cinta saya kepada Allah dengan menghadirkan sesuatu yang lain. Padahal saya berusaha utuk menjadi orang yang senantiasa hidup dengan kemuliaan atau mati dalam kesyahidan. ‘isy kariiman au mut syahiidaan.” Jadi, bukan karena aku ia pergi? Kenapa aku jadi ge-er begini? Ah, aku malu pada hatiku. Aku malu, ya Allah! Tak terasa dua butir menetes dari mataku, jatuh membasahi lembar surat di tanganku. Kuhembuskan napas dan kuhirup perlahan, kemudian kembali membaca pada lembaran yang kedua. Tentang kepergianku, sebenarnya sore itu genap satu bulan saya menjalani ‘training’ untuk dikirim ke medan jihad Ambon olem divisi kepemudaan bersama teman-teman yang lain. Jadi saat kamu membaca surat ini, bisa jadi saya sudah tidak lagi berada di bandung. Sengaja surat ini tidak kutitipkan lewat teman,melainkan ku masukan ke dalam lemari arsip, karena aku tau, hanya kamu yang berhak membuka lemari tersebut. Aku menyeka air mata yang terus tumpah. Tubuhku tergumcang. Aku tak tau apa yang kurasakan seperti apa yang kurasakan? Tapi untuk apa? Apa gunanya?toh ia kini telah syahid. “Astagfirullah.” Ukhti, mohon dimaafkan kalau saya terllu jujur mengungkapkan ini semua. Bukan maksud saya untuk memberikan harapan baru kepadamu. Tapi untuk mengingatkan saya pribadi, juga kamu, bahwa hanya satu cinta, cinta kepada sang khaliq. Cinta yang indah, cinta abadi, bukan sekedar cinta yang semu. Ada satu hal yang yang saya rasa perlu saya sampaikan kepadamu, walaupun sebenarnya itu terutama untuk saya sendiri.saya berharap dengan semua rasa itu kita tidak menjadi orang yang sentimental, lantas meninggalkan semua amanah ini. Saya berharap kamu tetap tegar. Saya yakin kamu memahami akan hal iti. Medan dakwah kita memang menuntun untuk mempersiapkan diri terutama hati ini dengan lebih baik. Saya mohon maaf jika telah mengganggu nuansa hatimu. Sesungguhnya saya pun tak meng hendaki dan tak sanggupmenghilangkannya. Yang saya pahami, bagaimana membingkainya agar tidak menjadi pelanggaran dan kefatalan. Hanya jika ia menetapkan cinta itu untuk Allah, maka Allah akan memberikan balasan kepadanya dengan yang lebih suci. Para malaikat akan senantiasa mendo’akan. Darinya Allah memberikan keturunan yang menjadi penghibur baginya di dunia. Cinta itu menjadi cahaya baginya di dalam kubur.menjadi kebahagiaan baginya di akhirat kelak. Bukankah itu menjadi cita-cita setiap kita? Semog kau dapat mengerti. Selamat berjuang. Semoga Allah menyatukan kita dalam barisan orang-orang yang teguh dalam perjuangan. Maafkan saya. Tsummas salam. Sahabatmu,Taufik Aku tergugu.aku… aku mlu. Aku seharusnya iri kepadanya yang kini telah mendapatkan kemulian-Nya. Sedangakan aku? Menghadapi maut pun aku masih takut. “Ya Allah… terima kasih telah kautunjukan jalanya. Hamba mohon, luruskan dan bersihkan ‘cinta’ itu di dalam diri hamba.” Aku terisak sendiri. Cinta itu fitrah. Jangan kaubunuh cinta itu. Aku jadi teringat kata-kata pujangga kesayanganku. “jika demikian, biarkan cinta ini bersemayam demi cintaku kepada engkau, ya Allah.” Masih dengan terisak, kulipat kembalisurat itu dengan rapi. Kuhembuskan napasku. Ah, Taufik. Akan kuingan pesan ini. Medan dakwah kita memang menuntut untuk mempersiapkan diri,terutama hati ini dengan lebih baik. Kalimat itu terngiang-ngiang di telingaku. Di luar kembali terdengar suara angin berhembus kencang. Cuaca kembali mendung. Dedaunan kering gugur satu per satu, melayang di hempas angin, kemudian jatuh menyapa bumi. “Taufik, kepadamu cinta ini kutitipkan. Cinta yang suci. Cinta kepada sang pencinta .” aku bergumam pelan sambil meletakan kepala di atas bantal. Kukatupkan kedua kelopak mataku.Dalam hatiku, ada sesuatu yang hangat menjalar menyertai aliran darah. Sesuatu yang indah. Sesuatu yang… Allah… Aku terlelap. . ************* By : Isya Setyaningsih Ttl : Cilacap, 28 Oktober 1994 Kelas : XII-IPA
Pena Yuri Ditengah kicau burung yang berdendang ria menambah taburan bunga dihati Nina. Senyum renyah yang jarang terlihat diraut wajahnya yang cerah kini mengembang bersama lamunannya. Namun, lamunan yang matang itu tiba-tiba pecah karena ketukan pintu dengan teriakan seorang gadis yang membuyarkan kesunyian. “Nin…..Nina!!! buka pintunya!!!”, teriak cempreng gadis itu. Dengan lunglai dan langkah seolah menyeret kakinya diatas lantai, lalu Nina membuka pintunya. Alangkah kagetnya ketika dia melihat sosok gadis yang jangkung berdiri dengan senyum mengembang diwajahnya. Jantung Nina seolah meloncat kesana kemari tak percaya dengan apa yang dilihat matanya. “Dimana rambut hitam panjang loe ri ? Kamu apakan mahkota loe yang selama ini tergerai indah ? apakah kamu sakit ?”Tanya Nina bertubitubi sambil menempelkan tangannya di dahi Yuri.”Suurpricee ……!!!!! “Gimana gaya rambut gue sekarang ? keren kan ?” katanya santai sambil menyenggol bahu Nina dengan bahunya.”Kapan loe mangkas rambut loe ri ?” Yuri hanya diam tanpa menjawab pertanyaan sahabat kentalnya itu. Dering jam beker membuyarkan mimpi indah Yuri, srapan pagi sudah menanti kedatangan Yuri. Setelah siap dengan seragam putih abu-abunya Yuri langsung pamit kepada orng tuanya yang selalu memanjakannya. Setelah berpamitan Yuri langsung meluncur menaiki motor kesayangannya menuju sekolahnya yang lumayan jauh dari rumahnya. Diparkirkan motor maticnya di deretan terdepan parkiran sekolahnya. Tatapan aneh para siswa yangYUri lewati membuatnya salah tingkah. Akhirnya Yuri langsung lari menujuNina. “Apa ada yang salah dari gue ????” tanyanya mengawali pembicaraan. ‘Loh kenapa Ri ?” jawab Nina tanpa menghiraukan pertanyaan Yuri. “Semua anak buat gue grogi tau nggak, semua memandang aneh banget seolah ngeliat anak ayam naik motor”. Nina tersenyum mendengar kata-kata yang muncul dari bibir manis Yuri sembari berkata “mereka heran sama gaya rambut loe yang gila itu.” Yuri hanya memanyunkan bibirnya. Nina pun tersenyum asam. Pandangan Yuri kian tajam saat seorang laki-laki melewatinya dengan tatapan sinis. “Kenapa sih dia?”Tanya Yuri. “Pena maksud loe?”sahut Nina. Yuri hanya menganggukkan kepalanya. “dia sirik kale sama loe, gara-gara loe mangkas rambut loe persis kaya dia”. “Haaaaggghhhhh………..apa nggak salah?” heran Yuri. Yuri dan Pena memang mempunyai wajah yang mirip. Bahkan teman-temannya menjulukinya sikembar. Ditambah lagi gaya rambut yuri yang sekarang pendek jadilah mereka kaya upin dan ipin. meninggalkan ruang kelas yang nampak tua itu. Dengan langkah berat Yuri menghampiri Pena yang sedang duduk sedang duduk santai dikantin. Yuri menyapanya. Yuri memang tampak simpatik pada cowok tampan itu. Akhirnya mereka ngobrol ngalor ngidul dari yang jelas sampai yang ngga jelas banget. Terlihat tawa renyah dari Pena mendengar candaan Yuri. Hari demi hari mereka semakin akrab. Yuri sekarang lebih perhatian pada Pena, begitu pula sebaliknya. Diam – diam Yuri menyembunyikan perasaan sukanya pada Pena. Pena yang dari jaman bahola terlihat cuek kini sedikit berubah jadi perhatian. Dikantin sekolah “Nis ntar pulang bareng gue ya?” ajak Yuri “ehmmmm ………………..kaya’nya gue ga bisa Ri, kembaran loe tuh” “Ri pulang bareng gue mau nggak ?” tanya Pena. “ Uuuugh jelas nggak bakal nolak ……” ledek Nina. “ Huuush!!! Berisik banget sich loe!! Bentak Yuri sembari meletakan jari telunjulnya dibibir. Akhirnya pada saat bel sekolah berdering pertanda berakhirnya pelajaran pada hari itu. Penapun mendekati Yuri yang sedang memasukkan buku dan alat – alat tulis lainnya kedalam tas mungilnya. Mereka naik motor masing- masing dan berdampingan menyusuri jalan bagaikan seorang mempelai karpet merah. Hening, Pena turun dari motornya dan mendekati Yuri. Senyum masam mengembang dibibir Yuri seolah menahan tawa yang dibendung- bendung. “ Kenapa kamu Pen? Tanya Yuri dengan senyum masamnya. “Gue? “tanya Pena balik. “ Ya….”jawab Yuri singkat. “Gue nggak kenapa- kenapa, emang kenapa? “ tanyanya heran. Yuri tidak menjawab pertanyaan yang diajukan cowok jangkung itu. Tiba-tiba ditengah perjalanan sebuah mobil berwarna merah setepang bulu ayam jago itu menghampiri Yuri dan Pena. Sesosok cowok bertubuh sedang dengan jabriknya yang sepanjang rel itu turun dan menyapa Yuri. “ Hai Ri “ sapanya dengan senyum yang lumayan manis, eegh ralat-ralat emang manis!. “ Egh kak Julian, ada apa? “ tanyanya. “ Gue disuruh jemput loe, Andri lagi disuruh beli sesuatu sama nyokap loe. “ Huugh……selalu deh mama gitu, kapan sich kak Andri jemput gue? Sahut Yuri kesal. “siapa Ri? tanya Pena seolah terlupakan. “ Egh…..ni kak Julian teman kakak gue, kak Julian ini Pena”. Oooh jadi ini kembaran loe, “ balas Julian. “ Huush jangan bilang-bilang kak ucap Yuri lirih. “ Haagh kembaran?” heran Pena. Ehemm…. Nggak kok kak Julian emang suka ngasal, jawab Yuri gugup. Julian hanya manggut-manggut tak berdosa. “ Hemm ya udah pulang yuk”. Kata cowok manis itu. “ Ya kak, kakak duluan aja, ya udah gue pulang dulu ya Pen”, pamit Yuri. Pena hanya mengangguk kepala akhirnya Yuri pulang bersama Julian yang nggak lain adalah sahabat kakaknya. Sekaligus teman curhat Yuri yang dengan sabarnya mendengar ocehan-ocehan Yuri setiap hari, setiap jam, setiap detik. Acara makan siang baru saja selesai. Beberapa detik kemudian Yuri pamit keluar untuk membeli alat-alat yang sudah ditulis dalam catatan kecil seperti contekan, bersama Julian. Sesampai ditoko Yuri langsung menuju alat-alat yang akan dibeli. Saat akan mengambil Yuri memandang ke sekeliling, tanpa sengaja ia melihat seseorang yang ia kenal, egh emang kenal. Itu Pena? Yuri melongo. Ngapain ia jalan sama cewek? batinnya kesal hatinya hancur bagaikan kaleng yang ditendang orang terus diinjak dan terlindas truk. Bening air menetes dari mata indah Yuri. Yuri menangis? Wow…..dengan menahan tetes bening mengalir lagi, Yuri menghampiri Pena. “ Hai Pena” sapa Yuri dengan lesu. “ Hai….Yuri gi apa? Jawab Sakti. Gue? tanya Yuri bego. “ Ya”. “ Hemm gue…..gue…..lagi, lagi nunggu Julian, eh nggak…. Gue lagi, Gue? Tanya Yuri bego. “Ya”. “Ehmm gue…. gue…. Lagi, nunggu Julian, eegh ga…. Gue lagi beli alat tulis. “kamu kenapa? Tanya cewekkk imut yang bersama Pena. “Yuri dian. Ri, kenalin ini miankan sobat gue, ucap Pena. “Yuri” kata Yuri sembari mengulurkan tangannya. “Mianka, sembarimenyambutuluran tangan Yuri. “Yuri….” Panggil Julian. “Ya” jawabYurimasih kedengeran bego. Lalu tanpa basa basi. Julian menarik tangan Yuri sambil melemparkan senyuman untuk Pena dan Mianka. Yuri nurut tanpa bicara sepatah kata pun. “Kmau kenapa?” tanya Julian khawatir. “Pena…” jawab Yuri terpotong. “YaPena kenapa?” tanya Julian makin khawatir. “Pena udah punya cewek” jawab Yuri dengan tampang sangat memelas. Sunggug tidak tega melihat tampang itu. “Heemb… jangan nyimpulin sesuatu buru-buru . Mungkin Pena memang hanya bersahabat dengan Mianka,”tanggap Julian menenangkan. Pagi cerah, Yuri masih lesu, dia berangkat dengan tampang yang masih sangat memelas. Sesampai di sekolah Yuri langsung menuju kelas dan langsung duduk ditempat peraduannya. Nina yang juga baru datang seolah mendapat panggilan untuk menghampiri Yuri. “kenapa loe ri..?” tanyanya perhatian.Yuri hanya diam dengan pandangan kosongnya. Yuri jadi lesu dan perasaan sukanya yang dulu hanya untuk Pena berubah menjadi rasa benci. Yuri berdiri dan “Aduuuggh…..!!!!! monyong nech meja!!! Kenapa juga ada disitu!!!!” bentak yuri. Kakinya berdenyut lantaran menabrak meja di depanya. “sakit ri?” tanya Pena yang baru datang. “gak Cuma geli!! Udah tau sakit bukannya nolongin malah nanya!” “Idiiiiiiiigh dasar …….. kenapa loe? Orang tanya baik-baik dasar galak!”. “Pen, loe urus ajah jabrik loe yang kayak semak-semak itu. Gak usah urusin sifat gue!”. “hahahaha….” Pena ngakak. “walah-walah loe mulai perhatian ya ma gue. Kok tau kalau gue belon nata jabrik gue”, ledek Pena. Grrrrrrghh !!!!!! sesaat Yuri meninggalkan si cowok jangkung itu.” Haugh dasar jelek!” gerutu Yuri dalam hati. Eeeh …. Gak jelek kok sebelas duabelas sama 2ac Efron lah! Cuma kalau senyumnya agak manis. Dadanya juga bidang banget, rasanya enak kali merebahkan kepala di sana. Uupss!!! Ralat-ralat, mestinya kan gue jengkel sama dia, lah kok ini kebalik?. Yuri, Pena, dan Nina pulang sekolah harus menjaga perpus” jangan di tekuk gitu dong mukanya. Nanti gak ada yang mau pinjem buku loch” canda Pena. “Mestinya bukan gue yang tugas sekarang. Gueu mau pergi,” kata Yuri kesal. “Bilang ajaloe tue berdebar-debar di sebelah gue, pake alasan mau pergi segala,” goda Pena. “ Iiiiiigh…….sapa juga yang mau di sebelah loe. Mending gue jalan di samping orang gila.” “Orang gila??? Mata loe katarak gak ri? Masa gue di bandingin orang gila, ya jauhlah…..” “emang loe mau di bandingin sama siapa? Kevin julio? Lebih jauuuuh lagi!” Pena tersenyum nakal, “ loch kok tau sikalo gue mirip dia. Aduuuuh ……… gue gak nyangka, berarti diem-diem loe tuh perhatian banget ya. Makasih loh Mrs. Galak. Ubun-ubun Yuri langsung mendidih 100○. Dan panas itu menjalar kemukanya. Nyebelin banget cowok bernama Pena ini !!!! “emang kalau galak kenapa?” sangkal Yuri. “Yeeee elagh….. dari sikap aja udah membuktikan hatinya-galak, hahahaha…..” “sakti reeeseee !!!!!” teriak Yuri kesal. Sembari meninggalkan Pena. Setelah cukup lama Yuri kembali keperpus, tanpa disadari perpus ramai sampai penuh sesak. Ditengah himpitan sekeliling Yuri mengambil buku berusaha enjoy. “Emang narsis thu cewek. Bikin gue sebel, jengkel, tapi juga kangen”. Suara itu berasal dari himpitan orang-orang dalam perpus. Namun hanya Yuri yang menyima. Sementara Syan lagi lagi asik plarak plirik sambil mengunyah permen karetnya. Yuri menajamkan telinganya untuk mendengar pemberitaan yang tidak seharusnya Yuri dengar. “Ya udah tembak aja, “ ucap syam santai. “enak aja main tembak kalau ditolak, muka gue mau ditaro dimana Man?”. “Weeeeiiiii, something fimiliar? Itu khan suara Pena!” ucap Yuri lirih. Tanpa bisa dicegah tiba-tiba detak jantung Yuri berlomba-lomba menciptakan detakan. Jadi Pena naksir cewek????? Siapa yaa??? Rasanya si tu anak very cool, sama semua orang ramah. Uuugh….. kok tiba-tiba ada sakit di dadanya. Tiba-tiba Syan mendekati yuri. “Ri, kenapa loe narik nafas panjang gitu??? Keselek???” tanya Syan. “lagi banyak pikiran ya? Mikir si Pena sontoloyo itu? Pantes loe banyak berubah”, tambah Syan. “Yeeiii, memang orang gak boleh berubah? Sangkal Yuri. “Masalahnya siapa yang bisa bikin loe berubah! Hayoo….. ngaku! Ntar gue ke toilet dulu. Tungguin ya! Jawab Syan. Duuh…… monyong bener si Syan. Masa si gue beneran naksir Pena, batin yuri. Yuri meregakan tubuhnya, agaknya obrolan yang tadi di dengarnya masih berlanjut. “Dia tu mandiri banget. Rasanya gak butuh cowok deh” itu suara Pena. “mana bisa begitu. Perempuan dan laki-laki kan di takdirkan simbiosis mutualisme Pen” Jelas Syam. “Jadi gimana? Udah dipancing-pancing ngledekin galaknya eehhh…. Malah dia malah jutek. Sensi banget berarti selama ini ngak ada hati sama gue. Iigghhh…. Mending berenang sama ikan hiu dech dari pada ditolak. Yuri mencubit tangannya. Ini mimpi bukan sih? Sebenarnya Pena itu lagi ngomongin tentang dia atau orang lain? Tapi ko’ galak-galak?? “Datangin aja. Mumpung dia lagi bingung tuh…”. Haaaaggghh??? Loh, loh itu suara Syan. Yuri mematung ditempat. Dia tak berani menoleh kebelakang ini kudeta ya? Blank buntu. Burem hadooohh……!!!!!, batin Yuri “Syan biarin aja Pena ngurusin dirinya sendiri. Siapa tahu minggu depan kita bisa double dat. Iya khand?”. Beribu topan badai, bebegig sawah ! Syan ternyata berkomplot dengan Sena dan Nina. Yuri lemas dan duduk lemah dikursi. “RI”, Yuri menoleh kursi dikiri kanannya kosong memudahkan Pena duduk disampingnya. Hei kemana orang-orang ini? Kok tiba-tiba saja ruangan ini seperti melompong. Kosong, hanya gue dan Pena? Tak penuh sesak kaya tadi, batin Yuri. “Eh Pen, ngapain loe? Preeeeetttt……pertanyaan ngak penting!!!!!!. “Gue…..mau duduk aja. Cape’ dari tadi jaga, kalau loe?”, tanya Pena. “Kalau gue…….. ehmmm….. gue…. Gue nungguin Syan. Katanya tadi dia ketoilet bentar”, jawab Yuri “Dia udagh dikantin ama Nina. Kamu mau kekantin juga?” tanya Sena berharap. “Aku mau pulang aja”. Huuugghh…. Ngak sedep kekantin”, kata Yuri sembari memalingkan kepala. Aduuugghhh….. kenap yang keluar dari mulutku seperti itu. Aduuugghh gue kan mau kekantin ama loe Pena. Pliiiissss…… pliiisss…… bisa diralat ngak kata-kata gue tadi ya? “Hmm….. gitu ya. Aku juga boong ko’ mau ajak loe kekantin. Ayo kita pulang aja. Ku antar pulang loe samapi depan pintu Mrs galak”, ledek Pena. Suara itu bersahabat banget. Yuri merasa hangat, indah, dingin, campur aduk jadi satu dihatinya. “kenapa? Ngak mau juga gue antar pulang?”. “Bukan. Kamu ko’ jadi baik gini ama gue? Gue kaann….” “Galak?, potong Pena. “Hmm…… biarpun loe galak sebenarnya loe baik lagi, punya jiwa sosial tinggi pula. Gue mau lebih dari sekedar berteman kalau bolegh,” jelas Pena. Buseeettt….. Pena!!!!! Amazing !!! tentu aja boleh!!!!! Asal loe ngak terganggu dengan galak gue ini, histeri Yuri dalam hati. Saat Pena menggenggam tangannya. Dia berfikir kalau minggu depan dia bisa double date dengan Nina dan Syan, kedua sahabat kental Yuri dan Pena. BY.ISMY YUNDARI
Gadis Cerdas, Gadis Impian Ada seorang pemuda Arab tanpan, shalih, dan sangat cerdas. Dan ingin menikah dengan gadis sholihah dan cerdas seperti dirinya. Maka, mulailah dia mengembara dari satu kabilah ke kabilah lain, untuk mencari gadis impiannya. Suatu ketika, dia berjalan kabilah di Yaman. Di tengah perjalanan, dia berjumpa dengan dengan seorang lelaki. Akhirnya, dia berjalan dengan lelaki itu. Pemuda itu menyapa, “Hai, Tuan, apakah kau bisa membawaku dan aku membawamu?” Spontan lelaki itu menjawad “ Hai bodoh, kau ini bagaimana? Aku menunggang kuda dan kau juga menunggang kuda. Bagaimana kita saling membawa?” Pemuda itu diam saja mendengar jawaban lelaki itu. Kemudia, keduanya melanjutkan perjalanan. Lalu, mereka melewati sebuah kampung. Kampung itu yang dikelilingi oleh kebun yang sudah tiba masa panennya. Pemuda itu bertanya.”Menurutmu , buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya atau belum ya?” Seketika. Lelaki itu menjawab.”Pertanyaanmu itu aneh sekali! Kamu sendiri melihat dengan mata dan kepalamu, buah-buahnan tiu masih di pohonya dan belum dipanen, kok kamu bertanya, apakah buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya atau belum?” Pemuda itu hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan pemuda itu. Kemudian, keduanya perjalanan. Baru sebentar berjalan, mereka bertemu dengan ornag-orang yang sedang mengelilngi jenazah. Pemuda itu berkata, “Menurutmu, yang diiringi dalam keranda itu masih hidup apa sudah mati, ya?” Lelaki itu mtidak paham denganmu. Aku tidak pernah menemuka pemuda yang lebih bodoh darimu. Ya, jelas! Jenazah itu akan dibawa kekuburan. Tentu dia sudah mati.” Pemuda itu kembali diam dan tidak menjawab sedikit pun atas komentar lelaki itu. Akhirnya, keduanya samapi dirumah lelaki tiu. Dia menajak lelaki tiu menginap dirumahnya. Dia mersa kasiahn, sebab pemuda itu terlihat sudah sangat letih. lelaki itu memiliki seorang gadis yang sangat cantik. Begitu tahu ada seorang tamu menginap, anak gadisnya itu bertanya,”Ayah, siapa iu?” “Dia pemuda paling bodoh yang pernah aku temukan,”jawab ayahnya. Anak gadis itu malah penasaran. Dia mengejar dengan pertanyaan berikutnya,”Bodoh bagaiman?” Ayahnya langsung menceritakan wal pertemuannya dengan pemuda itu dan segala perkataan serta pertanyaannya. Mendengar ceriita ayahnya, anak gadis itu berkata,”Ayah ini bagaimana? Dia itu tidak bodoh. Justru ddia sangat cerdas dan pandai. Kata-ktanya mengandung mekna tersiarat. Ketika dia mengatakan, “apakah kau bisa membawaku dan aku membawamu?”, sebenarnya maksudnya adalah ‘apakah kita bisa saling berbincang-bincang sehingga bisa membawa kita pada suasana lebih akrab?’ ketika dia mengatakan, ‘Buah-buahan itu suadah dimakan oleh pemiliknya atau belum?’ ia memaksudkan,’Apakah pemiliknya sudah menjualnya ketika belum panen, atau belum?’ sebab, jika kita menjualnya, pemiliknya tentu menerima uangnya dan membelanjakan untuk makan dia dan keluarganya. Kemudian, ketika dia bertanya,’apakah jenazah di dalam keranda itu masih hidup atau sudah mati?’ Maksudnya.’apakah jenazah itu memiliki anak yang bisa melanjutkan perjuanganya atau tidak?’ Setelah mendengar apa yang dikatakan putrinya, lelaki itu keluar menemui pemuda itu. Dia meminta maaf atas perkataannya yang membodoh-bodohkan pemuda itu. Keduanya lalu berbincang-bincang. Lelaki itu berkata,”sekarang aku baru tahu maksud pertanyaan-pertanyaanmu dalam perjalann tadi” Lalu. Dia menjelaskan seperti yang dikatakan putrinya. Mendengar itu, sang pemuda bertanya, “Saya yaqin itu bukan lahir dari pikiranmu sendiri dan bukan perkataanmu, demi Allah, katakanlah padaku siapa yang mengatakan?” “yang mengatakan hal itu adalah putriku,” jawab lelaki itu. Spontan pemuda itu berkata,”Apakah kau mau menikahkan aku denga putrimu?” “ya” Begitulah, setelah melalui pengembaraan panjang, akhirnya pemuda itu menemukan pendamping hidup yang dia impikan. ~The End~ BY.HUSIN ABDUL LATIF
Ada yang hilang… Udara setelah shubuh memang begitu dingin di pesantren Al Ihsan. Seluruh santri dengan khidmat dan khusyu’ melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Tetesan embun selalu menyemarakkan peristiwa pasca-shubuh. Allah SWT senantiasa mencurahkan berkahnya kepada hamba-hamba-Nya yang tidak lalai dalam mengingat-Nya. Seakan-akan pagi itu menjadi saksi akan turunnya keberkahan Allah kepada santri-santri pesantren Al Ihsan.   Seperti biasa selesai membaca Al-Qur’an seluruh santri kembali ke kamar dan mempersiapkan diri mereka untuk masuk kelas. Namun pagi itu, Ust. Ali memanggil Irfan ke kamarnya.  Di kamar Ust. Ali, Irfan duduk dan di hadapannya duduk Ust. Ali. “ Kenapa akhir-akhir ini kamu nakal, Fan? Tanya Ust. Ali, ingat kamu bukan anak baru lagi. Kamu sudah kelas dua belas di sini. Jelas Ust. Ali”. “Nggak ada apa-apa, Ustadz. Jawab Irfan menunduk” “Dulu kamu tidak seperti ini, kenapa sekarang bandel? Pasti kamu punya masalah.    Ustadz Ali dikenal sebagai orang yang tegas, berwibawa dan ta’at peraturan. Di samping itu beliau juga ramah dan sering membantu santri yang sedang kesusahan. Suatu hari ia pernah meminjamkan uang kepada seoarang santri yang belum melunasi SPP untuk syarat mengikuti ujian akhir kelulusan. Kini Irfan sedang punya masalah, ia pun tidak tinggal diam. Baginya santri yang belajar di pesantren Al Ihsan adalah amanat. Bila amanat itu rusak maka hilanglah kepercayaan masyarakat. Selain itu beliau juga mengamalkan hadist Rasulullah SAW yang berbunyi: Laa imaana liman laa amaanata. Tidaklah beriman orang yang tidak beramanat. Amanat bagi Ust. Ali adalah seluruh santri. Irfan meneruskan jawabannya: “ Saya bosan di sini,.” “ Kalau bosan sih bisa dibuang. Kamu harus rajin beribadah, Fan!” “ Iya, tadz, saya mengerti.” “ Ya sudah! Kalau perlu izin, pulang saja dua atau tiga hari, tawar Ust. Ali.” “ Iya, tadz. Saya minta izin pulang tiga hari saja.. Saya mau ketemu orang tua.” “ Kalau begitu, Ustadz tuliskan surat izin buat kamu sekarang sekalian tashdiq untuk tidak masuk kelasnya juga.”    Pukul 08.00 tepat Irfan meninggalkan pesantren. Dia berniat ketika sampai di rumah akan memperbarui niatnya dalam belajar. Ia juga ingin meminta nasihat ayahnya dan ibunya.    Ketika ia sampai di persimpangan jalan ia melihat sebuah bendera putih terpasang di tiang listrik di belokan menuju rumahnya. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji”uun, ucap Irfan dalam hati. Siapa yang meninggal? Tanyanya dalam hati.     Irfan meneruskan langkahnya. Dalam hatinya ia merindukan sosok ibunya yang selalu memberikannya kehangatan. Ia selalu bergantung pada ibunya saat mendapatkan suatu masalah. Ibunya pun selalu menolongnya dengan penuh perhatin kepada anak satu-satunya, si Irfan. Irfan terlalu manja maka ayahnya pun mengirimnya ke pesantren agar ia bisa mandiri walau itu berat baginya dan ibunya. Sudah enam bulan Irfan belum bertemu lagi dengan ibunya setelah Ramadhan lalu. Ia hanya sempat berbincang dengan ibunya satu bulan yang lalu melalui telepon. Di telepon, ibunya berpesan agar ia tidak pernah lupa pada janjinya dahulu ketika masuk pesantren untuk belajar dan menjadi anak yang shaleh dan pintar.     Sebentar lagi Irfan akan bertemu dengan sosok yang sangat dirindukannya itu. Ia membayangkan ia akan dibukakan pintu oleh ibu dengan penuh kehangatan. Ia terus mempercepat langkahnya.    Beberapa meter dari rumahnya, ia melihat orang-orang berkumpul di sana. Wajah mereka menampakkan gurat-gurat kesedihan. Di anatara mereka terdapat sanak familinya juga. Ia tertegun melihat bendera kuning di pagar rumahnya. Ia hanya hidup bersama ayah dan ibu, lalu siapa yang meninggal? Lirihnya. Jantungnya berdegup kencang. Dari jauh Paman Manshur menyadari kedatangannya dan bergegas menghampirinya. “ Irfan sudah pulang. Tadi Paman Rahmat baru mau jemput kamu ke pesantren. Ucap paman Manshur berusaha tersenyum. Ayah ada di dalam sedang menemani tamu yang datang…Dalam benak Irfan tersirat, kalau ayah ada berarti… “ Ibuuuuuuuuuuuuuuu… di mana? Air matanya meleleh. Fan, kamu mesti sabar. Allah bersama orang-orang yang sabar. Sekarang ibu beristirahat. Penyakit jantung ibu kambuh. Dan ternyata Allah sayang sama ibu… “ Ibuuu… Irfan berlari dengan air mata berlinang manjauh dari paman Manshur yang juga mengalirkan air matanya.     Siang itu juga jenazah ibu Irfan dimakamkan. Irfan teringat janjinya dulu ketika ia baru masuk pesantren bahwa ia tidak akan manja dan cengeng lagi dan ia juga haurus belajar dengan giat.     Seusai pemakaman, ayah Irfan berdiri di sisinya mengingatkan: “ Fan! jangan nangis lagi, ya! Kasihan ibu kalau melihat kamu nangis. Nanti ibu juga sedih… Kamu udah makan belum? Tanya ayah. Belum, yah! Jawab Irfan berusaha memahami dan tegar mengahadapi cobaan ini.“   OK! Sekarang kita makan dulu. Nanti malam kita yasinan di rumah.”  Mereka pun kembali ke rumah dengan mengendarai mobil mereka. Di dalam hati Irfan berusaha untuk tabah dan mulai menepati janji yang belum sempat ia tepati pada ibunya. Ia terus Manahan kesedihan yang dalam itu.    Setelah tiga hari di rumah. Irfan kembali ke pesantren. berita tentang dirinya telah tersebar dan pihak pesantren pun mengucapkan rasa bela sungkawa sedalam-dalamnya. Kini Irfan menjalani aktifitasnya di pesantren sebagai seorang santriwan yang sholih dan taat pada peraturan pesantrennya. Seperti apa yang di inginkan oleh mendiang ibunya. ********* Nama : Fajriati Dwi Lestari Ttl : Cilacap, 03 Februari 1994 Kelas : XII-IPA