Selasa, 10 Juli 2012

Cinta Pertama Seiring berjalan nya waktu aku yg dulu kecil, polos, dan tak mengerti apa"..sekarang aku (enny ) tlah beranjak remaja yang berusia 17 tahun,.. karakter dan sifat yang ku punya adalah seorang remaja yang tergolong pendiam, dan tak terlalu mempersoal kan masalah asmara bisa di bilang cuek untuk remeja seumuran aku yg semestinya sedang indah" nya menikmati cinta monyet... aku putus sekolah sejak SMP jadi mau tak mau aku harus bisa mengisi hari" ku dengan belajar mencari uang sendiri , ea sekedar untuk jajan sendiri walau tak begitu serius bekerja..,, suatu ketika aku di ajak seorang teman sekelasku yang bernama IPAH untuk merantau ke salah satu kota yaitu kota BANDUNG,,, saat itu usia ku menginjak 18 taunan.. betapa senang nya aku mendengar ajakan itu dan langsung aku setujui karna sudah dari dulu aku ingin merantau/ kerja di luar kota.. dengan bekal mental dan keberanian aku perrgi bersama temen ku ke bandung dengan tekad yang bulat,, singkat cerita sesampaikan di tempat yang aku tuju ,, ternyata di sana juga banyak teman sekampungku yg juga bekerja alhasil aku makin semangat untuk bekerja di tempat itu....hari berganti minggu .. aku mulai merasa nyaman di tempat kerja ku itu apalagi di tambah dengan kehadirannya seorang pemuda manis yang selalu menarik perhatian ku... namanya RIKI ,dia salah satu karyawan kepercayaan bos ku.. semakin hari dia semakin menunjukan perhatian nya padaku,, maklum sepekerjaan ,, jadi tak ada waktu yg terlewat oleh kami berdua untuk slalu bersama"... setelas 1 bulan pendekatan dia mulai menyatakan perasaanya padaku,, betapa senang nya hatiku mendengar pernyataan dia karna memang dari awal aku melihat dia sudah menyimpan rasa suka ... 8 bulan tlah kita lewati bersama susah maupun senang,, saat" cape bekerja pun tak pernah kita rasakan cape karna stu sama lain saling menyemangati...,, sampai pada ahirnya dia berniat baik pada ku dan ingin lebih melanjutkan hubungan ini ke keluarga masing".. dia ku perkenalkan pada ke 2 orang tua ku dan akupun sama di kenal kan pda ortu dia.... tak ada hambatan bagi ke dua belah pihak keluarga mereka semua merestui....,,, alangkah bahagia nya aku saat itu dan berucap" sukur pada allah ,, munggkin dialah leleki yg selama i i aku nanti..  ku serahkan semuarasa sayang dan cintaku karna aku yakin dia lah calon suamiku.. dan tak pernah aku tega sedikit pun aku melukai hatinya..karna betapa sayang nya aku sama dia...lebih" dia berniat minikahi ku tahun 2011 ini.. tapi ada satu kendala yg buat aku gak betah terus" bekerja di situ,,pekerjaan yg terlalu cape untuk ukuran cewe seperti aku...,, jadi dengan terpaksa aku keluar dari tempat kerja itu dan nyari kerjaan laennn....  memang berat banget ninggalin dia di sana yang sudah terbiasa akan kehadiran aku di setiap detik waktu nya... tapi allah ngasi jalan lain... mau gk mau kta pisan kerja ... danwaktu yg bisa kta pake buat bersama " hanya seminggu sekali.. 1-2 bulan berlalu seteleh aku pisah kerja sama dia... dan pada suatu hari aku sakit .. aku kasi tau dia kalo aku sakit udah hampir seminggu aku berharap dia menjengukku dan ada di samping aku.. pasti akan jadi kekuatan bagi aku untuk sembuh karna dia ada di samping aku....namun keinginan ku tak jua dia dengar selalu ada aja alasan yg bikin dia gak nengok aku... sakit banget dan hati bertanya " apa dia memang udah gak sayang lagi sama aku.. dan ada apa sama dia hingga dia setega itu sama aku.. rasa sakit di raga ini makin parah di tambah rsa sakit hati .... sakit ku mlah makin parah... tak ada satu pun pesan dari dia untuk aku ...hanya satu jha.. " moga cepet sembuh say "..hanya kalimat itu yg ada di pesan inboxku... dan pada suatu malam jam menunjukan pukul 23.00 tepat dmn dia biasa nya baru menyelesaikan tugas lemburnya.. dering handphonku berbunyi tanda pesan masuk.. dan ku lihat 1 pesan dari dia yg mungkin mengabarkan dia akan datang jengukin aku... setelah aku psan itu berisikan kata " say maaf mungkin hubungan ini udah gak bisa lanjutin lagi mungkin kamu sama aku bukan jodoh.., maafin aku ya moga kamu bisa ngerti " sekejap aku terbangun dari tidur ku da mencoba meyakin kan bahwa aku tidak bermimpi dan sms iitu benar ada nya........... aku mencoba tenang dan membalas sms itu . " apa yang kamu katakan aa ,, enny gak percaya ? apa ini bener ? apa salah enny ? " "gak pernah terfikir sama enny kalo aa bakal ngomong gtu..enny gak percaya... kata" yg ku kirim pada nya....dan balasan nya singkat sekali "maafin aa enny ...semoga enny dapat yang lebih dari aa".. demi allah detik itu juga aku gak kuat dengernya.. seketika air mata ini mengucur deras dari mata aku,, sakit , tanda tanya besar , dan rasa gak percaya berkecamuk di hati dan pikiran aku.. dan dari situ aku sakit lebih parah lagi.... sampe kira" 2 bulan aku gk bisa apa"..  gak ada kabar dari dia gak ada jejaknya... ya tuhan mengapa baru pertama aku merasakan yang namanya sayang banget sama cowo ,, tapi rasa sakit yang ahir nya aku dapat... "RIKI AKU AKAN TETEP SAYANG SAMA KAMU WALAUPUN KAMU UDAH NYAKITIN AKU "... BY.YULIANA
MABOEK C.I.N.T.A Ketika itu, di malam hari yang penuh dengan kegelapan, dengan hati yang tak karuan, diliputi dengan kegelisahan, di malam itu hujan membasahi pipiku. Tak kurasa sudah 5 jam berlalu hujan terus membasahi pipiku yang sangat kering ini. Hatiku gelisah, hatiku resah, entah apa yang kurasakan. Setelah semua itu berlalu, dan hatiku menjadi beku, tiada yang menghiburku,sungguh malangnya nasibku.. setelah itu aku mencoba untuk bangun dari kesedihanku. Aku mulai berjalan mengikuti arah awan yang tak menentu. Beberapa saat kemudian, langkah kakiku terhenti oleh sesosok perempuan yang tersenyum kepadaku. Entah mengapa setelah aku disenyumi oleh perempuan tersebut, hatiku bergetar, badanku kaku, pandangan mataku hanya tertuju padanya. Kesedihanku terasa langsung hilang seperti debu terbawa angin. Oh..senyumannya membuatku riang dan semangatku yang kini hilang tak akan terhalang oleh semua rintangan yang menghadang. Selang berapa hari, aku sengaja ketempat yang pernah ku jumpai tempo lalu. Dan tak kusangka, ternyata aku bertemu lai dengannya. Lalu aku mencoba untuk mendekatinya dan aku menyapanya : “assalamu’alaikum..?? “ ; tanyaku : “wa’alaikumsalam..??” ; jawabnya : “bolehkah aku berkenalan denganmu??; kataku : “boleh..namaku Dina, kalau kamu siapa ?? ; tanyanya : “aku Rian ?? “owh..Rian ? salam kenal ya ?? ; katanya : “ya sama-sama (sambil tersenyum )..salam kenal juga ? kataku : Setelah aku berkenalan dengannya, aku pun langsung menuju kediamanku. Aku selalu terpikir olehnya saat pandangan pertama ku melihatnya. Wajahnya selalu terbayang-bayang dalam mimpiku,senyumannya membuatku terpesona. Sampai-sampai aku membuatnya lagu untuknya yang liriknya seperti ini : “biarkanlah diri ini untuk mencoba mendekatimu, mendekati indahnya dirimu..dirimu yang hadir dimimpiku..berikanlah aku waktu dan keadaan yang engkau mampu untuk ungkapan isi dihatiku” Seperti itulah lagu yang ku buatkan untuknya. Hari berikutnya aku bertemu lagi dengannya, aku meminta nomer Hpnya dan aku mulai ber-sms-an dengannya. Aku kirimi sms dengan kata-kata yang indah dan kata-kat yang so sweet, seperti : “hati YUDHA puNya AJENG” “hati MAIX pOenya ANGEL” “hati FATIR puNya VITA” “hati ALDO poEnya KARINA” nacH..kLw hati yG baCA sms ini Poey cp Y ?? Dan Dina hanya membalasny dengan senyuman. Aku pun sms dia lagi dengan gombalan : “kamu punYa benang gag? ;Kataku : “puNya..bwatt apa cie ? ;jawabny : “buwwat mengikat hatiku dngan hatimu biar hati qitta selalu berstu.hehehe?? ;kataku : Dan dia hanya kembali membalasny dengan senyuman. Akupun ikut tersenyum walaupun hanya dengan senyuman. Hari demi hari berlalu, akupun semakin bertambah cinta dengannya. Akupun rasanya ingin mengungkapkan persaanku terhadapnya. Tepatnya di pagi hari yang sangat cerah aku mengajak Dina jalan-jalan. Setelah selesai jalan-jalan kami pun beristirahat sejenak sambil minum Es Degan sambil mengobrol, dan aku bertnya kepadanya : Aku : “emm..aku boleh ngomong sesuatu ama kamu gag ? Dina : “ea boleh kowh..tinggal ngomong adja ? Aku : “emm..kamu ? Dina : “kamu apa ? Aku : “kamuuu..malulah Din? Dina : “gag usah malu..tinggal ngomong adja..ntar aku marah gimana? “repot kan ? cepatan mau ngomong apa cie ? Aku : “ ea uadah dech..kamu mau gag jadi ‘RATU DIHATIKU’ ?? Dina : “hemz..gimana y ? “mau gag y ? “kyaknya gag mau dech..gag mau nolak untuk menjadi ‘RATU DIHATIMU’ ?? Aku : “jadi kamuu..?? Dina : “y aku mau kowh ? Huft…akhirnya sekian lama aku menanti, kesampaian juga keinginanku untuk mendapatkannya. Sungguh beribu senangnya hatiku. Akhirnya kami pun hidup bahagia dengannya,hari-hariku selalu dihiasi dengan kebahagiaan, kesenangan, dan kemesraan. Sungguh indahnya Cinta Pandangan Pertama. “the end” By :YOGA K
“DEPRESIKU” Nyantri 3 tahun bkanlah jaminan kalau ia memiliki ilmu agama yang mateng apalagi mahir,,contahnya aja aku 3 tahun mondok ilmunya masih lebih cetek dari pada santri yang mondok 3 bulan hehe,,, Maklum IQ ku ajj di bawah rata rata…hehe.. Tapi kata ustadz q memiliki kelebihan yang tidak di miliki oleh orang lain yaitu q sangat mudah paham masalah pelajaran,,sayangnya q tak pernah bisa menguasai bakatku,,jd waktu tertentu aja aku bsa pke,,kya power ranger gitu hehe… ********* Priit…priit…!!!!!!peluit tanda masuk masjid membuyarkan lamunanku tanpa sadar q melamun sangat lama… “hmm…telat lagi”gumamku, gumaman yang sma seperti hari hari yang lalu.. Seperti biasa juga seorang datang kepadaku dan mengomel cerewet di depanku…ucapan yang sama seperti kemarin “plakkkck….!”telapak tangan mendarat persis di pipiku,,karena berulang kali q kepergok telat masuk masjid…ya terima ajja lah… Kemudian aku di giring ke depan masjid bersama anak anak yang bernasib sama sepertiku,,disanalah q dan para pelanggar lain di eksekusi..ya begitulah tugas bagian tarbiyah,,ngomel ngomel trus ngukum,emang kadang ku ngrasa g trima tpi mw gmna lagi aku jga yang salah.. Kali ini mendapatkan hukuman yang lumayan ringan,,berdiri d dpan masjid,,mbaca qur’an n di tonton anak cewe.. Dengan malas q mulai mbaca qur’an sambil mata mlirik mlirik,olah raga..hingga mataku tertuju pada seorang yang mengenakan mukena merah muda,anggun,,tiba tiba tanpa ku sadari jantungku berdetak cenat cenut,,dan keringatku mulai mengalir deras membasahi keningku,,bayangan dirinya serasa muncul di atas lembaran lembaran alqur;an yang sdang ku baca,, Apa yang ku rasakan??pertanyaan yang sontak muncul dari dlam hatiku… ************ Ke esokan harinya .. Di dalam kelas aku masih saja terbayang perempuan yang mampu mengirimkan getaran getaran misteri ke dalam hatiku..dan membuat hatiku luluh lantah tak berdaya… “plak”seorang menepuk pundaku..ia adalah Somad sahabatku “heh??!! Nglamun apa yah??hayuh pa ya??”ledek somad “Ah..apaan sii??”balas aku sambil senyum malu.. “Lagi kasmaran ya???”cetus somad ngledek “Ga..enak ajj,,,!!”jawabku lagi “ko senyum senyum ndiri???”ucap somad ngrayu Akhirnya aku luluh dan ku curahkan smua isi hatiku pda somad “thoooot…theeet…”tanpa sadar q bercerita sampai bel masuk bunyi.. Aku kembali melanjutkan lamunanku yang sempat terusik oleh somad sambil menunggu guru masuk.. Aku terkejut, bingung, heran..ternyata tanpa kusangka sangka perempuan yang mampu memporak porandakan isi hatiku adalah USTADZAH BARU… “waaaaaahhhhh”teriakanku keras dlam hati,,shock berat ku alami… “pupus sudah harapanku,,sirna sudah…sirnaaaa!!!”teriak batinku… Ternyata ia adalah ustadzah baru…. Yang kabarnya ia mau menikah dengan ustadz sekolahku jga bulan depan.. BY.WINDU TK
“SUBHANALLAH” KUKURUYUK…… Bel alamipun berbunyi dan sang mentaripun siap tuk menyinari bumi. Bumi…bumi…bumi yang satiap harinya diisi oleh kotoran, pijakan, dan orang-orang yang bersujud memohon ampun atas dosa-dosa yang setiap detik, menit, jam bahkan haripun bertambah dan kita takpernah tau sudah pergikah dosa-dosa ini. Dut.. prepet, tuiiit’sss.., organ-organ yang didalam tubuh bangun, hingga anginpun berhembus. Begitu pula dengan organ-organ yang ada diluar, mereka bangun dengan keadaan yang segar dan siap tuk melakukan aktifitas-aktiftasnya (aakh... uwena’e re.). Sembari kumenunggu nyawa-nyawa ini terkumpul, tiba-tiba”thonk. . .tho tho thonk thonk thonk... . . suara kentongpun terdengar, tak lama kemudian sayup-sayup adzan terdengar saling bersaut-sautan antara desa yang satu dengan desa yang lain, Subhanallah.. tentram rasanya. Kemudian nyawa-nyawa inipun terkumpul, akupun bangun dan kuucap “Alhamdulillahilladzi akhyana ba’dama amatana wailaihi nushur”, lantas, segera ku bergegas dari tidurku yang panjang tadi, panjang bagaikan gerbong kreta api, yang selau setia mengantarkan manusia dari stasiun “A” hingga ke stasiun “Be”dan seterusnya… . Dipagi ini pula “drama hidup” sepertinya tak mau kalah.. ia pun ikut serta dalam indahnya pagi ini. Ia keluar, bagaikan tokoh dalam dongeng-dongeng. Tapi, jika drama hidup tak ada, . .. kitapun tak tau bagaimana alur crita kita nanti. Karena dengan drama hidup, kita dapat merasakan manis, asem, pahit, pedas, dan kecutnya dunia. Kusibak pintu kamar, dan kemudian kupergi, menuju kamar mandi, tuk membasuh mukaku, dan mengambil air wudlu, tuk kemudian menghadap Sang Illahi mohon ampun atas dosa, kedzaliman, dan kehilafan yang telah kulakukan.Tak terasa waktu menunjukan pukul 05.30 WIB, dan saatnya aku mandi, membersihkan diriku dari najis yang menempel pada tubuhku ini, dan untuk meregangkan otot-ototku yang kaku regang, karna padatnya jadwal kerjaku. Belum jauh ku melangkah, tiba-tiba “kretek kretek. .. sesosok manusia keluar dari kandangnya”alias kakaku yang keluar dari kamarnya, dan seketika itu pula ia langsung melotot melihatku yang sedang membawa peralatan tempurku (peralatan mandi)untuk melawan kuman-kuman yang bersarang ditubuhku ini. Dia memasang muka sangar, hingga kemudian berkata,”aku, adus disit,..ko engko bae,”dengan nada sinisnya. Akupun tak mau kalah ”lo. .. sing metu disit sapa..? , hingga cek cok mulut pun, tak terelakan lagi. Sedang ramai-ramainya kami saling bertempur, tiba-tiba dari dalam rumah terdengar suara“bocah, brisik bae .. ket mau langka sing metu,,,.mbasa metu siji, metu kabeh bocah aparane jane koh... !. Dengan rasa nek, males, sedikit ngantuk, dan lapar, aku keluar dari pertempuran ini, tuk menyudahinya. Aku yang tak mau ambil pusing, tanpa Ba Bi Bu, Ta Ti Tu, motor yang tadinya nongkrong diteras langsung kunaiki (untuk memberi hiburan agar aku tidak terlalu pusing). Seperti anak yang tak memiliki dosa, aku yang seharusnya sudah siap-siap tuk bergegas kesekolahpun, malah asyik muter kesana kemari,mengikuti angin nafsuku ini. Dalam hati ini sadar tapi, pas nang ngarep gang(jalan menuju ke “Sangkar Boetjah Nggoeantheng, aliase umahku) rasa nek, males, malah tambah ngantuk, khadir kembali. Tapi dengan “Bismillahirrahmannirrahiim”kutekatkan jiwa ini, dan akupun kembali kerumah. Dengan rasa yang campur aduk, hingga akhirnya pukul 07.00 wib, akupun selesai, dalam segala hal.. seperti mandi, and nganggo seragam. Kemudian aku bergegas untuk berangkat, tiba-tiba cacing-cacing dalam perut ini berbunyi, yang meminta jatahnya. Sesuap nasipun bersarang dimulutku, sebiji nasipun belum masuk keperutku tiba-tiba ”bocah ayawene hurung mangkat, ora ndue semangat temen ..!saut ayahku dangan nada gagahnya, yang sedang asik menonton tv. Seketika itupun, ku tinggalkan makananku dan akupun pergi tanpa pamit kepada kedua orangtuaku. Dan anehnya kejadian tersebut tidak terjadi satu atau duakali melainkan berrrkali-kali (huuft), keluar dari gang rumah, seketika itupun aku naik bus, entah kearah mana bus ini berjalan, (tapi ndilalaeh bener koh..araeh, yaitu meng skolahanku). Tanpa kusadari, akupun sampai ketempat tujuanku yakni “sekolah. Kuinjak tanah sekolahan ini, tiba-tiba”bocah mbeler!. “loh, sapa sing ngomong si ya?(dengan suara lirih). Lantas kucari dari manakah sumber suara ini berasal. “Ternyata sesosok orang berkaca mata, beruban yang mengucapkan kata-kata itu”, aku hanya tersenyum padanya. Kulewati kakek tua ini, untuk kemudian masuk kekelas dan sembari kumasuk kemudian kutanggalkan tas ini dibangku yang sangat istimewa (karna bangku ini engkat-engkot arep njeblos). Meskipun aku bukanlah anak yang berprestasi, tapi aku cukup terkenal disekolah ini. Karna ulahku yang konyol, dan tingkahku yang sok nyentrik, and sok asyik. Meskipun aku tak merasa melakukan ini semua. Aku tau tingkahku ini aja, dari shohib ane alias sahabat alias batir alias koncoku.. Dan bukan berarti aku bangga atas gelar yang melekat pada diriku ini. Dalam hati ini aku barsedih, karna gelarku yang begitu bagus ini “ndeyan”. Terkadang kuselalu bertingkah seperti CALINGCAPLIN tak banyak bicara bergerak seperti mesin, yang terkadang banyak manusia melihatku seperti orang yang tak punya tujuan. Rasanya aku ingin bangkit, hingga kemudian terbang untuk bernari dengan sang mentari, terbang dari bumi kelangit, terbang dengan secapat mungkin, meski terasa sulit sekalipun, “tapi inilah aku, aku yang tak ingin jadi orang lain, dan tak ingin mengikuti gaya orang lain, karna aku diciptakan didunia yang fana ini selain tuk bertasbih pada sang Illahi, aku atau kita diwajibkan mengukir kisahnya sendiri-sendiri diatas dunia ini(setuju pa ora), jadi ku bikin enjoy aja. Sedang asyiknya kumelamun, atas kejadian-kejadian yang bikin aku males, yang setiap pagi melekat pada diriku, tiba-tiba” Subhanallah, Alhamdulillah , Astaghfirullah, Allahu Akbar sesosok wanita keluar dari ramainya anak-anak yang sok sibuk, sok cakep, dan sok-sok lainnya, (hehehe, mbuh sirik mbuh udu, “egepe” ). Kupandang wajahnya, dan kutatap matanya yang begitu indah... Subhanallah.., . Detik, jam, hari berjalan, begitu kencangnya. Seperti hatiku ini, dari sebiji rasa kagum, lama-lama kemudian berkembang menjadi tanaman yang rindang yang tumbuh dalam hatiku. Hatiku selalu bertanya-tanya “yaAllah siapakah namanya, dimanakah rumahnya. Tapi, ketika kesempatan datang diriku tak kuasa tuk bertanya, jangankan bertanya, tuk memendangnyapun aku tak kuasa. Tak terasa, tahun berganti dan pohon dalam hatiku ini berbunga, hingga kemudian berbuah. Dan tak kusangka pula, aku sudah mengenal dirinya, malah makin akrab hingga aku putuskan tuk menyerangnya, dengan menggunakan ketapel yang kubuat dari ranting-ranting yang ada dipohon hati ini dan pelurunya juga buah-buahan yang tumbuh subur dalam hati ini. Tapi, takdir berkata lain, ternyata dia sudah ditotol orang lain, alias diambil orang. Dan ternyata orang ini adalah teman seperjuanganku, teman yang selalu menghibur dan selalu menghabiskan malam demi malam bersamaku yang terkadang ditemani para kampret-kampret liar dan juga tikus-tikus liar. Jadi, apa boleh buat, karna dia adalah teman yang kukenal dari kecil, kuputuskan sandiwara ini dan kucari gadis-gadis belia yang lebih cantik, lebih manis dan yang sedang menunggu “sesuatu”. Meski, agak sulit tuk melupakan dirinya ‘Afwan ea ledies and gentleman berhubung waktu sudah mepet, dan penulispun bingung mau nulis apa.. So, kusudahi dongeng ini. Terimakasih buat para pembaca yang sudah membacanya. Maaf bila ceritanya mungkin: 1. Nggak nyambung 2. Agak-agak mirip dengan kisah kalian 3. Bahasanya terlalu kaku 4. Lah, pokoke penulis njaluk ngapurane lah ea.. “Kalau ada sumur diladang, bolehlah kita menumpang mandi, kalau ada umur panjang, bolehlah kita berkarya lagi..” Misi : Semua yang terjadi ini tak bisa dipungkiri, dan tak bisa dihindari meskipun beratnya masalah yang kau hadapi, maka hadapilah dengan Bismillah, Keikhlasan, Keteguhan iman, dan berdo’alah pada Allah swt Visi : Majulah kau selagi kau benar dan tetaplah jadi dirimu, ojo mlenceng-mlenceng dadi wong lio.. ok BY.TOPIK AZIZ
DIESTA Radit sayang tasya Persahabatan memanglah sangat meenyenangkan, sahabat slalu ada saat canda tawa, duka lara, sahabat tak memandang perbedaan satu sama lain karna sahabat saling melengkapi,,,,,,,,,,,,,,, Sahabat berani barkata benar bila kita benar, dan berkata salah jika kita salah, bukan membenarkan semua perkataan dan tindakan kita,,,,,,,,,,,,,, itulah”SAHABAT” yang sebenarnya,,,,,, Mentari terlihat keluar dari sarangnya dengan senyum cerahnya dan cahaya indahnya,,,,,,,cahaya yang akan menerangi jagat raya ini hingga alam tampak begitu cerah, secerah suasana di pondok pesantren takhassus Al-qur’an, sebuah pesantren yang terletak disudut kota wonosobo tepatnya di desa kalibeber,sebuah desa yang masih begitu alami tanpa ada polusi, tempat yang akan membuat orang yang tinggal di kalibeber merasa begitu nyaman dan tak ingin meninggalkan tempat itu,,,,, Terlihat santriwan santriwati hilir mudik menggunakan sragam lengkap mereka terlihat begitu rapi,cantik, dan juga tampan, mereka semua akan berangkat sekolah ada yang smp, sma , dan bahkan ada yang anak kuliah,,,, Gemericik suara air sungai begitu merdu diiringi alunan nyanyian burung, membuat siapa saja yang mendengarnya merasa begitu nyaman bahkan rerumputanpun ikut bergoyang mendengarnya, terkadang suaranya yang begitu merdu membuat siapapun tak sadar dengan apa yang dia lakukan. “RADIT !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” bentak pak supri salah satu guru di SMA takhassus Al- qur’an pada seorang murid yang tertidur “ iya pak “ raditpun sontak kaget dan langsung berdiri Sontak semua yang berada dalam ruangan tertawa melihat tingkah radit “kamu ini yang lain serius belajar malah enak- enakan tidur” omel pak supri yang gemas dan geram dengan tingkah radit, eh,,,,, bukannya minta maaf malah radit cengar – cengir seperti orang tanpa dosa “he,,,he,,, abis suara burugnya merdu si pak “ jawab radit tanpa rasa bersalah “kamu ini bikin saya naik darah “ “kalau bapak naik darah ya darahnya diturunin donk pak susah amat”celetuk radit. Sontak seluruh penghuni ruangan tertawa mwndengar jawaban radit yang ceplas – ceplos tanpa diatur. “diam semuanya”bentak pak supri (semua siswapun serempak langsung diam) “radit! Kamu keluar”bentak pak supri Tanpa babibu raditpun keluar kelas dengan santai tanpa ada rasa bersalah,seiring keluarnya radit dari kelas bel istirahat berbunyi,semua siswapun keluar kelas menyusul kepergian radit. Seorang gadis berjilbab(ya iyalah namanya aja di pesantren) mendekati radit yang sedang enak makan tempe kemul salah satu makanan khas kota wonosobo. “eh tasya , duduk sya,,”sapa radit, tasyapun duduk dihadapan radit sambil geleng- geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu “kenapa geleng – geleng kepal? ntar putus loh kepala loe”celetuk radit “Dit kapan sich kamu bisa serius,kasian pak supri marah – marah terus gara – gara kamu, kalo kamu slalu nyepelein guru ntar ilmunya ga manfaat loh,,,,kamu mau,,,”panjang lebar tasya menasihati radit, namun yang dinasihati bukannya meresapi malah asyik makan tempe kemul sama cabe,,,,,dasar radit “denger gaag,,,,!!!!!!”tasya mulai kesal “iya – iya gue denger tasya yang cantik, baik hati ,tidak sombong, suka menabung,,,” “denger apa coba,,,” “aku denger,,,,,, siapaa suruh dia marah – marah,,,,,,,trus jangan salahin gue dong kalo gue tidur abis suara burungnya merdu,,,” “seengga’nya kamu hormatin pak supri dong,,,,”tasya benar – benar marah dengan radit,suara tasya mulai meninggi. Namun kemarahan tasya tak bertahan lama karna kekonyolan – kekonyolan yang radi buat,,,,,obrolan kedua sahabat itupun berlangsung lama dan tampak mereka begitu bahagia walau ada rasa jengkel tasya dengan tingkah radit namun tak bisa dipungkiri kedekatannya dengan radit karna sifat radit yang santai,,,,,,,,,,,,,, banyak orang bilang mereka tak pantas menjadi pasangan sahabat , karna mereka bagai langit dan bumi,,,,,radit yang brandalan berteman dengan tasya yang begitu anggun,,,,namun taysa tak pernah ambil pusing dengan itu semua setiap ditanya dia hanya menjawab” kalo aku sama radit sama namanya bukan sahabat tapi anak kembar” Selain radit tasya juga mempunyai seorang sahabat panggil saja di april, namun berbeda dengan tasya april begitu membenci radit seperti kebanyakan anak – anak di sekolahan. April tak pernah menyukai kedekatan tasya dengan radit “sya kenapa sich kamu temenan sama brandalan itu” Tanya april “brandalan,,,??????aku ga punya temen yang namanya brandalan”jawab nabila santai “itu lo santriwan dari batang”jelas april “ooo setauku dia bukan brandalan, namanya itu radit bukan brandalan”tasya meluruskan “ya sapa aja dia, yang penting dia itu brandalan,,,,,,,aku ga suka kamu main sama dia” “kenapa sich,,,kita sama dia sama, sama – sama santri, apa salahnya aku main sama dia, dia punya hak untuk dapet teman” “dia itu brandalan,,,,,,ga pantes main sama kamu”suara april mulai meninggi “justru kalo dia brandalan kita harus deketin dia, ajak dia buat menjadi lebih baik secara perlahan, bukan malah jauhin dia,,,,,”jawab tasya santai dan penuh kewibawaan “susah ngomong sama kamu”april kehabisan kata – kata menghadapi tasya Sedang tasya hanya tersenyum dan kembali meneruskan hafalan Al – qur’an, waktu ba’da maghrib memang biasa digunakan para santri untuk menghafal Al – qur’an dan disetorkan ke pembimbing kamar masing – masing ,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Pondok pesantren takhassus Al – qur’an memang sebuah pesantren yang masyhur dengan hafalan Al- qur’annya, setiap tahunnya setidaknya puluhan santri yang sudah menyelesaikan hafalan Al – qur’annya atau biasa disebut tahfid Al – qur’an,,,,,karna itu tasya dan teman – teman menghafal Al – qur’an namun karna ia masih sekolah maka ia diwajibkan menghafal Al – qur’an ba’da maghrib sedang santri yang sudah tidak sekolah lebih banyak waktu yang diwajibkan untuk menghafal yaitu ba’da sholat subuh, ba’da sholat ashar,dan ba’da sholat maghrib yang disetorkan ke ibu(istri pimpinan pondok yang biasa dipanggil ibu oleh para santri) namun jika santri yang masih sekolah ingin menghafal dan setoran Al –qur’an di waktu itu, tak apa namun itu tidak wajib,,,,,,,, Selepas sholat isya seluruh santri berangkat sekolah diniyah, mereka semua menuju kelas masing – masing, sekolah diniyah adalah sekolah yang pelajarannya hanya pelajaran keagamaaan seperti fiqih, akidah akhlaq, nahwu shorof,dan masih banyak lagi,,,, Waktu terus berjalan,,,,,tak terasa pagi telah menjelang semua santri yang melakukan kegiatan masing – masing,,, tasya bersiap – siap untuk berangkat sekolah, seperti biasa tasya berangkat dengan april, dijalan mereka bertemu dengan radit “assalamualaikum ya ukhti” sapa radit “wa’alaikum salam ya akhi,,,,antum sendirian??” tasya menjawab salam dengan nada yang begitu lembut dan santun, berbeda dengan april yang memalingkan wajah “ya iyalah sendirian ,,,,,,,,,ga punya temen sich”april menyela dan berucap dengan nada ketus dan masih memalingkan wajah,,tasya hanya tersenyum sambil geleng – geleng kepala melihat april “eh apa kata loe ,,,,,dasar nenek lampir, cungkring, kekurangan gizi”jawab radit ketus “apa kata loe,,,,,dasar item ,,,,,,brandalan, ga punya aturan kalo gue kekurngan gizi loe busung lapar,,,,,eh inget mendingan gue ya,gue punya temen ga kaya loe ga punya temen” jawab april tak mau kalah “udah – udah jangan berantem terus, nanti bisa jadi cinta loch,kalian inget sesama muslim ga boleh berantem kalian harus saling menyayangi” tasya berusaha melerai pertengkaran radit dan april “apa gue jatuh cinta ma nenek lampir?? ogah banget, mending gue jadi bujang lapuk dari pada sama nenek lampir, hiiiii,,,,,”jawab radit dengan nada tinggi “eh loe kira gue mau sama loe, ogah ya” april tak mau kalah “udah – udah sekarang berangkat sekolah ntar kita terlambat” tasya berusaha mencairkan suasana Akhirnya mereka berangkat sekolah bersama.Dijalan radit dan april masih sama – sama membuang muka,tasya hanya bisa geleng – geleng kepala melihat radit dan april,,,,,disekolah mereka bertiga satu kelas,,, selama jam belajar berlangsung mereka mengikuti pelajaran dengan tenang dan tak seperti biasa hari itu radit tak membuat ulah di dalam kelas,,,,jam belajarpun usai datanglah jam istirahat jam yang ditungggu – tunggu semua siswa. Dalam kantin mereka bertiga makan dalam satu meja seperti biasa radit dan april tak bisa akur,tasya berusaha untuk membuat mereka tak bermusuhan,,,,,saat sedang asyik bercanda seseorang datang mendekati mereka “tasya”sapa rifki “eh rifki, duduk rif”jawab tasya penuh kelembutan Radit memasang muka jutek, radit memang tak pernah senang dengan rifki yang slalu berusaha mendekati tasya, lain dengan radit april begitu senang denga rifki, april lebih suka tasya dengan rifki dari pada radit “aku mau ngomong sama kamu”tutur rifki begitu hati- hati “ya udah tinggal ngomong susah amat”jawab radit ketus “tapi,, berdua, bisa sya”rifki tak menghiraukan radit “kalo mau ngomong disini aja”radit benar – benar tak suka rifki Rifki merasa menang karna tasya memilih dia daripada radit,sedang radit begitu dongkol melihat tasya lebih memilih rifki daripada dirinya. Rifki dan tasya pergi meninggalkan kantin,,,,, “emmm mereka cocok banget,ya iyalah tasya milih rifki daripada loe”sindir ratna membuat radit kesal, tanpa berkata – kata radit langsung pergi meninggalkan April Ra Radit menuliskan kata – kata seperti itu hingga memenuhi kertas yang ada didepannya,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Ditaman terlihat rifki dan tasya mereka tampak membicarakan sesuatu yang begitu serius hingga tak tampak senyuman dari mereka berdua “ sya aku mau jujur sama kamu”kata rifki hati – hati “ mau bilang apa”Tanya tasya begitu santai “sebenernya,,,,,,,,,,,em,,,,,sudah lama aku mendem perasaan aku,,,,,kalo aku,,,, aku,,,,,,,aku,,,,,suka,,,,,,kamu,,,,”kata rifki terbata – bata. Tasya mendengar semua pengakuan itu kaget, iya tak siap dengan semua pengakuan itu “apa kamu mau jadi pacar aku”Tanya rifki penuh pengharapan “emm,,,,rif jujur aku belum siap buat pacaran, bukan karna aku ga suka kamu, aku sayang sama kamu tapi sayang seorang temen, lagian kita disini itukan mau cari ilmu jadi sekali lagi maaf,”jawab tasya penuh kehati – hatian takut menyinggung perasaan rifki. “oh,,, apa karna radit,,,,,,, iya kamu suka dia” nada rifki meningggi karna kesalk cintanya ditolak “ini semua ga ada hubunggannya sama radit,,,,,aku udah bilang kalo aku mau serius belajar, maaf kalo jawaban aku buat kamu marah,assalamualaikum” jawab tasya yang sedikit kesal karna rifki membawa – bawa radit,,,, tanpa babibu tasya meningggalkan rifki. Sepeninggal tasya rifki masih belum terima ia masih marah – marah. Dikelas radit terlihat murung, mukanya ditekuk – tekuk, meremas – remas kertas, tasya yang melihat itu langsung menghampiri radit,,,,,,,tanpa sengaja tasya melihat tulisan yang dibuat radit,, “dit,,,kamu kenapa?”tanta tasya penasaran dan khawatir keadaan sahabatnya itu, namun yang ditanya malah diam saja,tasya makin bingung “cemburu kali, kamu lebih milih rifki dari pada dia”april mendekati mereka “bener kata april dit”Tanya tasya sambil senyum – senyum “engga, ngapain cemburu, mau loe pacaran sama dia juga situ”radit jutek “gitu aja marah,,,,,,”goda tasya “sya jadi beneran loe ditembak sama rifki”Tanya april penuh semangat, tasya hanya menjawabnya dengan anggukan,radit terlihat tambah kesal, ada apa dengan radit benarkah ia cemburu,,,, “trus,,,,,,,,, pasti kamu terima”Tanya april tambah semangat “engga, aku tolak”jawab tasya santai, mendengar jawaban itu terlihat senyum di wajah radit, hati radit yang tadinya sesak kini sudah lega kembali “beneran, loe emang ga salah nolak dia sya”serbu radit penuh semangat,sedang april terlihat kesal “kenapa kamu tolak”Tanya april penasaran “ya iyalah ditolak,orang songong kaya dia”serbu radit penuh kemenangan “gue Tanya tasya bukan loe”april terlihat kesal Tasya tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu,terlihat seorang lelaki paruh baya datang menghampiri mereka “lagi ributin apaan nich”Tanya pak afif, oh ternyata yang datang pak afif, beliau juga salah satu guru di sma takhassus sekaligus ustadh di pesantren “biasa radit vs april pak afif” “masalah apa lagi” “ini radit bahagia diatas penderitaan orang” “ye,,,,,,loe juga kan” “kalian ga boleh seperti itu, sesama muslim itu bersaudara jadi kalo ada teman yang kesusahan di bantu bukan malah ditertawakan”jelas pak afif “gitu ya pak afif”radit mengangguk- anggukkan kepala “denger tu pril”sambung radit “sekarang kalian baikan” April dan raditpun berjabat tangan semenjak itu mereka lebih jarang berantem,maklumlah udah biasa beranten jadi walau udah baikkan tetep masih ada sedikit sisa Pagi itu suasana tak begitu cerah hujan turun begitu deras membasahi bumi,namun tak ada halangan bagi santri untuk sekolah , meraka tetap berangkat sekolah,pelajaranpun dimulai namun ada sesuatu yang mengganjal hati radit dan tasya,,,, “anak – anak, sekarang diadakan penggeledahan, karna terdengar gossip kalo ada narkoba yang masuk kedalam pesantren”jelas pak supri “kalian semua diharap keluar kami akan menggeledah tas kalian “ Semua muridpun keluar ruangan kelas,,,,,semua terlihat begitu gelisah dan bertanya - tanya siapa yang membawa benda terlarang itu tak sengaja radit melihat rifki yang terlihat begitu gembira, radit mulai curiga dengan rifki,, apa yang disembunyikan rifki “sya kaya’nya ada yang ga beres deh”radit memberitahu tasya “emang, nga liat lagi di gledah kan”jawab tasya santai “bukan itu, semua anak gelisah tapi ko rifki malah senyum – senyum”jelas radit “ga boleh suudhon gitu dit”tasya tak suka radit asal tuduh Tak lama kemudian seorang guru keluar ruangan dengan membawa sebuah tas “ini punya siapa”Tanya pak supri “saya pak”jawab radit santai “ikut bapak”kata pak supri dangan nada tinggi menandakan beliau marah Raditpun mengikuti pak supri ke kantor dengan santai karna ia tak merasa melakukan kesalahan, sedang lain tempat terlihat rifki tersenyum penuh kemenangan Didalam kantor suasana begitu tegang, namun bukan radi namanya kalo ga cengengesan “ada apa pak”Tanya radit santai seperti tak ada apa – apa “ini tas kamu” “iya emang kenapa” “kamu sudah ketahuan membawa benda haram itu masih santai saja” “membawa benda haram, maksud bapak apa”radit mulai serius “ini, ditemukaan di tas kamu”pak supri sudah sangat marah “demi Allah pak saya gak pernah nyentuh banda haram itu sedikitpun, itu bukan milik saya pak”radit membela diri “selama ini kamu memang bandel tapi saya sama sekali tidak duga kamu bias menggunakan benda haram ini”pak supri tak percaya “pak afif , bapak percaya saya kan, memang saya bandel tapi saya tidak melakukan itu sama sekali”radit mencari pembelaan pak afif “bapak percaya tapi,,,, maaf pak afif tidak bisa membela” “sekarang kamu keluar,nanti saya akan panggil kamu lagi” Raditpun meninggalkan ruang guru dengan muka lesu, didepan pintu sudah terlihat rifki dengan senyum dibibirnya,,,, “ga sangka ya ternyata disekolah kita ada pengguna narkoba”sindir rifki.radit melihat kearah rifki dan langsung meninggalkannya “iya harusnya dia dikeluarin dari dari pesantren ntar bisa – bisa ngaruhin santri disini buat make narkoba lagi”sambung salah satu teman rifki Disepanjang jalan anak – anak membicarakan radit namun radit cuek karna yang ada dalam pikiran radit bertemu tasya dan menjelaskan semuanya,,,,,dikantin tasya ga ada di kelas juga ga ada,,,,,, raditpun mencari ke perpustakaan ternyata tasya memang ada di perpustakaan raditpun mendekati tasya dengan pelan – pelan “sya loe ga mikirkan kalo gue make”Tanya radit penuh harap “disini perpustakaan bukan tempat buat ngobrol”jawab tasya ketus “sya gue berani sumpah gue ga make,loe sahabat gue cuma loe yang bisa gue ajak curhat kalo loe ga percaya gue , gue cerita sama siapas lagi”jela radit panjang lebar “dit ini perpustakaan, jangan berisik”tasya menjawab dengan ketus dan langsung meninggalkan radit, raditpun langsung memasang muka lesu, sahabatnya tak percaya sama dia,namun bukan radit namanya kalo hanya diam akhirnya radit mengejar tasya “sya gue mohon loe percaya gue”radit memohon “aku percaya kamu, aku cuma kaget aja, aku pingin sendiri dulu”tasya meninggalkan radit “loe ga usah sedih gitu, gue yakin tasya percaya sama loe tapi mungkin dia lagi shock aja”april berusaha menenangkan radit “thanks ya”kata radit lesu Aprilpun meninggalkan radit dan mencari tasya “sya selama ini kamu percaya sama radit tapi kenaapa sekarang kamu malah pergi disaat dia butuh kamu”Tanya april “aku percaya sama radit, aku Cuma lagi mikirin gimana bias bantuin radit, aku ga mau radit liat aku sedih”jelas tasya “tapi dengan kamu hindarin dia,itu bikin dia sedih”terang april “beneran,,????sekarang radit dimana”Tanya tasya gugup “dikelas” Tanpa salam tasya langsung melesat ke kelas, dikelas ia dapati radit menundukan wajah dengan tetesan air mata “radit yang aku kenal tegar, ga cengeng” “tasya,,,,, loe percaya gue kan” “aku percaya , radit yang aku kenal ga kaya gitu” Terlihat pancaran kebahagiaan dari wajah radit, “kamu seneng, kamu itu lagi ada masalah malah ketawa” “gue seneng loe percaya gue, gue ga mikirin orang lain” “em dit aku pergi dulu ya”tasyapun meninggalkannya Diruang pak supri suasana begitu tegang ,,,,terlihat seorang murid sedang menjelaskan sesuatu,,,wajahnya terlihat begitu serius “pak semua ini bukan salah radit tapi salah saya, tas itu memang milik radit tapi saya yang sedang meminjam tas radit”jelas murid itu dengan begitu santai seperti tanpa beban “tasya bapak tahu sekarang kamu sedang membela radit”ujar pak supri “bapak berpikir seperti itu??? salah,,,,,,,,,yang sebenarnya radit yang membela saya bukan saya yang membela radit, bukankah bapak kenal radit dia tidak akan membiarkan saya terkena masalah sedikitpun,,,itulah kenapa dia juga mengakui hal yang bisa membuat ia dikeluarkan karna ia ingin saya masih di pesantren ini,,, kalo bapak ingin mengeluarkan murid maka sayalah orangnya bukan radit,,,”jelas tasya panjang lebar hingga membuat pak supri kaget dan tak bias berkata apa – apa “maaf pak saya mohon diri, assalamu’alaikum”tasya berpamitan Malam harinya dikamar giliran april yang kaget mendengar apa yang dilakukan tasya, “sya kenapa kamu lakuin ini”april tak percaya “radit lebih perlu ini dari pada aku” “tapi akibatnya kamu bisa dikeluarin” “aku keluar, mungkin masih bisa jamin kehidupanku diluar tapi radit,,, dia masih kurang ilmu agama kalo dia keluar dia bisa terjerumus, aku ga mau” Aprilpun memeluk tasya begitu erat tak menyangka sahabatnya bisa melakukan hal seperti itu, kini ia baru sadar tasya begitu menyayangi radit hingga ia berani mengorbankan harga dirinnya di pesantren ini,tak terasa april memcucurkan air matanya “kamu nangis pril” “engga ko sya” “pri andai aku harus pergi dari pesantren tolong jaga radit bimbing dia,kalian harus baikan ga boleh berantem terus” “iya aku pasti jaga radit dan akan baikan sama dia, tapi,,, aku yakin kamu akan bertahan disini” Pagi hari yang tak begitu cerah hujan turun begitu deras,,,,,berita pengakuan tasya sepertinya telah menyebar ke sudut – sudut pesantren kini semua orang membicarakannya “ga nyangka ya kelihatannya begitu anggun tapi ternyata pemakai narkoba,untung cepat ketahuan kalo ngga,,,,,,”hampir semua santri membicarakan tasya, namun tasya hanya menanggapi semua itu dengan senyuman, berbeda dengan radit yang langsung memarahi siapapun yang membicarakan tasya “eh kalian ngomong apa, tasya bukan pemakai”bentak tradit “dit udalah, aku yakin kebenaran akan terungkap”tasya mencoba menenangkan radit Menit – menit tlah berlalu, jampun bergerak begitu cepat waktu yang sesungguhnya tak dinantipu tiba hari damana tasya dikeluarkan dari pesantren,semua santri yang begitu menyayangi tasya menangis tak tertinggal raditpun menangis bahkan hingga meraung – raung , “sya loe ga boleh pergi”ucap radit diiringi isak tangis “dit aku harus pergi,aku udah gagal”jawab tasya yang berusaha menahan tangis “gue janji akan cari tahu ini semua ulah siapa, gue ga akan kasih ampunan buat dia” “aku ga minta kamu bongkar kasus ini biarlah waktu yang mengungkap semua,kamu harus bisa maafin siapapun yang melakukan ini,Allah aja bisa maafin hambanya kenapa kamu engga,satu hal lagi aku ingin suatu saat aku kesini kamu udah harus berhasil jadi seorang hafid”tasya berusaha untuk tersenyum dan menahan tangis “semudah itukah kamu memaafkan orang itu,,,,,,,he ,,,,,,,jawab,,,,,semudah itukah kamu memaafkanyya , padahal kamu harus mengorbankan semuanya,,,, sekolah, guru, dan sahabat,,, ataukah kamu udah ga sayang kami lagi,,,,,jawab sya”bentak radityang sudah tak bias lagi membendung tangisnya,namun tasya tak menjawab ia malah menalihkan pandangannya ke pak afif “ustad, aku titip radit, disini ustadlah yang paling mengerti radit,,,,,,” “pasti,,,, saya akan mmenjaganya”jawab pak afif yang juga berusaha menahan tangis Tasyapun meninggalkan pesantren yang tlah begitu banyak memberinya ilmu, pengalaman yang berharga juga teman yang begitu ia cintai “selamat tinggal semuanya” Tiba - tiba radit pingsan semua orangpun kaget dan langsung membawanya ke klinik pesantren,, tak lama kemudian raditpun sadarkan diri,,,,,ia langsung menangis dipelukan pak afif yang kebetulan beliau yang menjaga radit “dit kamu harus ingat pesan tasya, kamu sayang dia, kalo kamu sayang dia kamu harus wujudin kemauan dia menjadi seorang hafid”hibur pak afif “tapi sekarang siapa yang bisa temenin gue,,,,dia udah pergi” “saya” “gue dit”april muncul dari belakang radit Setelah hari itu raditpun berubah, ia tak seperti radit yang biasanya, kini waktu senggangnya slalu ia gunakan untuk menghafal Al – qur’an, itu memang bagus namun satu hal yang tak bagus dari perubahannya, ia jadi jarang makan,sering sakit kepala apalagi kalo habis bangun tidur pasti slalu sakit kepal dan langsung pingsan,,,,,,,,,,,,hari – haripun tlah berlalu terdengaar kabar bahwa tasya kini juga sudah masuk kesebuah pesantren disudut kota banyumas,,,,,,perasaan raditpun sedikit lega mendengar sahaabatnya baik – baik saja, ia lebih bersemangat untuk menyelesaikan hafalannya,,,,,, Suatu malam yang begitu dingin, radit mencoba untuk menghirup udara luar, namun saat ia melewati sebuah kamar terdengar pembicaraan yang begitu serius akhirnya radit memutuskan untuk menguping pembicaraan itu “ustad saya mau mengaku,,,,,,,,,,sebenarnya kasus itu bukan salah tasya ataupun radit tapi,,,,,,,,,”jelas seseorang didalaam kamar “saya tahu, tak mungkin tasya melakukan hal itu”jawab seorang lagi “sebenarnya ,,,,,,,,,,,itu semua jebakan,,,,untuk menjebak radit tapi tak disanggka tasya membela radit”jelas seorang dengan nada penuh penyesalan “jebakan,,,??????????kamu tahu siapa yang menjebak” “sebenarnya yang menjebak itu,,,, itu,,,,, saya ustad”jawabnya ketakutan Diluar radit yang mendengar semua itu murka dan langsung masuk dan langsung menghajar orang itu,, “jadi loe he,,,,,,,, kenapa,,,,!!!!!!!??????????”bentak radit “gue cemburu tasya lebih milih loe” “radit hentikan!!!”seru seorang ustad yang ternyata pak afif Raditpun melepaskan tangannya,,,, betapa kaget dan marahnya radit ketika mengetahui yang melakukan itu adalah rifki,,,,,setelah pengakuan itu akhirnya rifkipun dikeluarkan dari pesantren Hari – haripun berlalu, bulanpun telah berganti tepatnya kini tanggal 15 januari 2011,diadakan acara khotmil qur’an yang memang sudaah kegiatan rutin pesantren setiap tanggal 10 muharram diadaan khotmil qur’an pada khotmil qur’an kali ini ada 120 peserta jus ‘amma 150 peserta binadhor dan 20 peserta bil ghoib (hafid / hafidhoh) Acara khotmil qur’an berjalan dengan baik, dan begitu meriah kini saatnya pembagian syahadah “sebelum pembagian syahadah mohon akhina raditya zafran untuk memberikan kata – kata mewakili peserta yang lain”ucap pembawa acara “assalamual’aikum,saya tidak akan berkata panjang lebar disini,kami bersyukur bisa menyelesaikan hafalan Al – qur’an ini,saya tidak akan berdiri disini kalau bukan karna seorang sahabat yang begitu baik hati seorang sahabat yang membimbing saya dari nol hingga sekarang saya bisa berdiri disini, sahabat yang berani berkorban agar saya bisa berdiri disini, didepan anda semua,saya tak tahu dia sekarang ada disini atau tidak namun satu hal yang ingin saya katakan syahadah ini saya persembahkan untuknya,,,,,,,,,,”panjang lebar radit mengungkapkan semua yang ada dalam hatinya Di lain tempat tasya tersenyum melihat radit, ia banggaa kini radit telah berhasil menjadi seorang hafid,,,,, “kaya’nya radit nganggep kamu lebih dari sahabat”ledek april “apaan kamu,,,,,,,”tasya tersipu Namun tiba – tiba “gubrak” radit pingsan diatas panggung semua panik melihat itu tanpa berpikir apapun radit langsung dibawa ke RS. Semua orang panik tak terkecuali tasya, tiba – iba dokter keluar dari ruangan radit “bagaimana keadaan radit dok”Tanya tasya cemas “bisa ikut saya” Akhirnya tasya dan pak afif mengikuti dokter “apa pasien sering pusing,atau mual atau kejang – kejang”Tanya dokter “iya dok akhir – akhir ini dia sering pusing biasanya pagi hari setelah bangun tidur setelah itu langsung pingsan namun setelah sadar seperti orang tak kenapa – napa dok”jelas pak afif “pasien mengidap penyakit tumor otak,sebenarnya sudah lama ia mengidapnya” “lalu harus bagaimana dok”Tanya tasya cemas “sementara waktu ini mungkin harus rawaat inap dulu” “terima kasih dok,apa pasien sudah bisa ditemui” “iya “ Tasya dan pak afifpun keluar,tanpa bisa dikendalikn lagi tasya langsung ke kamar radit “gue berhassil sya”ucap raadit girang namun mencoba menahaan sakit “kamu jahat dit, kenapa kamu ga bilang tentang semua ini ha,,,,”bentak tasya “ga penting loe tau sya,,,,,,,,,,,nich gue mau loe yang simpen syaadah ini,,,,,,,,” “udah bohongin orang masih nyuruh – nyuruh lagi”taasya kesal “kalo marah tambah cantik aja,,,”goda radit “udah deh ga usah ledekin orang”tasya tersipu malu “siapa yang ledek gue serius,,,gue sayang tasya,lebih dari teman” “terus diesta gimana” “diesta,,,,jadi loe udah liat,,,,oke diesta loe pingin tahu siapa dia DIESTA, RADIT SAYANG TASYA” ucap radit penuh kebahagiaan, tasya jadi tersipu malu wajahnya begitu merah “gue udah bisa Menuhin harapan loe,dan gue juga lega udah ngomong perasaan gue ke loe, jadi mungkin kalo gue pergi udah gada beban, ya walaupun harus bawa dosa gue yang ya lumayann banyak,gue sayang loe sya, jaga diri baik – baik”uacap radit dengaan senyuman khasnya “kamu ga boleh bilang gitu, satu hal yag harus kamu tahu aku juga sayang radit” Radit hanya membalas pengakuan tasya dengan enyuman “asshaduala ilaha illalloh waasyhaduana muhammadan rosululloh” setelah itu ia memejamkan mata dengan senyum menghiasi wajahnya , tasya yang melihat itu cemas dan langsung memanggil pak afif dan betapa terkejutnya tasya mengetahui radit meninggal dunia,,,,,tangispun tak lagi bias ia bendung,,,ia tak menyangka pengakuan radit adalah kata – kata terakhirnya ,radit meninggal dengan penuh kebahagiaan “udah sya, kamu ga boleh sedih,radit memang tlah tiada namun kamu ingat dia meninggalkana dunia ini dengan penuh kebahagiaan, mungkin inilah yang terbaik untuknya daripada setiap hari dia harus menanggung sakit dikepalanya”april berusaha menenangkan tasya Hari – hari tlah berlalu kini tasya tlah kembali ke pesantren di banyumas sesedih apapun dia, dia harus sekolah,tasya berusaha memulai hidup baru dipesantrennya sekarang ,,,,,,,,,,,,,, ##### the end ##### Nama :tati rahmayani Ttl :25 oktober 1995 Alamat :tanjungtirta, punggelan, banjarnegara e-mail :diesta_cete@yahoo.co.id
Nafas Hidup Dari Abah dan Emakku Jika kehidupan itu diibaratkan seperti lagu, maka tabahlah menunggu hingga nada terakhir. Jika kehidupan itu sebuah lukisan, maka goreskanlah warna terindah dihati. Pagi mulai cerah dengan matahari yang semakin melengkapi. Tiba saatnya untukku mengarungi hidup dengan hari yang lebih baru. Panas mentari telah menghangatkan tubuhku seiring dengan kakiku yang mengayuh sepeda ontel ini terus menerus. Tanpa lelah untuk menggapai cita-citaku.Sepeda ini adalah sepeda yang akan selalu menemaniku selama SMA. Ya, Abah baru membelikannya 2 bulan yang lalu. Walaupun Abah membelinya dengan bekas orang lain, tapi aku bangga memilikinya. Karena sepeda ini hasil keringat Abah dan Emak yang selama 2 tahun ini mengumpulkan uang untuk membelinya. Walaupun aku terbilang orang yang miskin, aku tak pernah patah semangat dan aku akan terus sekuat karang. Walaupun teman-temanku selalu mengejekku karena aku orang tak punya, semangatku ini takkan pernah pudar. Karena sebagai anak aku punya tanggung jawab penuh untuk mengganti keringat orang tuaku. Apapun yang terjadi.Karena aku akan selalu ingat pesan-pesan emak dan abah. Walaupun mereka tak pernah merasakan manisnya bersekolah, tetapi nasihat mereka adalah sebuah emas permata untukku. Dalam hidup ini, aku mempunyai misi. Jika setelah lulus SMA nanti, aku akan mencari kerja untuk membiayai pendidikan adik-adikku dan aku akan membuat senyuman dibibir emak dan abah. Aku slalu teringat akan pesan emak “Nak, kamu itu mesti sekolah. Itu yang utama buat emak dan abah. Walaupun emak harus bekerja banting tulang, kamu harus bisa sekolah. Punya pendidikan. Tak seperti emak. Tak seperti Abah. yang tak pernah merasakan manisnya bersekolah...” Hanya kalimat inilah yang menjadi pegangan hidupku. Yang membuat aku bisa semangat untuk bersekolah. Akhirnya sampai juga aku digudang. Ya, disinilah gudang ilmu. SMA yang terbilang SSI (Sekolah Standar Internasional) dan terfavorit se-Kabupaten. Sekolah yang tentunya sangat diminati oleh kalangan kaum atas. Sedangkan aku, aku hanyalah bermodal beasiswa untuk bisa bersekolah ditempat ini. Terlihat berbagai mobil kelas atas di parkiran. Rasanya cuma aku yang berani memakai sepeda ontel disini. “Eh, ada orang miskin mau lewat tuh,” kata Retno. Retno adalah anak seorang pemilik PT. PERTAMINA. Ia mempunyai banyak teman, bahkan genk-pun tak ketinggalan.Ia juga teman SMP-ku dulu. “Permisi. Aku mau lewat,” kataku sopan. Sejak SMP sampai sekarang sikap Retno memang tak pernah berubah. Dia selalu mengaggap remeh orang-orang disekitarnya. Apalagi kepada orang kecil seperti aku. Tapi aku tak pernah membalasnya. Karena aku ingat pesan Abah “Nak, jangan sampai kejahatan dibalas dengan kejahatan. Sebisa mungkin kejahatan dibalas dengan kebaikan.” “Eh, enak aje lu bilang?Hari gini mau lewat juga harus bayar. Gak ada yang gratis didunia ini. Emang dunia ini dunianya nenek moyang lu?” kata Tanti, teman Retno yang berbadan raksasa. Tiba-tiba dari ujung terlihat wajah Sarah. Dia ini si jago silat,baik hati, dan suka menolongku. Tampaknya dia melihatku sedang kesulitan dan langsung lari mendekat. Dari belakang dia menepuk bahu Tanti. Puk...Puk...Puk... “Heh Bomber !! Lagi cari mangsa lu disini? Apa lu mau cari masalah baru ma temen-temen gue di sini?” bentak Sarah. Spontan, wajah Tanti tiba-tiba murung. Si gendut itu langsung berlindung dibelakang Retno. Retno pun semakin gelisah. Dia menarik-narik baju Tanti. “Heh gendut, lu gimana sih? Masa takut ama yang begituan?” kata Retno berbisik. “Oh lu pasti belom tau ya kalo dia ni jago karate,” kata Tanti. “Ya udahlah. Nyerah aja ya.”Kata Retno. Sambil malu-malu akhirnya mereka lari dan pergi.  Aku bersyukur karena pagi ini aku telah ditolong oleh Sarah.Dia memang teman baikku. Dia pintar, cantik, kaya, dan jago silat. Walaupun kalau dilihat dari postur badannya dia sama kecilnya denganku. Saat istirahat aku keluar kelas dan memutuskan untuk mencari dimana Sarah. Aku lupa mengucapkan `terimakasih` tadi. Bagaimanapun Emak pernah bilang “Nak, mengucapkan `terimakasih` itu penting.Itu sebagai bentuk balasan seseorang yang telah menolong kita.”. Disela-sela kantin perpustakaan hingga kelas ku telusuri namun tak ku temukan. Brukk. Upz, aku menabrak seseorang. Ternyata yang ku tabrak adalah ketua OSIS. “Upz, maaf kak. Aku gak sengaja,” kataku sambil membereskan buku-bukunya yang berserakan. “Oh, gak apa kok. Kamu buru-buru kenapa?” kata kak Joni dengan senyumannya yang indah. “Ehmm... Aku lagi cari orang ni kak?” kataku. “hah? Emang kamu nyari siapa? Kayaknya penting banget apa? Mendingan kamu itu bantuin kakak kalo gak sibuk,” kata kak Joni. “Aku nyari si Sarah kak. Emang kakak perlu bantuan apa?” tanyaku. “Sarah ya? Ngapain kamu nyariin orang yang tidak tahu terimakasih itu? Kalo gag salah dia lagi main basket dilapangan sana. Sendirian sih tadi. Ehm, ini lho kakak repot banget sama OSIS. Suruh ngetik banyaknya minta ampun,” kata kak Joni. “Wah kak, kayaknya aku mesti buru-buru ngejar Sarah ni kak. Nanti insya Allah aku bantu deh kak. Tapi habis ketemu Sarah ya kak... hehehe” kataku. “iya,iya. Kakak tunggu di kantor OSIS ya,”kata kak Joni. Aku hanya membalas dengan senyuman. Ya, tentu aku sangat mengenal kak Joni. Dia itu cinta pertamaku sedari aku SD kelas 5 sampai saat ini. Hmm, rumahnya pun tak jauh dari tempat aku tinggal. Tapi sayangnya kak Joni tak pernah mempunyai perasaan yang sama dengan aku. Aku langsung lari ke lapangan menyusul Sarah. Lapangan yang biasanya untuk berlomba. “Sarah...” teriakku ketika melihatnya. Spontan Sarah melihatku dan langsung berhenti main basket. “Kenapa lu? Ada perlu apa ma gue?” tanya Sarah. Ya, inilah sikap Sarah yang tegas. Mungkin inilah sebabnya dia ditakuti oleh banyak orang disekolahku. Padahal sebenarnya dia baik. Dia begitu hanya karena dia tak ingin dianggap remeh oleh orang lain.Tapi sebenarnya sikap Sarah yang seperti inilah yang membuat orang-orang menjauhi Sarah. “Aku lupa sesuatu tadi pagi. Makasih atas pertolonganmu. Itu saja,” kataku. “Apa gue nolong lu?” tanya Sarah. “Ehm...Ya itu kan kamu sendiri yang tahu. Aku tadi hanya merasa tertolong dengan adanya kamu. Makasih,” kataku. “Ya,” kata Sarah melanjutkan menggiring bola basket.  Setelah pulang sekolah seusai sholat ashar, aku mencari uang dengan mengamen di tengah ramainya bus kota. Ya, Rasanya hanya inilah yang bisa ku lakukan. Aku terpaksa mengamen. Karena kalau aku tidak mengamen kami tidak bisa makan. Penghasilan Abah setiap harinya hanya 5000 rupiah. Sedangkan Emak tak tentu karena hanya berjualan mainan kapal-kapalan dipasar. Kami memang miskin. Tapi Insya Allah hati tidak miskin. Seperti biasa aku menyanyikan sebuah lagu mengiringi perjalanan mereka. “Jangan menangis sayang... Ini hanyalah cobaan tuhan...Hadapi semua dengan senyuman.............” “Mas, sedekahnya mas,” kataku pelan. “Tiara. Kenapa kamu mengamen?” ternyata dia adalah Kak Joni. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.Kak Joni tentunya tahu kenapa aku bisa sampai begini.Dia tahu kondisi ekonomi keluargaku. “Pak, sedekahnya pak,” kataku pelan. “(Sambil menyerahkan uang) masih muda udah ngamen. Mau jadi apa penerus bangsa ini nantinya. Masih sekolah kan mba? ” kata bapak-bapak itu. Aku hanya membalas dengan senyuman. “Bu, sedekahnya bu,”kataku pelan. “Kamu disekolah diajarin ngamen?” tanya ibu-ibu itu. “Tidak, Bu...” jawabku. Astaghfirullahal’adziim. Ya Allah, Inikah cobaanMu? Mengapa terasa begitu berat? Kapan aku bisa mengukir senyuman dibibir Emak dan Abah, Ya Allah, gerutuku dalam hati.  Aku pergi ke pasar untuk memberikan uang yang ku dapat. Alhamdulillah. Uang yang ku dapat cukup banyak dihari ini. Dari kejauhan aku melihat sosok Bu Susan sedang memaki-maki Emak. Serentak, aku langsung menghentikan langkahku. “Ibu ini gimana? Kalau miskin ya jangan menyekolahkan anaknya di sekolah yang berkualitas. Sekarang saya butuh uang buku itu untuk dibayarkan ke tokonya. Saya mau bilang apa kepada pemilik toko itu kalau saya belum dapat uangnya?” kata Bu Susan. Bu Susan adalah guru tergalak di sekolahku. Aku harus berbuat apa kali ini, Ya Allah. Rasanya aku tak tega melihat air matanya. “Bu Susan! Saya yang akan membayarnya,” tiba-tiba dari belakangku ada suara yang muncul. Ternyata itu suara kak Joni yang sedari tadi mengikutiku. “Emakkuuuu........” teriakku langsung memeluk hangat tubuh emak yang telah tua. Otot-ototnya telah terlihat karena kerasnya ia bekerja dan mengurus anak-anaknya. “Nak, kenapa nak Joni bisa ada disini?” tanya Emak. Aku hanya menggelengkan kepala sebagai ungkapan tidak tahu. Aku memeluk emak sekencang-kencangnya. “Joni, kamu serius akan membayar semua uang buku-buku Tiara?” tanya Bu Susan tegas. “iya, Bu. Saya yang akan membayar semuanya,” kata kak Joni sambil tersenyum kepadaku. “Terimakasih, kak...” kataku pelan. “Ya. Sama-sama,” kata kak Joni. Bu Susan pun pergi karena telah mendapat apa yang ia mau. “Mak, ni uang hasil Tiara mengamen. Cukup untuk makan kita semua,”kataku. “Iya, nak. Terimakasih, nak Joni...” kata Emak. “Sama-sama, Bu. Tadi saya mengikuti Tiara karena saya bertemu dia ketika sedang mengamen di bus kota,” kata kak Joni.  Sementara itu hari berlanjut hingga malam. Abah yang hanya bisa bekerja sebagai pembersih kandang kambing pun pulang. Hanya waktu malam-lah kami semua bisa berkumpul, bercanda sambil makan malam bersama. Ya, inilah kehidupan kami. Walaupun tak terlihat sempurna tapi kasih sayang yang emak dan abah berikan kepadaku rasanya lebih dari sempurna. Sesungguhnya Allah itu Maha Melihat dan Maha Mendengar. Allah pasti mendengar doa-doa hambanya yang beriman dan mau mengamalkan perintah-Nya. Allah itu tidak buta dan tidak tuli. “Hari ini dapat berapa, bah?” tanya emak pada abah dengan lembut sambil memberikan segelas teh hangat. “Alhamdulillah... 7000 rupiah. Tadi diberi bonus sama Pak Jalal,” kata abah. “Alhamdulillah...” kataku dan ketiga adik-adikku.  DOA UNTUK ABAH DAN EMAK Ya Allah, Rendahkanlah suaraku bagi Abah dan Emak, Perindahlah ucapanku di depan Abah dan Emak. Lunakkanlah watakku terhadap Abah dan Emak dan Lembutkanlah hatiku untuk Abah dan Emak. Ya Allah, Berilah Abah dan Emak balasan yang sebaik-baiknya Atas didikan Abah dan Emak padaku dan Pahala yang besar Atas kesayangan yang Abah dan Emak limpahkan padaku, Peliharalah Abah dan Emak Sebagaimana Abah dan Emak memeliharaku. Ya Allah, Apa saja gangguan yang telah Abah dan Emak rasakan, atau kesusahan yang Abah dan Emak derita karena aku, atau hilangnya sesuatu hak Abah dan Emak karena perbuatanku, jadikanlah itu semua Penyebab rontoknya dosa-dosa Abah dan Emak, Meningginya kedudukan Abah dan Emak dan Bertambahnya pahala kebaikan Abah dan Emak dengan perkenan-Mu, ya Allah sebab hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan dengan kebaikan berlipat ganda. Ya Allah, Bila magfirah-Mu telah mencapai Abah dan Emak sebelumku, Izinkanlah Abah dan Emak memberi syafa'at untukku. Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku, Maka izinkahlah aku memberi syafa'at untuk Abah dan Emak, sehingga kami semua berkumpul Bersama dengan santunan-Mu di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta rahmat-Mu. Sesungguhnya Engkaulah yang memiliki Karunia Maha Agung, serta anugerah yang tak berakhir dan Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.  Mari kita kenang dosa kepada orang tua kita. Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa karena kedurhakaan kita. Karena kita sudah menghisap darahnya, tenaganya, airmatanya, keringatnya. Istighfar, istighfarlah Barangsiapa yang matanya pernah sinis melihat orangtuanya. Atau kata-katanya sering mengiris melukai hatinya, atau yang jarang memperdulikan dan mendoakannya. Percayalah bahwa anak yang durhaka siksanya didahulukan didunia ini. Istighfar yang pernah mendholimi ibu bapaknya. Astaghfirullahal Adziim Astaghfirullahal Adziim Biodata Penulis Nama: Siti Khakimatul Azizah Panggilan: Hikmah Tempat, Tanggal lahir :Cilacap, 11 November 1994 Hobby : menulis dan membaca
Janjiku Biar Hancur,Tetap Jujur Aku adalah siswa salah satu SMA favorit di kotaku.Seminggu yang lalu aku baru melaksanakan ujian nasional untuk mata pelajaran matematika, bahasa indonesia, dan bahasa inggris. Jum’at, 28 Maret lalu tepatnya tiga hari sebelum UNAS tiba, kebetulan jam pelajaran terakhir di kelasku kosong. Teman-temanku mengadakan rapat. Ini tidak biasa terjadi. Aku pun menanggapinya dengan cuek. Namun betapa terkejutnya aku mendengar apa yang mereka rencanakan. “Teman-taman, Senin besok ujian kan, gimana kalau kita semua kerjasama. Aku yakin tidak ada yang tidak ingin lulus,” ujar Ayi di depan kelas. “Ya. Setuju, setuju,” seru sebagian yang lain. “Tunggu-tunggu. Tapi semua harus benar-benar kompak. Jangan ada yang nggak ikut”, sambung Opie. “Eh semuanya, kita buat perjanjian aja. Kalau ada yang berkhianat, kita musuhi dia aja. Kalau perlu kita kroyok dia rame-rame. Gimana, setuju?” tambah Desta. “Ya, benar. Lagian tega banget sih. Memangnya tidak kasihan kalau tidak ada yang nggak lulus,” ujar Ayi dengan penuh emosi. “Nah, sakarang ayo kita kumpul ke sini buat merencanakan trik-trik yang akan kita gunakan!” perintah Angga. Mereka menggerombol jadi satu. Aku terbenggu di bangku. Aku tak mampu berbuat apa-apa. Hatiku penuh dengan amarah. Namun tanganku lamah tak berdaya. Ingin rasanya aku berlari dari kelas yang berisi para pendusta itu, aku seperti di takdirkan untuk jadi saksiatas rencana buruk mereka. “Ya Tuhan, bencana apa yang akan datang? Kenapa temen-temankujadi buta hati seperti itu. Tidakkah meraka takut kepada-Mu? Lindungi aku dari mereka, Tuhan,” hatiku terus meronta-ronta meminta perlindungan kepada-Nya. Kelas jadi gaduh ketika setiap anak mulai mengeluarkan pendapatnya. “Diam, diam, diam!” sentak Angga. Aku terbelalak. Rasa deg-degan di hatiku bertambah kencang. Dengan berbisik Angga menjelaskan strategi mencontek yang akan digunakan. Tidak begitu oleh telingaku. Setelah itu masing-masing anak kembali ketempat duduknya. Tidak sedikit dari mereka yang menangis. Mereka bukan menangisi perbuatannya, melainkan menangis karena takut tidak lulus. Kini hatiku menjadi iba. Sempat terbisik dorongan untuk bergabung dengan mereka. Namun “Tidak!” hati kecilku menolak. Ini memang berat. Tapi aku harus bertahan. Aku memang sayang pada mereka tetepi aku juga tidak mungkin mengkhianati. Meski nanti mereka akan mengetahui aku sombong , aku akan terima itu. Aku sadar aku bukan anak yang jenius dan aku buka yang terbaik diantara mereka ,tapi aku yakin kalau Tuhan akan memberikan yang terbaik untukku selama aku menjadi orang baik. Bila aku gagal dalam UNAS nanti, itu adalah takdir. Keputusan Tuhan tidak pernah salah. Inilah janjiku. Tiba-tiba Ayi maju kedepankelas. “teman-teman, buat kalian yang biasanya pelit untuk berbagi jawaban,laki ini aku mohon banget hilangkan sifat itu sesaat,”kata Ayi. “Ya. Betul. Sekarang coba pikir. Kita telah bersama hampir tiga tahun. Memang, permusuhan terkadang menghiasi pertemanan kita. Tapi apa mungkin kita tidak sedih jika melihat salah satu diantara kita tidak lulus. Pikir deh!” dukung Angga. “Teman-teman, kalau ada diantara kalian yang pernah sakit hati gara-gara aku, aku mohon maaf banget. Tolong ya kalian jangan pelit,” pinta Serina dengan wajah karena air mata. Yang lain jadi ikut-ikutan. “Sekarang aja kalian bilang begitu. Semua bilang setuju. Tapi aku yakin, khakul, pasti ada yang ngga setuju. Ya nggak?” ujar Bella sambil mencibir pipiku. Pandangan teman-teman menjadi tertuju padaku. Aku seperti terdakwa. “La, besok kamu jangan egois. Memangnya kamu mau hidup sendiri di dunia ini. Hidup itu perlu tolong-menolong, “bisik Sera teman sebangkuku. Perasaanku makin tidak karuan. Semua temanku memojokannku. “Tet... tet... tet...!”. suara bel seolah-olah membuka kerongkongan bagiku untuk bernapas. Aku segera menarik sahabat baikku. Vina ke kamar mandi. “Vin gimana?” tanyaku sambil menangis terisak-isak. “Apanya yang gimana?” rupanya Vina tidak tau maksudku. “Vin, sungguh aku tidak mungkin bekerja sama dalam ujian nanti. Bukan karena aku tidak kasian pada teman-teman, tapi karena aku lebih takut pada Tuhan. Kau tahu kan Dia Maha Tahu, Dia tidak pernah tidur. Ujian adalah benih yang menentukan masa depan kita. Kalau kita tanam benih dengan cara yang haram, maka buahnya juga tidak baik. Apa gunanya kita berdoa pada Tuhan kalau akhirnya kita melakukan kecurangan. Lagi pula kalau kita ketahuan mencontek akan berakibat buruk bagi sekolah kita. Vin, aku bingung. Di satu sisi aku tidak ingin dimusuhi terus oleh teman-temanku karena aku pelit dalam hal contek-mencontek. Tapi di sisi lain, aku juga tidak ingin mendustai Tuhan,” terangku. “La, jujur. Aku juga demikian. Tpi mau apalagi?” ujar Vina beriring isak tangis. Senin , 1 April. Hari ujian pun tiba. Rasa deg-degan mendekap jantungku. Rasa ingin menangis pun ada dan rasa ingin marah pun juga ada. Semua rasa berkecamuk di kalbu. Pemandanga tidak sedap menyambut kedatanganku di sekolah karena dari kejauhan tampak teman-temanku berebut bocoran jawaban ujian yang tidak terjamin kebenarannya. Sempat rasa was-was menggoda hatiku. Aku takut jug bocoran itu benar. “Oh Tuhan, jangan biarkan kejahatan itu meraja,” pinta hatiku. “Dear...!!!”. Aku terkejut. “Pagi-pagi kok sudah melamun?” tegur Bilbina sambil berlalu di depanku. “Na. tunggu ..!”. Ku kejar Bilbina. “Aku minta maaf ya,” kataku. “mamf buat apa?” tanya Bilbina keheranan. “Soalnya aku tidak mungkin memberi contekan di saat ujian nanti,” jawabku. “Karena aku lebih takut pada Tuhan,” tambahku. “Ya ampun La, biasa aja. Lagipula aku juga tidak akan menyontek,” terang Bilbina. Aku sedikit lega mendengar pernyataan Bilbina. Ujian Nasional memangtelah berakhir, namun belum untuk ujian imanku. Kemarin pagi guru matematikaku memberi tahu mengenai perkiran jawaban soal ujian. Betapa terkejutnya aku. Karena pada saat di cocokan dengan perkiraan jawaban itu aku hanya salah 10 dari 60 soal. Dengan bercucur air mata, aku bersimpuh memanjatkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Namun tiba-tiba “La, kamu tidak boleh begitu. Lihat dong, teman-teman sedang bersedih. Kamu tega banget sih,senang- senang di atas penderitaan orang lain,” tegur Opie. Aku tersentak. Aku lihat sekelilingku. Tampak teman-temanku menangisi kegagalannaya. Aku terdiam. Pikirenku mulai melukis, menerangkan segala yang terjadi. Rasa ngeri menyerang hatiku. Tuhan, sungguh besar kuasa-Mu. Inikah bencana dari-Mu? Ya Tuhan, sadarkanlah mereka dengan musibah ini. Saat itu ku rasa hatiku semakin yakin akan kekuasaan-Nya. Pandanganku kini terbeku pada sosok yang begitu akrab dengan hari-hariku. Dialah Vina. Tampak di mataku dia tengah menangis di salah satu pojok ruangan dengan ditemani oleh Sera. Kemudian aku berjalan mendekati mereka. “Vin, kamu kenapa?” tanyaku dengan lembut. Namun Vina tidak menyahut. “Vin, kamu itu anak baik. Selama ujian saja kulihat kamu tudak menyontek. Jadi, aku yakin Tuhan akan menolongmu. Percayalah, kamu pasti lulus,” kataku menghibur. “La, kamu jangan memujiku seperti itu.” ujar Vina dengan wjah tertutup sapu tangan. “Aku tidak sedang memujimu tetapi aku sedang bicara kenyataan,” bantahku. “Vin, Ser, dengarkan aku baik-baik. Lulus atau tidaknya kita nanti itu adalah keputusan Tuhan. Dan kalian harus percaya kalau keputusan Tuhan itu tidak pernah salah. Tidaklah mengapa kita di dunia gagal, yang penting di akhirat jangan. Tetaplah jaga iman kalian karena masih ada esok yang perlu kita pertanggungjawabkan. Kebahagiaan di dunia itu semu, tidak abadi. Jadi janganlah kalian halalkan segala cara untuk mendapatkannya. Kalau kalian merasa telah berusaha sekuat tenaga dan juga telah berdoa, kini saatnya kalian pasrahkan semuanya kepada Tuhan. Selama usaha dan doa kita baik. Tuhan juga pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita,” lanjutku panjang lebar. Siang itu, setelah dari kafe aku dan Vina memasuki kelas. Aku merasa heran karena marasakan kelas yang penuh penghuni itu sepi. Betapa tertegunnya aku melihat tatapan teman-teman yang memandangku dengan penuh kebencian.”La, kamu dapat nikai matematika berapa? Sembilan, sepuluh, atau sebelas?” tanya Serina dengan juteknya. “Hahahaha...,” teman-teman yang lain menertawakannya. “Diam...!!! kalian jangan ada yang tertawa. NGGAK LUCU..!!” bentak Serina. Aku mendekati tempat duduknya. Saat aku hendak duduk, tiba-tiba......., “PENGHIANAT..!!!” sentak Opie. Sementara itu aku di kamar mandi aku menangis. Aku sangat ketakutan. Perasaanku tidak karuan. “Oh Tuhan, tolong aku. Lindungi aku dari mereka, kata-kata itu berkali-kali ku ucapkan. Tiba-tiba ada kekuatan besar merasuki diriku. Bersama itu hilanglah rasa takut yang menderaku. Dengan kekuatan itu aku kembali ke kelas. Semenjak hari itu rasa kesal membalut hatiku. Tidak ada sedikitpun rasa sesal di hatiku meskipun teman-teman menjauhiku. Aku justru bersyukur dan bangga karena aku tidak buta dan bersekutu dengan mereka. Meski kini hasil ujian belum tampak, namun aku yakin bahwa sampai kapanpun amal baik yang bersumber dari hati yang di balut erat oleh keimanan kepada Tuhan akan selalu memberikan hasil yang terbaik. BY.SETYO YULIONO
AKHIRNYA KINI AKU MENGERTI Namaku Rini, siswa kelas X SMA yang masih terlalu dini mengenal istilah cinta. Aku mengenal dengan istilah cinta saat duduk di bangku kelas tiga SMP. Belum terlalu paham tentang cinta, sebegitu mudahnya aku mempermainkan cinta saat itu, tanpa sedikitpun memikirkan perasaan pasanganku. Awal masuk SMA, aku menjalin suatu hubungan dengan kakak kelasku. Aku kelas X, sedangkan dia kelas XII sekali lagi aku hanya bermain-main dengan cinta tanpa serius memikirkan perasaannya yang telah tersakiti karena kelakuanku. Putus dari dia aku mengenal dengan sesosok lelaki muda, kebetulan dia juga kakak kelasku, tepatnya kelasXI, Riko namanya. Sebelumnya aku benar tidak tertarik sama sekali menjalin hubungan lagi, bosanlah istilahnya, tak ada yang menarik saat ku menjalin hubungan. Awal perkenalan kami juga tidak begitu menarik, dan aku pun tak menganggap Riko sama sekali. Tapi rasa itu langsung berbeda ketika aku pertama kali melihat dirinya. “Rin, itu lo yang namanya Riko” gertak Dani, salah seorang temanku yang ketika itu kami sedang duduk santai didepan kopsis sambil berbincang. Aku langsung menoleh ke arah lelaki muda itu, dan itulah awal aku tahu Riko secara langsung. “Benarkah itu Riko?” tanyaku kepada Dani tanpa memalingkan pandanganku ke arah Riko. “Iya benar, itu Riko !” Jawab Dani sambil memakan jajan yang baru saja ia beli. “Gila, Benar-benar gila. Ganteng banget ternyata” gumamku di dalam hati dan masih terpesona melihatnya. Sesampainya di rumah, aku pun tak henti-henti kepikiran wajah si Riko. “Kenapa ini, aku tak bisa berhenti memikirkan lelaki itu. Biasanya aku juga tak pernah seheboh ini” pikirku sangat aneh sambil berkali-kali aku memandangi handphone berharap ada SMS masuk dari Riko. Sungguh aneh, yang tadinya aku tak tertarik sama sekali, sekarang malah berharap lebih sama Riko. “Ada SMS !” teriakku. Langsung ku buka SMS itu dan benar, itu SMS dari Riko. Akupun sangat kegirangan. Itulah awal mula aku bisa serius menjalin hubungan dengan pasangan, sungguh berbeda dengan pasangan-pasanganku sebelumnya. Dan inilah waktu yang aku tunggu, waktu dimana aku dan Riko jalan bareng. Sebelumnya kami memutuskan untuk nonton, tapi berhubung waktu telah terlewatkan, kami akhirnya menuju ke sebuah tempat yang begitu indah. Udara yang begitu sejuk, suasana tenang, burung-burung bernyanyi, rumput hijau menari dan genangan air yang membentang luas adalah sebagian kecil dari pancaran indah tempat ini. Di tempat ini kami saling bercerita tentang kehidupan kami, tak terasa pula sore telah datang menjemput. “Aku boleh ngomong serius sama adek ?” tanya Riko begitu serius memandangku. “Boleh kak, silakan !” dengan sedikit gugup aku menjawab pertanyaannya. Tiba-tiba Riko menggenggam tanganku. “duuh gila, mau ngapain ni anak” gumamku dalam hati. “Maukah adek jadi pacarku ?” Seketika perasaanku langsung campur aduk antara senang dan bingung. “Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu sekarang kak. Kita juga belum lama kenal” Jawabku menutupi rasa bingung yang sedang bersemayam di otak dan hatiku. “Tapi aku sudah menganggapmu jadi pacar dek dari dulu” bujuk Riko seperti mengharapkan jawaban berbeda dariku. Sungguh tak kuasa aku melihat pandangannya, ingin memalingkan pandangan darinya, tapi kepala ini bagai ditahan oleh batu besar. “Ya sudah, aku mau” “Benarkah ? Terimakasih adek” Sambut Riko dengan muka kegirangan. Akhirnya aku telah mengerti indahnya menjalin hubungan waktu bersama Riko. Apakah ini sesuatu yang dinamakan cinta, sesuatu yang dulu selalu aku anggap membosankan dan tidak mempunyai arti sama sekali. Awalnya aku begitu bahagia, aku selalu membanggakannya, tapi tidaklah mudah menjalani hubungan dengan Riko. Banyak kabar burung tentang Riko, entah karena Riko adalah salah seorang anak yang dikenal di sekolah, atau karena dia mempunyai banyak mantan pacar di sekolah, yang pasti kabar itu sungguh tak bersahabat di telingaku saat itu, Banyak kabar burung yang mengatakan bahwa Riko itu playboy, Riko itu anak yang tidak baik, dan sebagainya. Berbagai cara aku lakukan untuk selalu percaya pada Riko, karena aku yakin Riko yang aku kenal bukanlah tipe orang yang seperti itu. Begitu juga dengan Riko, dia menyarankanku untuk tidak percaya kepada kabar burung tentang dirinya. Suatu hari, ketika kenaikan kelas. Aku kebetulan sekelas dengan salah seorang yang telah mengenal Riko dari SMP, dia adalah Dhea, sahabat dari dua mantan pacar Riko. “Hai !” sambutku padanya. “Hai juga, kamu pacarnya Riko yang baru ya?” Aku hanya membalasnya dengan senyum, walaupun pertanyaan Dhea begitu biasa, tentu aku merasa sedikit tersinggung.Dhea adalah tipe orang yang mudah bergaul, walaupun kami baru kenal, tapi dia sudah sangat akrab denganku, Dhea pun tidak segan untuk berbicara tentang masa lalu Riko kepadaku. Aku begitu terkejut ketika Dhea berbicara bahwa Riko adalah seorang yang playboy, dan salah satu mantannya itu adalah wanita yang tidak baik. Sungguh berbanding terbalik dengan semua cerita Riko yang sesungguhnya. Saat itu kondisi otak dan hatiku sungguh tidak stabil, aku bingung harus percaya sama siapa lagi, apakah aku harus percaya sama teman-temanku yang jelas-jelas tidak hanya seorang yang menyatakan bahwa Riko tidak sebaik yang aku kira atau apakah aku harus percaya sama Riko dan mempercayai bahwa tidak mungkin orang sebaik Riko mempunyai sifat seperti itu. Sungguh hatiku tak tenang dengan semua ini. Ini adalah puncak rasa ragu-raguku terhadap Riko, tapi untuk kesekian kalinya, Riko bisa menenangkanku dan akhirnya aku tahu harus percaya pada siapa waktu itu. Keesokan hari setelah aku berhasil menenangkan pikiranku ada SMS dari seorang sahabatku, Candra. “Kamu masih pacaran dengan Riko ?” bunyi SMS dari Candra. “Iya, kenapa ?” Balasku “Nanti kerumahku ya, ada yang mau aku omongin, penting !”. Melihat balasan dari Candra, aku merasa terkejut. Tidak seperti biasanya dia bilang seperti itu dan mengurusi urusanku dengan pacarku. Tanpa pikir panjang aku langsung memanasi motor, dan bersiap ke rumah Candra tanpa meminta izin pada Riko. Sesampainya disana ternyata tidak hanya ada Candra seorang, tetapi Ayu juga ada disana. Mereka berdua adalah sahabatku dari kelas satu SMP. Aku terkejut melihat wajah mereka yang begitu serius memandangiku. “Ada apa emangnya, wajah kalian serius banget seperti menghadapi ulangan fisika” aku berusaha membuka perbincangan. “Kamu masih pacaran dengan Riko ?” tanya Ayu dengan penasaran. “Masih, memangnya kenapa sih ? kalian membuatku penasaran dari tadi” “Sebaiknya kamu putusin saja deh Riko itu” ujar Candra. “loh, kenapa sih ? kok tiba-tiba kalian berbicara seperti itu ? biasanya kalian mendukungku jika aku menjalin hubungan sama orang ?” “Iya, kami mendukung jika kamu bahagia, tapi apa kenyataanya ?” “Aku bahagia kok, kalian tahu sendirikan kalau aku bahagia” “sudahlah shel, kamu tidak perlu berbohong pada kita” Aku mencoba menutupi perasaanku yang dari kamarin tak menentu, tapi apa daya, mereka telah lama mengenalku, aku tak bisa berbohong pada mereka, akhirnya aku terus terang dengan semua yang terjadi selama ini. “Benar ternyata” ucap Candra mematahkan ceritaku. “Benar kenapa Candra ?” “Benar apa yang telah diceritakan Tika kepada kami” Tika adalah mantan pacar dari Riko, yang kebetulan satu kelas dengan Candra maupun Ayu ketika kenaikan kelas XI. Candra mulai bercerita kepadaku tentang semua cerita yang telah diceritakan Tika kepada Ayu maupun Candra. Intinya, Riko selingkuh dengan Tika, seketika aku tak kuasa menahan air mata, kenyataan ini begitu menyakitkan bagiku. Selama ini orang yang ku percayai, orang yang ku banggakan ternyata mempunyai hati yang busuk, bahkan lebih busuk dari seekor kera. Emosiku sudah tak terkendali waktu itu, tanpa pikir panjang aku langsung mengambil keputusan untuk mengakhiri hubunganku sama Riko mulai detik ini. Awalnya Riko tak terima dengan keputusanku ini, tapi apa daya jika aku juga tak bisa percaya lagi sama Riko. Akhirnya dengan berat hati dia menerima keputusanku ini. Bel pulang sekolah berdenting, ketika itu sebagian besar anak menyambutnya dengan senang, tapi tidak denganku. Riko menungguku di depan sekolah, pada waktu itu aku tak menganggapnya sama sekali, aku sudah terlanjur membencinya, rasa cinta yang aku harap berawal dan akan berakhir dengan kebahagiaan ternyata pudar ditengah jalan dengan alasan yang sangat memalukan. Berkali-kali Riko meminta maaf, tapi kata maaf pun sulit terucap dari bibir ini. “Adek, maafkan aku. Aku tahu aku salah, ijinkan aku untuk terakhir kali ini mengantarkan adek pulang dan aku akan terima keputusan adek selanjutnya” Ucap Riko dengan raut wajah memelas. Jujur aku tak kuasa melihat raut wajah itu, aku ingin bisa memaafkan dan menerima dia kembali, tapi hati dan mulut ini sudah membeku untuk sebuah kata maaf terucapkan. Ketika itu pula aku berpikir, inilah saat yang tepat untuk melepaskannya, karena sudah beberapa hari ini Riko sama sekali tak pernah menyetujui keputusanku untuk mengakhiri hubunganku dengannya. “Benar ? kamu bakalan terima keputusanku selanjutnya” “Iya adek, aku akan terima keputusan yang adek berikan” Aku langsung menerima ajakan Riko mengantarkanku pulang untuk yang terakhir kalinya itu. Selama di jalan aku tak kuasa menahan air mata, hatiku begitu sakit apabila teringat perbuatannya selama ini. Riko berusaha menggenggam tanganku, tapi aku selalu menampiknya. Riko juga berusaha menenangkanku, tapi kata-katanya semakin membuatku tak kuasa menahan kesedihan. “Aku mengerti aku salah selama ini, aku tidak bisa jadi yang terbaik bagi adek, aku telah mengkhianati adek, aku memang seseorang yang bodoh” Ucapnya dengan sesekali memandangiku dari sepion motor mionya. Aku tak sanggup untuk menjawab semua kalimat yang terucap dari mulut Riko dan air mata ini semakin tak tertahan, berkali-kali aku berusaha mengusap air mata dari kedua bola mata ini, menutupi kesedihan yang sedang melanda diriku dan mencapai pada titik puncaknya. “Aku masih bolehkan main ke rumah adek, masih bolehkan jalan sama adek, masih bolehkan memanggil adek dengan kata sayang” sambil Riko meraih tanganku dan menggenggamnya. Lalu dia berkata sambil menatapku melalui sepion motornya “Aku pesan sama adek, jaga diri adek baik-baik, jangan dengan mudah menerima orang yang sepertiku dalam hidup adek, itu tak pantas bagi orang sebaik adek” dan itulah kalimat terakhir yang Riko ucapkan kepadaku. Sesampainya di rumah, ketika aku turun dari motornya, aku melihat kesedihan dan penyesalan dari kedua bola mata yang sebentar lagi meneteskan airnya. kesedihanku semakin tak tertahan, aku menangis, aku menyesal, dan aku baru sadar tentang arti cinta yang sesungguhnya. Disini aku terus berusaha berpikir positif atas kejadian ini. Aku yakin Tuhan tidak akan memberi cobaan apabila umatnya tidak mampu untuk menjalani dan keluar dari cobaan itu. Akhirnya, kini aku mengerti cinta itu bukanlah sesuatu yang hanya dapat dibuat mainan semata, akhirnya, kini aku mengerti cinta itu tidak hanya datang dari ketampanan atau kecantikan, dan akhirnya, kini aku mengerti tidaklah baik jika kita terlalu membanggakan pasangan kita karena cinta. Aku mengerti atau tidak ? ternyata cinta itu tak selamanya mendatangkan kebahagiaan dalam hidup ini, melainkan juga akan mendatangkan kesedihan yang begitu mendalam. BY.RIANTI HANDAYANI
Extraordinary Love of Ordinary Men Menjelang hari H, Khusna masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Ayah dan Ibu, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Khusna. Mereka ternyata sama herannya. Kenapa? Tanya mereka di hari Khusna mengantarkan surat undangan. Saat itu teman-teman baik Khusna sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu. Tiba-tiba saja pipi Khusna bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Khusna terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata! Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Khusna yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Khusna menyampaikan keinginan Al Fath untuk melamarnya. Arisan keluarga Khusna dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka. Kamu pasti bercanda! Khusna kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Ayah dan Ibu membuat Khusna menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Khusna bercanda. Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Khusna yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Khusna! Khusna serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Al Fath memang melamarnya. Tidak ada yang lucu, suara Ayah tegas, Ayah hanya tidak mengira Al Fath berani melamar anak Ayah yang paling cantik! Khusna tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Ayah barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Khusna tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan. Tapi Khusna tidak serius dengan Al Fath, kan? Ibu mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Ibu siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh? Khusna terkesima. Kenapa? Sebab kamu gadis Ayah yang paling cantik. Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Khusna sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau! Khusna memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Ayah, kakak-kakak, dan terakhir Ibu. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Khusna lontarkan. Khusna Cuma mau Al Fath, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak. Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Al Fath. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah. Tapi kenapa? Sebab Al Fath cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa. Bergantian tiga saudara tua Khusna mencoba membuka matanya. Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Khusna! Cukup! Khusna menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini? Sayangnya Khusna lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Al Fath. Barangkali karena Khusna memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Al Fath tampak 'luar biasa'. Khusna Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Khusna menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Al Fath. Di sampingnya Khusna bahagia. Mereka akhirnya menikah. *** Setahun pernikahan. Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Khusna, apa sebenarnya yang dia lihat dari Al Fath. Jeleknya, Khusna masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Al Fath agar tampak di mata mereka. Khusna hanya merasakan cinta begitu besar dari Al Fath, begitu besar hingga Khusna bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Khusna. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Al Fath pada Khusna. Nada suara Khusna tegas, mantap, tanpa keraguan. Ketiga saudara Khusna hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya. Khusna, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses! Khusna merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Al Fath. Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen. Tapi Al Fath juga tidak jelek, Kak! Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan? Al Fath juga pintar! Tidak sepintarmu, Khusna. Al Fath juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Khusna. Bukan sukses. Tidak sepertimu. Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Al Fath. Lagi-lagi percuma. Lihat hidupmu, Khusna. Lalu lihat Al Fath! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu. Teganya kakak-kakak Khusna mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Khusna dan Al Fath sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Al Fath bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Khusna lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Khusna memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Khusna cukup, maksud Khusna jika digabungkan dengan gaji Abang. Khusna tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.. Sebaiknya Khusna tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Khusna dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Khusna cerah. Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia! Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Khusna. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting. Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Khusna di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Khusna besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Khusna memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak! Bisik-bisik masih terdengar, setiap Khusna dan Al Fath melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Khusna, bisik Ayah dan Ibu. Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik ya? dan kaya! Tak imbang! Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Khusna belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari. Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Khusna masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Khusna mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Al Fath melukai hati Khusna, atau membuat Khusna menangis. *** Bayi yang dikandung Khusna tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya. Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Khusna. Harus segera dikeluarkan! Mula-mula dokter kandungan langganan Khusna memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Khusna. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil. Al Fath tidak beranjak dari sisi tempat tidur Khusna di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Khusna belum satu pun yang datang. Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Khusna tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Khusna per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan. Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Khusna dan Al Fath berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi. Tigapuluh jam berlalu. Khusna baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset. Masih pembukaan dua, Pak! Al Fath tercengang. Cemas. Khusna tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya. Bang? Al Fath termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan. Dokter? Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar. Mungkin? Al Fath dan Khusna berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? Mereka berpandangan, Khusna berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Al Fath tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal. Pembiusan dilakukan, Khusna digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Khusna merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri. Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Al Fath bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir. Seorang dokter keluar, Al Fath dan keluarga Khusna mendekat. Pendarahan hebat! Al Fath membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Khusna dalam kondisi kritis. Ibu Khusna yang baru tiba, menangis. Ayah termangu lama sekali. Saudara-saudara Khusna menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka. Al Fath seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker. Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Khusna. *** Sudah seminggu lebih Khusna koma. Selama itu Al Fath bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Khusna dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang. Ibu, Ayah, dan ketiga saudara Khusna terkadang ikut menunggui Khusna di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Khusna dengan Al Fath. Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Al Fath bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Al Fath terhadap kantor tidak perlu diragukan. Begitulah Al Fath menjaga Khusna siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Khusna yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.. Al Fath percaya meskipun tidak mendengar, Khusna bisa merasakan kehadirannya. Khusna, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik. Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Al Fath masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Khusna sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Khusna ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, Khusna, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Al Fath dalam sujud dan permohonan. Asalkan Khusna sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Khusna, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Al Fath. Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Khusna. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Al Fath tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan. Ia ingin melihat Khusna lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Khusna sudah tidur terlalu lama. Pada hari ketigapuluh tujuh doa Al Fath terjawab. Khusna sadar dan wajah penat Al Fath adalah yang pertama ditangkap matanya. Seakan telah begitu lama. Al Fath menangis, menggenggam tangan Khusna dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. Asalkan Khusna sadar, semua tak penting lagi. Al Fath membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Khusna selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Khusna, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Khusna ke teras, melihat senja datang sambil memangku Khusna seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta. Ketika malam Al Fath mendandani Khusna agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Khusna selalu merasa cantik. Meski seringkali Khusna mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh? Tapi Al Fath dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Khusna, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Al Fath. Setiap hari Minggu Al Fath mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Khusna. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Khusna harus ikut. Anak-anak, seperti juga Al Fath, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Khusna. Begitu bertahun-tahun. Awalnya tentu Khusna sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Al Fath yang berkeringat mendorong kursi roda Khusna ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat. Lalu berangsur Khusna menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Khusna tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik. Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua! Khusna beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya. Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam! Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Ayah dan Ibu. Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Khusna makin frustrasi, merasa tak berani, merasa? Tapi dia salah. Sangat salah. Khusna menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi? Dari teras Khusna menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Khusna menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Khusna. BY.M RIFAI AZIZ
Biarkan Cinta Tumbuh di Hati Indie selalu bersikap cuek dan jaim bila melihat Bamby yang sikapnya sedikit pemalu, cuek, tapi manis. Dia bisa dibilang cowok kategori idaman di sekolah. Dalam sikapnya yang jaim, hati Indie selalu berbunga-bunga bila melihat si Bamby. Ya, itulah Indie, si miss jaim yang sok bete plus nyebelin. “Guys...tau gak? Kalo si Bamby yang mantannya lo itu In, udah putus sama adik kelas kita itu, siapa lagi kalo bukan Chelsae yang sedikit keturun bule itu”. Dengan terengah-engah dan melirik Indie, Indie pun menjelaskan dengan jaim. ”Emangnya gue pikirin, dia putus atau nggak, nggak penting banget deh!! Ya nggak sobat, EGP, Emang gue pikirin gitu loch? ha ha ha...”, tawanya bersama Maya dan Dewi. “Jangan sok munafik deh In, padahal lo senangkan Bamby putus ama Chelsea?” cetus Aysi kesal. “Ay, nggak mungkin gue senang atau suka sama Bemby, dia itu kan kurus, tinggi, culun lagi, trus jelek, idiiih... amit-amit deh gue suka lagi sama dia, gue benci sama dia“, kata Indie dengan pedenya dan sedikit emosi. “Duuuh...lo itu gimana sih In, belum tentukan Bemby putus sama Chelsea trus dia mau balikan sama lo lagi, paling dia tambah bete lihat lo, jangan sok jaim deh lo!” cetusnya sambil tersenyum. Bel berbunyi dan tidak ada lagi di luar kelas dan melanjutkan pelajaran, dan tidak terasa bel istirahat pun berbunyi. Indie duduk sendiri dan tiba-tiba Indie mendengar suara teriakan dari kejauhan sana memanggilnya. “In, Indie!!” Indie pun spontan terkejut ternyata memanggil dirinya. Indie segera melihat ke samping kiri, ”gila In, gila!!“ ucap Maya sambil terengah-engah. ”Kenapa May?” tanya Indie heran. ”Sini ...lihat tu si Bamby main basket, keren benget ya?“ kata Maya antusias. Mata Indie langsung tertuju ke lapangan basket dan terpaku pada sosok Bamby yang sedang menribble bola dan melakukan shoot tiga kali dengan pasti, Indiepun tersadar dari tatapan matanya, langsung menggantikan sosok dirinya yang jaim. “Ooh”, ucap Indie datar dan bersikap secuek muingkin. ”In, lo beneran nggak suka sama Bamby. Dia itukan keren trus pintar lagi!” puji Maya geram. “Emang gue harus suka sama Bemby?” katanya sinis. Di antara percakapan itu, Mery datang dan memotong pembicaraan mereka. ”Heeyberdua aja nich, ikutan dong! Oya, aku suntuk nich?”. ”Lalu”? tanya Indie singkat. ”Ya seperi biasa, main tebak-tebakan, harus mau ya... ya... ya...?” paksa Mery kepada Maya dan Indie. ”Kenapa anjing kalau di panggil selalu menggoyangkan ekornya?” tanya Mery kepada Maya dan Indie. Indie pun langsung menjawab, ”ya iyalah, nggak mungkinkan kepalanya yang goyang-goyang, ntar disangka anjing gaul, ajep-ajep lagi”. “Salah!!!” ucap Maya singkat. ”Loh kok gitu, kan benar May?” balas Indie protes. ”Indie, ini kan teka teki gue, jadi terserah gue dong mana yang benar atau salah, gimana sih?” jawabnya sedikit dingin. ”Nah sekarang giliran lo May?” ucap Indie. ”Kalau gue sih, ya nggak mungkin anjing dipanggil, perutnya yang goyang, berarti anjing kelaparan (Busung Lapar” jawabnya cetus. Indie, Maya dan Mery tertawa dan Mery pun menjawabnya.”Lo..lo pada begok yah? Karena kalo anjingnya goyang pinggul ntar di kira Inul, ha..ha..!!” tawanya bersama Maya dan Indie. ”Uuuh...payah lo Mer? udahan yuk, mendingan kita masuk kelas, lagian permainan basketnya pun selesai”, ajak Maya. Mereka pun langsung masuk dan meninggalkan tempat itu. Permainanpun tampak selesai, Bemby lewat di depan kelas Indie, namun semua berjalan dengan lancar. Bel pulangpun berbunyi. Indie dan temannya berjalan menuju puntu gerbang dan tiba-tiba Bamby datang menghalang langkah mereka dan berhenti tepat di depan mereka. Mereka terdiam dan Bamby pun berkata, ”kenapa lo tadi lihat-lihat gue, sewaktu gue main basket? Naksir ya sama gue?” tanya Bemby denang penuh canda, dan langsung membelokkan motornya dan meninggalkan mereka. Maya, Indie dan Mery sontak saling berhadapan dan langsung meledek Indie. ”Ooo...kamu katehuan liatin Bamby lagi main basket, ha.. ha..”, Maya bernyanyi dengan suara sedikit palles dan semuanya tertawa. Indie langsung memotong sendirannya itu. ”Duuh..lo nggak usah nyanyi deh May, palles suara lo tu didengar, jadi mending lo diam aja, tau!!”. “Ketemu di jalan sambil minum jamu, kacian deh kamu,” ledek si Aysi kepada Indie. ”Aduh..kalian ini selalu dan selalu saja meledek Indie, mendingan lo.. lo.. semua main tebak-tebakkan sama gue,pasti ggak bakalan bete”. Saran Mery yang semangat, merekapun tanpa pikir panjang langsung main tebak-tebakkan sambil jalan menuju ke rumah mereka masing-masing. Mery pun memberi pertanyaan di sepanjang jalan. ”Ni ya, kenapa tukang bakso kalo dangang suka mukul piringnya?” Aysi tidak mau kalah, langsung menjawab. “Ya iyalah, nggak mungkin kan dia mukulin bedug, ntar di sangka lebaran lagi”, jawab Indie. ”Nah itu baru benar, tumben lo bisa jawab teka teki gue? Biasanya ngelantur”, pujinya sedikit heran. ”Ya suka-suka gue dong yang jawabkan gue bukan lo, gimana sih, secara?” ucapnya cetus. Mery, Maya dan Aysi langsung tersenyum. Mayapun ngeledek Indie, ”ya iyalah Indie nyambung soalnya udah kalah sama Bemby, sok jaim, duh kacian sohib kita ni ha..ha..!” tawanya Mery dan Aysi. Keesokkan harinya di sekolah Aysi lewat di depan kelas Bamby dan Bamby pun memanggil Aysi. ”Aysi, gue mau ngomong ama kamu, si Indie itu sudah punya coeok baru ya?”, tanya Bamby sedikit ragu. ”Ee..kayaknya nggak tau tuh.. emang kenapa Bam? Lo suka ya sama dia lagi?”, tanyanya ingin tau. “Eem, sebenarnya iya, gue suka sama dia, tapi gue ragu, ntar dia nolak gue, karena dulu gue pernah nyakitin hatinya. Lo mau ggak nolongin gue untuk bisa balikan lagi dengan Indie”, ungkap Bamby serius. ”Nggak pasti ya bisa bantu lo, masalahnya Indie itu sok jaim , tapi lo cowok yang jentelmen, gimana sih?”, singgung Aysi dan langsung meninggalkan Bamby, sementara Bamby hanya terdiam dan malu. Aysipun ke kelas dan menyamperin Indie yang lagi melamun dan mengejutkannya. ”Eh..elo Ay, ngejutin aja!!”, ucapnya sinis. ”Maap deh maap, abisnya sih, pag-pagi buta gini lo melamun, ntar kesambet lo!”, ucapnya ledekin Indie dan sambil tersemyum. ”Ee..iya gue lupa, In, sebenarnya Bamby suka sama lo lagi, apa lo bakalan terima dia?” tanya Aysi serius. “Eee.. iya nggaklah. Gue ggak bakalan terima dia, tau sendirilah dia itu kan? Ay, maksud lo apaan sih? Lo itu bukan kasih saran ke gue, tapi lo?”, sambil menangis dan menahan emosinya dan meninggalkan Aysi. Aysi tidak sempat mengejar Indie dan berbicara sebentar. ”In, lo jangan salah paham dulu, maksud gue itu, gue nggak mau lo disakitin sama Bamby, ntar mentang-mentang dia abang kelas kita, dia seenaknya nyakitin lo, mempermainkan lo sesuka hatinya aja”, jelas Aysi kepada Indie. Love Miss Jaim Indie pun hanya terdiam dan menahan tangisannya dan melepaskan tangannnya dari Aysi. Mery dan Maya pun mendatangi Aysi. ”Lo apain Indie Ay, kok tampang Indie sedih dan muram begitu setelah ngomong sama lo tadi,” tanya Maya dan Meri. ”Ya habisnya gue kesal banget sama dia, gue udah tau kok kalau Indie tadi itu tersinggung dan dia juga pernah bilang ke gue kalau dia benci, nggak suka sama Bamby yang katanya jelek, culun, kurus tinggi”, aku Aysi. Sambil mengahapus air mata Indie dan teman-temannya berjalan ke kelas. Tanpa disadari teman-teman Indie dan teman-teman Bamby asik bercakap-cakap di depan kelas Indie. Sebelum Indie tambah malu, Indie pun mengambil jalan mundur tujuh langkah, sewaktu Indie melangkah tiba-tiba seseorang memegang bahunya dan Indie pun terkejut dan langsung berbalik arah. Ternyata yang memegang bahunya adalah Bamby. Indie bingung dan pura-pura mengaruk kepalanya dan berkata dalam hati ”duh kenapa tambah gawat aja ini? mimpi apa ya gue tadi malam?”. Tanpa pikir panjang Indie berlari dan cengar cengir, spontan Bamby memanggil Indie, ”Indie tunggu dulu”. Indie pun balik ke tempat tadi, ”ada apa?” dengan muka jaim dan sedikit grogi. ”Ee..gue udah tau kok semua sikap lo ke gue,” ucapnya salah tingkah. ”Ee.. beb... emmm kita basic to basic aja? sorry banget gue udah?” ungkap Indie sedikit kacau (berkata) terbata-bata dan Bamby pun memotong pembicaraan Indie dan menggodanya. ”Mau jadi Miss jaim lagi nih ceritanya? “What?” jawab Indie memalingkan mukanya. ”Gue tunggu ya di gerbang, Bye miss jaim”, kata Bamby dengan ceria sambil melambaikan tangannya dan mengedipkan matanya. Dalam hati Bamby mengatakan” peaces.. peaces...” sambil mengacungkan jari lima tangannnya. Indie pun berdiri terpaku menatap punggung Bemby yang semakin jauh. ”Ini bukan mimpi kan? Bamby dia....? sambil tersenyum dan melanjutkan langhkahnya menuju kelas dan tidak berhenti tersenyum, merasa keajaiban ini. ”Terima kasih tuhan”, ungkap Indie dalam hati. -------------------------------- Cerpen bertema Cinta ini Karya: Iska Gabrilla Vina Lita, Kelas xI Tekinik Kimia 1 SMKN 2 Pekanbaru. Baca juga Cerpen Remaja - Gita atau Cerpen Penyesalan Cinta.  BY.M KUNTA FADELA